Habib Rizieq Shihab
Soal Pencopotan Baliho Habib Rizieq oleh TNI, Haris Azhar: Saya Khawatir seperti di Zaman Orde Baru
Pegiat HAM, Haris Azhar berikan komentar soal penurunan baliho atau spanduk terkait Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Claudia Noventa
Imbasnya dua pejabat kepolisian, yakni Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat kehilangan jabatannya.
"Ini jangan-jangan masalahnya bukan pada Rizieq Shihab, atau pada FPI, tetapi masalahanya ada pada pemerintahan sendiri," ungkapnya.
"Saya melihat polisi tidak diberdayakan pada aturan-aturan yang sepatutnya."
"Lalu memunculkan friksi sampai ada dua Kapolda diganti, lalu TNI muncul untuk menegaskan ini dan itu terutama dalam soal Rizieq Shihab," pungkasnya.
Simak videonya mulai menit ke- 2.38
Soleman Ponto Benarkan Sikap TNI
Mantan Kepala BAIS TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto tanggapi pencopotan baliho atau spanduk Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.
Sebelumnya pencopotan atau penertiban baliho Habib Rizieq oleh aparat TNI dengan tujuan untuk tidak menjadikan provokatif.
Dilansir TribunWow.com dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi, Sabtu (21/11/2020), Soleman Ponto mengaku membenarkan langkah tegas yang diambil oleh TNI.

Baca juga: Sutiyoso Sebut Belum Perlu TNI Turun Tangan soal Habib Rizieq: Mesti Mengedepankan Soft Power
Baca juga: Sutiyoso Ungkap Pengalaman Cara Perlakukan FPI dan Habib Rizieq: Sekeras Apapun Masih Bisa Didekati
Sementara itu terkait banyak pihak yang mempertanyakan hal itu bukan tugas TNI, Soleman Ponto mengaku kurang setuju.
Dirinya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh TNI lantaran sudah mendapatkan infromasi ada pergerakan yang tidak terlihat atas pemasangan baliho tersebut.
Informasi tersebut sebelumnya sudah dicium oleh para intelligent.
Disebutnya bahwa pergerakan itu tidak lain hanya untuk memecah belah bangsa.
"Kelihatannya hanya baliho, kita hanya melihat baliho, tetapi di dalam teori gunung es, yang terlihat gunung es-nya itu hanya sepertiga di permukaan, dua pertiga di bawah tidak dilihat orang-orang," ujar Soleman Ponto.
"Hanya yang melihat intelligent yang ada di belakang Pandam semua. Kalau dua pertiga ini muncul di permukaan sudah pasti bangsa ini hancur," jelasnya.