Pilpres Amerika Serikat 2020
Trump atau Biden, Capres AS yang Diinginkan Menang oleh China, Rusia, dan Iran? Ini Kata Intelijen
Debat pertama Pilpres AS antara calon petahana Presiden Donald Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden sudah digelar pada Selasa 29 September 2020.
Editor: Mohamad Yoenus
Judul artikel itu adalah "China tampaknya 'condong ke Joe Biden' dalam pemilihan presiden".
"Tentu mereka menginginkan Biden. Saya sudah mengambil miliaran dollar dari China dan memberikannya kepada petani kita dan Departemen Keuangan. China akan menguasai AS jika Biden & Hunter masuk!" Tulis Trump, merujuk pada putra Joe Biden, Hunter.
Hubungan antara China dan Amerika Serikat berada di titik rendah, yang diwarnai berbagai sengketa mulai dari virus Corona hingga penerapan undang-undang keamanan kontroversial di Hong Kong oleh China.
Joe Biden berusaha menangkis tuduhan-tuduhan dari Presiden Trump bahwa ia bersikap lunak terhadap China, berjanji untuk "bersikap tegas" terhadap hak asasi manusia dan masalah-masalah lain.
Namun Demokrat menganggap, setidaknya menyangkut pemilihan, Rusia lah yang paling agresif.
IRAN
Apa yang dikatakan oleh intelijen?
Dalam pernyataannya, Evanina mengatakan Teheran menentang periode kedua Presiden Trump, yang diyakini akan membuat "tekanan terus menerus AS terhadap Iran dalam upaya menggerakkan perubahan rezim".
Dikatakan, upaya Iran akan dipusatkan pada "pengaruh online, misalnya menyebarkan informasi keliru di media sosial dan menyirkulasikan konten anti-AS".
Tuduhan intelijen disokong Microsoft. Perusahaan teknologi informasi raksasa itu mengatakan para peretas yang punya hubungan dengan Rusia, China, dan Iran berupaya memata-matai sosok-sosok kunci dalam pemilu AS.
Soal Iran, perusahaan tersebut mengatakan sebuah kelompok Iran yang dikenal dengan sebutan Phosphorus gagal menembus akun-akun milik para pejabat Gedung Putih dan tim kampanye Trump antara Mei dan Juni tahun ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut laporan Microsoft "absurd".
"Iran tidak merisaukan siapa yang akan menduduki kursi kepresidenan di Gedung Putih," kata jubir Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh.
Sebuah laporan mengenai upaya Iran dalam menebar pengaruh awal tahun ini dari the Atlantic Council menyebut Iran fokus menggolkan agenda nasional, seperti meraih supremasi di kawasan Timur Tengah.
"Hampir semua konten yang disebarkan Iran secara digital berkaitan langsung dengan pandangannya terhadap dunia atau tujuan kebijakan luar negeri yang spesifik.
Konsekuensinya, mudah untuk mengidentifikasi operasi-operasi Iran ketimbang aktor-aktor lain seperti Rusia yang kontennya kemungkinan besar agnostik secara politik."
• Debat Perdana Capres AS Memanas, Joe Biden ke Donald Trump: Sangat Sulit Bicara dengan Badut Ini
Apa yang dikatakan kedua capres?
Iran tidak tampil terpandang dalam pemilu AS, seperti Rusia atau China, baik dalam konteks kemungkinan menebar pengaruh atau kebijakan.
Presiden Trump punya kebijakan agresif terhadap Iran, menarik mundur dari kesepakatan nuklir, serta memerintahkan pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani.
Joe Biden mengatakan kebijakan ini gagal.
Dalam tulisan editorial untuk CNN, dia mengatakan ada "cara yang cerdas untuk tegas pada Iran".
Dia berikrar untuk menekan "aktivitas-aktivitas yang mendestabilisasi" sekaligus menawarkan "jalur menuju diplomasi". (BBC)