Maraknya Wabak Difteri, Kenali dari Gejala hingga Pencegahannya
Maraknya wabah Difteri yang menjadi momok masyarakat Indonesia membuat kita semakin waspada.
Penulis: Woro Seto
Editor: Woro Seto
Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel Anda, dokter dapat menduga Anda memiliki difteri.
Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang Anda alami.
POPULER: Kesal Karena Diputus, Pria Ini Balas Dendam dengan Cara Sebar Foto Syur Tunangannya di Facebook
Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan biopsi.
Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, apakah Anda memiliki bakteri difteri atau tidak.
Jika hasilnya postif, dokter akan meminta anda untuk menjalani rawat inap di rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah terjadi penyebaran.
Cara terbaik mencegah difteri adalah dengan vaksin. Di Indonesia, vaksin difteri biasanya diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis), sebanyak lima kali semenjak bayi berusia 2 bulan.
Menurut infoimunisasi, anak harus mendapat vaksinasi DTP lima kali pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4-6 tahun.
Untuk anak usia di atas 7 tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap.
Vaksin Td/Tdap akan melindungi terhadap tetanus, difteri, dan pertusis harus diulang setiap 10 tahun sekali. Ini juga termasuk untuk orang dewasa. (TribunWow.com/ Woro Seto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/imunisasi-cegah-difteri_20171230_121747.jpg)