Breaking News:

Jelang Musim Politik 2019 Masyarakat Gunungkidul Diajak Kritis Temukan Pemimpin Relevan

Meskipun suksesi negeri masih setahun lagi gelagat politik sejumlah tokoh dan partai politik sudah mulai bermunculan.

Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
IST
Masyarakat Gunungkidul dalam diskusi kepemimpinan relevan 

Mewakili pandangan gereja katolik, Romo Sapto Nugraha, Pr, menyatakan, para pendiri bangsa Indoensia telah menanamkan keluhuran ruh yang tertuang dalam sasanti Bhinneka Tunggal Ika dijiwai ruh Pancasila karena melihat kenyataan Indonesia negara yang majemuk danterdiri dakri banyak suku rasa dan kepercayaan atau agama.

Untuk itulah, Romo Sapto menilai kepemimpinan yang relavan untuk kondisi saat ini merupakan pribadi yang benar-benar mampu menghargai perbedaan yang nyata serta pribadi yang memiliki sikap hidup inklusif dan toleran.

Ia benrpesan, masyarakat Gunungkidul mulai cerdas dan cermat menyikapi calon pemimpin yang mulai bermunnculan sekadar memoles citra demi menginginkan kekuasaan.

Ia menyatakan, sosok kepemimpinan yang konsistensi dengan sikap kenegarawanannya menjajdi pemimpin yang dibutuhkan baik tingkat pusat maupun daerah saat ini.

“Kita bersama harus mulai sadar negara ini dasarnya pancasila bukan yang lain. Negara ini ingin menyejahterakan rakyatnya. Kita semua harus belajar menjadi memimpin itu juga cerdas bisa menemukan pemimpin yang sudah terbukti kerjanya menyejahterakan rakyat. Tidak sekedar menemukan orang yang punya modal dengan cara kotor bagi-bagi amplop ingin berkuasa,” kata romo mengajak masyarakat kritis menguji kejujuran setiap calon pemimpin yang mulai tampil di Gunungkidul.

Dalam kesmeatan itu, pegiat kerukunan umat Hindu, Bayu Pratama, menyatakan pendapatnya kepemimpin yang relevan mereka yang mampu melihat Indoensia sebagai negara besar bukan hanya potensi sumber daya alam saja, melainkan potensi potensi sumberdana manusia dan keberagamannya.

Menurutnya, pemimpin masa depan hendaknya mampu menjawab kebutuhan mengelola keberagaman dan ragam potensinya.

Bayu menjelaskan, pandangan iman akan Hindu, pemimpin yang dibutuhkan yang mampu mengaplikasikan nilai-nilai TAT TWAN ASI yakni Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku, selain Tri Hita Karana atau konsep ajaran untuk menjaga keselarasan dan hidup sesama dalam kemajemukan manusia dengan Tuhan dan alam semesta.

“Dengan dua konsep itu siapapun pemimpin akan menemukan keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya sembari menyinggung perlunya watak pemimpin setia mengimplemntasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Sementara itu, pandangan gereja kristen diungkapkan Pendeta GKJ Wonosari, Dwi Wahyu Prasetya, menyatakan, dasar ajaran kristen melihat pemimpin sebagai pelayan.

Menurutnya, pemimpin yang telah kehilangan sifat melayani, hanya gemar pencitraan, tidak merakyat bukanlah pemimpin yang relevan.

Wahtu menyebut, “Yesus mengatakan bahwa siapa yang mau menjadi pemimpin harus mau jadi pelayan. Tentunya pelayanan hanya untuk hal-hal yang baik dan positif,” kata pendeta gencar melestarikan gerakan sapa aruh dan gotong royong. Ia juga menyebut pemimpin yang remesep, remasuk dan rumangsa paling dibutuhkan rakyat saat ini.

Pandangan umat Budha tentang kepemimpinan relevan juga diungkapkan tokoh muda Bondet Wijaya.

Ia mengingatkan, ajaran Budha memberikan kebebasan mutlak dan utuh kepada umat untuk menentukan segala hal.

Tetapi, imbuh Bondet, kebebasan tersebut juga harus mencakup kebebasan diri dalam berkarya dan beribadah yang harus terlindungi negara.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Tags:
WonosariGunungkidulAminudin Aziz
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved