Breaking News:

Sindir Amien Rais yang Berniat Nyapres, Yusril Ihza: Pemimpin Ucapannya Nggak Boleh Munafik

- Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra menyinggung soal niatan Amien Rais yang ingin menjadi calon presiden 2019.

Penulis: Woro Seto
Editor: Woro Seto
kolase/tribunwow
Amien Rais dan Yuzril Ihza 

TRIBUNWOW.COM - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra menyinggung soal niatan Dewan Kehormatan DPP PAN, Amien Rais yang ingin menjadi calon presiden 2019.

Dilansir TribunWow.com, melalui akun Twitter @Yusrilihza_Mhd yang ia tuliskan pada Minggu (10/6/2018).

Mulanya, Yusril menuliskan haikat pemimpin.

Menurutnya, seorang pemimpin ucapannya itu tidak boleh berubah-ubah sehingga pemimpin ucapannya harus terpercaya.

Setelah itu, Yusril menyinggung Amien Rais di pertemuan 1999 yang mencalonkan Gus Dur.

Diminta Beri Tulisan Ganti Presiden di Gelang Jemaah Haji, Lukman Hakim: Duh, Politik Praktis

Namun, Yusril mengaku menolak dengan ide Amien Rais lantaran ia berpendapat tidak ingin mempermainkan seseorang untuk agenda pribadi.

Sehingga dengan pengalaman itu, Yusril menuliskan tidak ingin ikut-ikutan dnegan manuver Amien Rais.

"1. Dalam pepatah Jawa ucapan pemimpin itu adalah “sabdo pandito ratu” artinya ucapan seseorang yang kedudukannya sangat tinggi, bagai seorang pandito (guru maha bijaksana) dan seorang ratu (raja).

2. Karena itu ucapan pemimpin itu haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu akan menjadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya.

3. Karena itu pula, ucapan pemimpin itu harus lahir dari hari yang tulus, bukan kata bersayap, yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi dibelakangnya mempunyai agenda pribadi yang tersembunyi.

Pacarnya Jalani Operasi Gigi, Maxime Bouttier Berikan Kejutan Manis ini untuk Prilly Latuconsina

4. Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapannya tidak boleh “mencla mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe” artinya ucapannya berubah-ubah, inkonsisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukungnya.

5. Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka pemimpin itu tidak boleh “plintat plintut” alias “munafiqun”, dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan. Pemimpin seperti ini akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya.

6. Berpedoman kepada pepatah Jawa “sabdo pandito ratu” itu, maka sejak awal saya tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobby sana-sini, untuk untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 hadapi petahana.

7. Pengalaman, adalah guru yang paling bijak. Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, Pak Amien meyakinkan kami semua untuk mencalonkan Gus Dur. Saya dan MS Kaban menolak. Kami tidak ingin mempermainkan orang utk suatu agenda tersembunyi.

8. Tahun 2018 inipun saya tidak ingin ikut2an dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman. Saya kini Ketum Partai. Saya ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara2 yang benar pula.

3 Program Acara Ramadan Dapat Teguran Keras dari KPI Pusat

Halaman
12
Sumber: TribunWow.com
Tags:
Yusril Ihza MahendraAmien RaisCalon Presiden (Capres)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved