Maraknya Wabak Difteri, Kenali dari Gejala hingga Pencegahannya
Maraknya wabah Difteri yang menjadi momok masyarakat Indonesia membuat kita semakin waspada.
Penulis: Woro Seto
Editor: Woro Seto
TRIBUNWOW.COM - Maraknya wabah Difteri yang menjadi momok masyarakat Indonesia membuat kita semakin waspada.
Bicara soal Difteri, merupakan gejala berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan.
Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.
Beberapa pasien juga mengalami infeksi kulit.
Bakteri penyebab penyakit ini menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain.
VIRAL: Dua Lagunya Sukses, Lesti Dangdut Academy Luncurkan Single Terbaru Berjudul Mati Gaya
Difteri banyak ditemukan di negara-negara berkembang seperti Indonesia lantaran angka vaksinasi masih rendah.
Dilansir dari hellosehat.com, Difteri disebabkan oleh Corynebacterium, yaitu bakteri yang menyebarkan penyakit melalui partikel di udara, benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi.
Jika Anda menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, Anda dapat terkena difteri. Cara ini sangat efektif untuk menyebarkan penyakit, terutama pada tempat yang ramai.
Penyebab lainnya adalah kontak dengan benda-benda pribadi yang terkontaminasi. Anda dapat terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda-benda yang membawa bakteri. Pada kasus yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan bersama, seperti handuk atau mainan.
Menyentuh luka yang terinfeksi juga dapat membuat Anda terekspos bakteri yang menyebabkan difteri.
POPULER: 4 Fakta Pembunuhan Sadis Gara-gara Jual Beli Bedak, Ternyata Pelaku Gadis di Bawah Umur
Seperti apa tanda-tanda gejala Difteri
- Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu
- Radang tenggorokan dan serak
- Pembengkakan kelenjar pada leher
- Masalah pernapasan dan saat menelan
- Cairan pada hidung, ngiler
- Demam dan menggigil
- Batuk yang keras
- Perasaan tidak nyaman
- Perubahan pada penglihatan
- Bicara yang melantur
- Tanda-tanda shock, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat.
Lantas, bagaimana dokter akan mendiagnosis Difteri?
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya pembengkakan pada kelenjar limfa.
Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel Anda, dokter dapat menduga Anda memiliki difteri.
Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang Anda alami.
POPULER: Kesal Karena Diputus, Pria Ini Balas Dendam dengan Cara Sebar Foto Syur Tunangannya di Facebook
Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan biopsi.
Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, apakah Anda memiliki bakteri difteri atau tidak.
Jika hasilnya postif, dokter akan meminta anda untuk menjalani rawat inap di rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah terjadi penyebaran.
Cara terbaik mencegah difteri adalah dengan vaksin. Di Indonesia, vaksin difteri biasanya diberikan lewat imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis), sebanyak lima kali semenjak bayi berusia 2 bulan.
Menurut infoimunisasi, anak harus mendapat vaksinasi DTP lima kali pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4-6 tahun.
Untuk anak usia di atas 7 tahun diberikan vaksinasi Td atau Tdap.
Vaksin Td/Tdap akan melindungi terhadap tetanus, difteri, dan pertusis harus diulang setiap 10 tahun sekali. Ini juga termasuk untuk orang dewasa. (TribunWow.com/ Woro Seto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/imunisasi-cegah-difteri_20171230_121747.jpg)