Breaking News:

Virus Corona

Soroti PSBB di DKI Jakarta, Ahli Epidemiologi Singgung Anies Baswedan: Gubernurnya juga Euforia

Ahli Epidemiologi Pandu Riono menekankan pentingnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang efektif.

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
TERTIB - Pelaksanaan PSBB Kota Tangerang di Pintu Air 10, Jalan Sangego Raya, berlangsung tertib dan lancar, para pengendara sudah banyak yang mengenakan masker saat berkendara, Senin (20/4/2020). Petugas melakukan teguran kepada para pelanggar aturan PSBB atau yang tidak mengenakan masker. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

TRIBUNWOW.COM - Ahli Epidemiologi Pandu Riono menekankan pentingnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang efektif.

Seperti diketahui, sejumlah daerah telah menerapkan PSBB demi menghambat penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Dikutip TribunWow.com, Pandu Riono mengungkapkan pendapatnya tentang penerapan PSBB saat ini.

Pakar Epidemiologi Pandu Riono mengomentari penerapan PSBB saat ini, dalam acara Fakta, Senin (11/5/2020).
Pakar Epidemiologi Pandu Riono mengomentari penerapan PSBB saat ini, dalam acara Fakta, Senin (11/5/2020). (Capture YouTube Talk Show TvOne)

Kucing-kucingan saat PSBB, Pemudik Bayar Rp 160 Ribu dan Terima Risiko: Orang Pengen Balik Kok

"Sebagian sesuai. Sebagian besar tidak," kata Pandu Riono dalam acara Fakta di TvOne, Senin (11/5/2020).

Ia menyebutkan di DKI Jakarta sendiri orang sudah cukup patuh dengan aturan PSBB.

"PSBB itu tadinya meningkat di DKI Jakarta, bagus. Itu ternyata penduduk yang tinggal di rumah itu meningkat menjadi hampir 60 persen," kata Pandu.

"Kemudian diikuti penurunan kasus," lanjutnya.

Pandu menilai masyarakat saat ini terlalu cepat senang dengan penurunan kasus positif di DKI Jakarta.

Sikap tersebut tidak terlepas dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Tapi kemudian karena masyarakat euforia, gubernurnya juga euforia, sehingga pembatasannya mentok di situ aja," ungkap Pandu Riono.

Menurut dia, sebetulnya PSBB dapat berperan menghambat penularan Virus Corona.

"PSBB itu kalau dilaksanakan dengan benar, dengan serius, itu akan memberikan dampak," paparnya.

"Ini banyak orang yang tadinya tidak percaya PSBB bisa memberikan dampak," lanjut dia.

Pandu menekankan pentingnya menerapkan PSBB secara nasional, bukan hanya di wilayah tertentu saja.

Wacana PSBB Selesai Juni, Pakar Epidemiologi Sebut Jangan Percaya: Perilakunya Masih Amburadul

"Yang salah adalah pembatasan sosialnya tidak berskala nasional, jadi kita hanya melihat DKI saja," kata Pandu Riono.

"Nasional itu bukan DKI," tegasnya.

Menurut Pandu Riono, di daerah lain kasus positif Virus Corona terus meningkat.

Hal itu tidak sebanding dengan kesadaran untuk segera menerapkan PSBB.

"Saya mengamati bagaimana terjadi di luar DKI secara nasional. Itu meningkat tajam," ungkap dia.

"Sedangkan pembatasan sosialnya datar saja. Tadinya naik, tapi masih di bawah sekitar 50 persenan," papar Pandu.

"Bahkan sekitar 47-48 persen kalau kita menggunakan indikator penduduk yang tinggal di rumah," lanjutnya.

Pandu menyebutkan hal ini menunjukkan upaya penanganan pandemi di Indonesia yang masih minim.

"Jadi kalau begini caranya, kita tidak bisa mengatakan bahwa Indonesia berhasil untuk mengatasi pandemi," tegas Pandu Riono.

Surabaya Dinilai Gagal Tangani Covid-19 meski Telah Menerapkan PSBB, Laila Mufidah: Banyak Evaluasi

Lihat videonya mulai dari awal:

PSBB Belum Siap Dilonggarkan Bulan Juni

Pandu Riono menanggapi wacana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang disebut dapat mulai dilonggarkan pada bulan Juni.

Dikutip TribunWow.com, hal itu ia sampaikan saat dihubungi oleh Kompas TV, Minggu (10/5/2020).

Seperti diketahui, sejumlah daerah tengah menerapkan PSBB demi menghambat penularan Virus Corona (Covid-19).

 Isu Izin Perusahaan Dicabut saat PSBB, Sandiaga Uno Kecam Pelaksanaan: Ide Bagus, Koordinasi Buruk

PSBB tersebut meliputi ditutupnya sejumlah fasilitas publik dan larangan transportasi antardaerah.

Meskipun begitu, Kementerian Koordinator Perekonomian memprediksi PSBB sudah mulai dapat dilonggarkan pada bulan Juni mendatang.

Pandu Riono sebagai pakar epidemiologi kemudian menanggapi wacana tersebut.

"Mereka tidak memodelkan," komentar Pandu Riono.

Ia kemudian mengomentari cara kajian yang dilakukan Kemenko Perekonomian.

"Kemenko Perekonomian itu menetapkan tanggal-tanggal yang mereka tetapkan sendiri," papar Pandu Riono.

"Mungkin mengandalkan pemodelan yang bisa memprediksi tanggal," lanjut dia.

Menurut Pandu Riono, meragukan hasil kajian yang dilakukan Kemenko Perekonomian hanya berbasis data mereka sendiri.

"Kalau ada pemodelan yang sampai memprediksi tanggal, jangan dipercaya karena tidak mungkin," tegas Pandu.

Pandu menilai hasil rapat internal Kemenko Perekonomian tentang skema pelonggaran PSBB tidak tepat.

Ia kemudian mengungkapkan hal-hal yang harus diperhitungkan dalam wacana pelonggaran PSBB.

Ahli epidemologi Pandu Riono menilai PSBB belum siap dilonggarkan pada bulan Juni, Minggu (10/5/2020).
Ahli epidemologi Pandu Riono menilai PSBB belum siap dilonggarkan pada bulan Juni, Minggu (10/5/2020). (Capture Youtube KompasTV)

 Isu PSBB Dilonggarkan, dr Erlina Burhan Punya Permintaan ke Jokowi: Saya Tidak Bisa Membayangkan

"Saya tidak tahu dasarnya apa, tapi sebelum dibuka harus ada memenuhi tiga indikator penting," kata Pandu Riono.

"Yaitu indikator epidemologi, bahwa ada penurunan kasus yang konsisten selama dua minggu dan terus-menerus tidak naik turun," lanjut dia.

Selain itu, ia juga menyoroti tes massal untuk memetakan kasus positif Covid-19 di masyarakat.

Menurut Pandu Riono, minimnya tes Covid-19 dapat membuat data seolah-olah tampak kasus positif menurun.

"Dibarengi dengan peningkatan testing, bukan karena testingnya yang terbatas sehingga kasusnya menurun," kata Pandu.

Ia menambahkan PSBB mulai dapat dilonggarkan jika masyarakat mulai patuh terhadap aturan kebersihan yang berlaku.

"Kedua, adanya peningkatan perilaku penduduk. Misalnya penggunaan masker meningkat, yang mencuci tangan meningkat," papar Pandu.

"Ini yang penting. Kalau dilepas, penduduknya perilakunya masih amburadul seperti sekarang itu akan membahayakan," lanjut dia. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
EpidemiologAnies BaswedanVirus CoronaJakarta
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved