Kabar Ibu Kota

Polemik Revitalisasi Monas, JJ Rizal Sebut Ali Sadikin hingga Anies Baswedan Tak Paham Visi Soekarno

Menurut Rizal, signifikansi Monas telah bergeser menjadi sebuah ruang publik yang penampilan fisiknya kerap direvisi oleh para gubernur Jakarta.

Polemik Revitalisasi Monas, JJ Rizal Sebut Ali Sadikin hingga Anies Baswedan Tak Paham Visi Soekarno
KOMPAS.com/M LUKMAN PABRIYANTO
Suasana proyek revitalisasi di Taman Sisi Selatan Monumen Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2020). Rencananya revitalisasi ini akan dibangun ruang terbuka publik yang berfungsi sebagai plaza upacara dan plaza parade. 

TRIBUNWOW.COM - Polemik revitalisasi Monumen Nasional (Monas), yang dihentikan baru-baru ini, dinilai terjadi lantaran adanya perbedaan cara pemerintah memahami fungsi Monas dibandingkan dengan visi Soekarno saat membangun monumen ikon Indonesia tersebut.

Menurut sejarawan Jakarta JJ Rizal, tugu bersejarah setinggi 132 meter tersebut sebenarnya dirancang oleh Soekarno untuk menjadi "ruang semedi" bagi masyarakat untuk memahami apa itu Indonesia.

Seiring dengan perubahan zaman, menurut Rizal, signifikansi Monas telah bergeser menjadi sebuah ruang publik yang penampilan fisiknya kerap direvisi oleh para gubernur Jakarta.

Klaim Tak Banyak Pohon Ditebang demi Revitalisasi Monas, Sekda DKI Minta Warga Sabar, Ini Alasannya

"Soekarno sebenarnya memindahkan konsep keraton Jawa, dalam hal ini tamannya. Taman di dalam keraton Jawa itu fungsinya sebagai ruang semedi, ruang berkontemplasi, ruang merekap diri, tapi sikapnya sangat feodal karena di dalam keraton," ujar JJ Rizal.

"Bung Karno mau memindahkan konsep feodal itu menjadi ruang yang sangat terbuka untuk semua orang, itu dari perspektif arsitektural ruang yang bersifat kultural," katanya.

Menurut JJ Rizal, dalam visinya, Soekarno membayangkan bahwa pengunjung Monas dapat menyaksikan garden of heroes, sebuah taman untuk mengenang pahlawan-pahlawan nasional.

Ketika masuk ke monumen, menurutnya, pengunjung dapat melihat diorama yang terdiri dari prestasi setiap generasi.

Ada juga sebuah ruang bernama ruang kemerdekaan, di mana pengunjung dapat mendengar lagu Indonesia Raya sambil melihat Bendera Pusaka, lalu naik ke puncak Monas untuk melihat luasnya Indonesia, katanya.

"Buat Bung Karno Monas itu mengajarkan pada kita, dengan pergi ke Monas kita belajar mengenal apa itu Indonesia, tapi juga ide Indonesia, jadi sangat signifikan, keributan hari ini sangat tidak signifikan dan menandakan krisis nilai, pengetahuan tentang apa itu Monas," kata JJ Rizal.

Revitalisasi Monas dari masa ke masa, menurut Rizal, menunjukkan bahwa visi Soekarno tersebut kurang dipahami oleh pemerintahan setelahnya, baik di tingkat pusat maupun provinsi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Lailatun Niqmah
Sumber: BBC Indonesia
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved