Isu Kudeta Partai Demokrat
Sebut Demokrat Makin Jago Pencitraan setelah Ditinggalkannya, Ruhut Sitompul: Ngeri, Surati Presiden
Politikus PDIP Ruhut Sitompul membandingkan situasi Partai Demokrat saat ini dengan dulu semasa ia masih menjadi anggota.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Politikus PDIP Ruhut Sitompul membandingkan situasi Partai Demokrat saat ini dengan dulu semasa ia masih menjadi anggota.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Dua Sisi di TvOne, Kamis (4/3/2021).
Diketahui, kini Demokrat tengah diterpa isu kudeta kekuasaan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang disebut-sebut melibatkan pihak luar.

Baca juga: 15 Tahun Kenal SBY, Pendiri Demokrat Ungkap Alasannya Bungkam Tak Pernah Protes: Sudah Maklum
Menurut Ruhut, Demokrat memang tampak tengah terpuruk saat ini dan berupaya mencari elektabilitasnya lagi.
"Jadi jujur saja, sekarang jago banget Demokrat setelah saya tinggalkan," komentar Ruhut Sitompul.
"Ya, rada terpuruk, mau cari pencitraan," lanjut dia.
Ia menyinggung tindakan AHY yang melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait isu kudeta dalam tubuh Demokrat.
Pasalnya upaya kudeta itu disebut-sebut melibatkan pejabat tinggi negara, yakni Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko.
AHY beralasan pihaknya mengirim surat agar menjadi peringatan bagi Jokowi.
Menanggapi hal itu, Ruhut justru menyoroti sifat AHY dan Demokrat.
"Ngeri lho, bikin surat ke Pak Presiden (dengan alasan) 'Kami bahasanya baik'. Memang baik," kata advokat senior ini.
"Dan juga Mensesneg Pratikno tegas mengatakan itu urusan internal," lanjut dia.
Baca juga: Dipecat dari Demokrat, Tri Yulianto Beberkan Sifat SBY: Kalau Mau Nabok Orang Tidak Langsung
Selanjutnya, Ruhut menyinggung pernyataan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng yang menyebut upaya kudeta partainya seperti era Orde Baru.
Ruhut menolak apabila dikatakan seperti itu.
"Tapi selama ramai perdebatan ini, saya kasih contoh Andi Mallarangeng, 'Ini sudah mulai seperti waktu Orde Baru'," singgung Ruhut.