Kaleidoskop 2018
10 Hoaks Paling Berdampak Selama 2018 Versi Kominfo: Ratna Sarumpaet hingga Penyerangan Tokoh Agama
Berikut ini 10 konten terindikasi hoaks yang disebut paling berdampak selama tahun 2018. Hoaks Ratna Sarumpaet berada di urutan atas.
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Lailatun Niqmah
Setelah dikonfirmasi, didapatkan bahwa video tersebut bukan isi rekaman dari blackbox Lion Air JT610.
Video itu adalah tanggapan seseorang terkait video MAP detik-detik Lion AIr JT610 hilang kontak.
Sehingga judul konten yang tidak sesuai dengan isinya itu dapat dikategorikan sebagai konten disinformasi/Hoaks.
Adapun Black box Lion Air JT 610 ditemukan oleh Tim SAR TNI AL yang dipimpin oleh Panglima Komando Armada I Laksamana Muda Yudo Margono.
Kotak yang berisi informasi penerbangan ini ditemukan pada kedalaman 30 meter pada Kamis, 01 November 2018 pukul 10.15 WIB.
• Jadwal Pasar Murah di Jakarta 12-31 Desember, Catat Lokasinya!
6. Hoaks Telur Palsu atau Telur Plastik

Pada awal 2018 masyarakat Indonesia digegerkan oleh berita hoaks mengenai telur palsu atau telur plastik yang beredar di pasar tradisional dan supermarket.
Berbagai foto dan video terkait proses pembuatan telur palsu banyak diunggah di youtube dan media sosial.
Bahkan beberapa yang menyebarkan mengatakan bahwa telur-telur itu diproduksi dari negara Cina.
Masyarakat dibuat resah karena telur telah menjadi salah satu makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
Selain itu, isu telur plastik ini juga merugikan peternak ayam petelur dan para penjual telur.
Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri pun bergerak dan turun langsung ke lapangan guna menyikapi beredarnya berita-berita mengenai telur palsu tersebut yang ternyata hanya hoaks.
7. Hoaks Penyerangan Tokoh Agama sebagai Tanda Kebangkitan PKI
Perlu diketahui, hoaks terkait kebangkitan PKI sebenarnya bukanlah isu yang baru di Indonesia.
Namun, isu ini menjadi makin viral di tahun 2018, seiring dengan dinamika politik yang terjadi di Indonesia.
Beberapa kejadian bahkan dikaitkan dengan kebangkitan PKI.
Misalnya di awal 2018, terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai atau tokoh agama.
Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.
Namun, beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menarasikan kejadian tersebut sebagai tanda-tanda dari kebangkitan PKI.
“Isu itu menimbulkan keresahan masyarakat. Pasalnya keberadaan PKI pernah menjadi catatan sejarah kelam di Indonesia,” terang Ferdinandus.
"Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak ingin partai komunis yang telah lama dibubarkan itu bangkit kembali," sambungnya.
8. Hoaks Kartu Nikah dengan Empat Foto Istri
Baru-baru ini Kementerian Agama resmi menerbitkan kartu nikah bagi pasangan suami-istri.
Kartu nikah ini dinilai lebih efisien dan akurat.
Namun, setelah kartu nikah ini resmi diterbitkan, viral di media sosial sebuah gambar yang menunjukkan kartu nikah berwarna kuning dengan logo Kementerian Agama.
Yang menjadi ramai, dalam kartu tersebut tercantum empat kolom istri dan satu kolom suami lengkap dengan kolom nama dan tanggal pernikahan di masing-masing kolom istri.
Sebagian netizen menganggap hal tersebut hanya lelucon, namun tidak sedikit yang berspekulasi bahwa kartu tersebut adalah kartu legalitas untuk berpoligami.
Tapi, tentu konten itu adalah hoaks.
Bentuk kartu nikah yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag memiliki warna dasar hijau dengan campuran kuning.
Di bagian atas kartu bertuliskan kop Kementerian Agama.
Di bagian tengah terdapat tiga kotak, dimana dua kotak di bagian atas untuk foto pasangan pengantin, sementara kotak bagian bawah akan diisi kode batang atau barcode yang jika dipindai akan muncul data-data lengkap tentang peristiwa nikah pemiliknya.
9. Hoaks Makanan Mudah Terbakar Positif Mengandung Lilin/Plastik
Kandungan lilin atau plastik yang terdapat di produk makanan tertentu kerap kali diberitakan oleh media.
Mulai dari biskuit, kerupuk sampai pada serbuk minuman sachet.
Dalam informasi tidak benar yang beredar, dikabarkan produk-produk tersebut mudah menyala saat terkena api.
Pada awal 2018 bahkan muncul isu adanya zat berbahaya dalam serbuk sebuah merk minuman kopi sachet.
Hal itu ramai diperbincangkan setelah adanya unggahan video seseorang menebarkan serbuk kopi tersebut ke api yang membuat nyala api makin besar dan menyambar.
Video itu lantas membuat resah kalangan konsumen.
Bahkan tidak sedikit yang kemudian menggunakan teknik membakar makanan hanya untuk membuktikan adanya kadar lilin atau plastik dalam makanan tersebut.
Padahal BPOM, melalui situs resminya memberikan penjelasan bahwa isu yang beredar itu tidaklah benar.
Pasalnya, semua produk pangan yang memiliki rantai karbon (ikatan antar atom karbon) serta mengandung lemak/minyak dengan kadar air rendah, terutama yang berbentuk tipis dan berpori, seperti kerupuk, crackers, dan makanan ringan lainnya pasti akan terbakar/menyala jika disulut dengan api.
10. Hoaks Telepon Disadap dan Chat WhatsApp Dipantau Pemerintah

Pada awal 2018 beredar berita hoaks melalui broadcast message tentang pemantauan segala aktivitas pengguna ponsel oleh pemerintah.
Informasi itu menunjukkan pengguna ponsel akan disadap dan dipantau oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Aktivitas yang disebut dipantau pemerintah itu mulai dari panggilan telepon hingga media sosial.
Dalam pesan tersebut dikatakan kebijakan itu berkenaan dengan peraturan komunikasi baru dan jaringan keamanan dari BSSN.
Kemudian ditulis secara rinci apa saja yang akan dipantau oleh pemerintah mulai dari panggilan telepon, WhatsApp, hingga Facebook.
Kondisi itu lantas memunculkan pertanyaan masyarakat pengguna jejaring sosial.
Warganet merasa resah karena ruang media komunikasi yang dianggap privasi dipantau oleh pemerintah.
Namun, kabar tersebut tentunya tidaklah benar.
Menurut Plt Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, selama ini Kementerian Kominfo merilis informasi mengenai klarifikasi dan konten yang terindikasi hoaks melalui portal www.kominfo.go.id dan stophoax.id.
“Oleh karena itu, Kementerian Kominfo mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan pengecekan dan penyaringan dulu sebelum menyebarkan informasi yang belum dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya,” pungkas Ferdinandus. (TribunWow.com)