Isu Kudeta Partai Demokrat
Sri Mulyono Sebut SBY yang Bunuh Demokrasi di Demokrat: Mengondisikan Aklamasi AHY Calon Tunggal
Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Sri Mulyono ikut tanggapi persoalan di Partai Demokrat.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
"Di situ disebutkan, kurang lebih, ketua majelis tinggi adalah ketua umum Partai Demokrat periode 2015/2020, yaitu Pak SBY," papar dia.
"Wakil ketua majelis tinggi berikutnya, 2020/2025 adalah ketua umum Partai Demokrat 2020/2025. Jadi Pak SBY sudah membuat sistem sendiri bahwa ya dia anaknya, dia anaknya terus."
"Inilah yang membuat kader-kader senior prihatin dengan Demokrat," pungkasnya.
Simak videonya mulai menit ke- 51.30:
Ruhut Sitompul Ungkap Alasan Keluar dari Demokrat
Dalam kesempatan sama, Politisi PDI Perjuangan, Ruhut Sitompul mengungkapkan alasannya keluar dari Partai Demokrat.
Dilansir TribunWow.com, Ruhut mengatakan bahwa alasanya keluar dari Demokrat tidak terlepas dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017.
Hal itu disampaikannya dalam kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Kamis (11/3/2021).
Baca juga: Bahas Kudeta, Ruhut Wanti-wanti Demokrat soal Jhoni Allen: Udah Berdarah-darah, Jangan Dirasanin
Dalam kesempatan itu, Ruhut mulanya mengaku sedih melihat kondisi yang terjadi di tubuh Partai Demokrat saat ini, yakni terkait dualisme kepemimpinan.
Meski sudah menjadi kader PDIP, Ruhut mengaku bangga pernah berada di Partai Demokrat.
"Saya sedih bahkan saya pernah bicara dengan lantang, Demokrat bukan partai pertama, tapi partai yang terakhir bagi saya," ujar Ruhut.
Hanya saja, karena ada persoalan perbedaan dengan Partai Demokrat, dengan berat hati ia memutuskan untuk keluar dari partai berlambang bintang mercy tersebut.
"Tapi dengan berat hati, sebenarnya kalau saya dulu keluar kaitan dengan Pilgub Jakarta," ungkapnya.
"Saya apapun aturan organisasi dalam hal ini AD/ART, saya orang yang sangat loyal."
Ia mengakui tidak mendukung calon yang dijagokan oleh Partai Demokrat di Pilgub DKI 2017.