Breaking News:

Fakta Unik Sastrawan Legendaris Gerson Poyk yang Tak Banyak Diketahui!

Belum banyak orang yang mengenal dan mengetahui sosok dari Gerson Poyk dan sepak terjangnya di dunia sastra Indonesia.

Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Tinwarotul Fatonah
Gerson Poyk 

Selain dimuat di Sinar Harapan, liputannya juga pernah dimuat di sejumlah surat kabar nasional lainnya.

Lepas dari Sinar Harapan, Gerson Poyk medapat beasiswa International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat selama dua tahun.

Cukup banyak perhargaan yang pernah diterimanya, antara lain, Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia, dua kali berturut-turut meraih Adinegoro di tahun 1985 dan 1986, sebuah penghargaan bagi para wartawan Indonesia.

Ia juga perna menerima penghargaan sebagai sastrawan ASEAN, SEA Write Award (Penghargaan Penulis Asia Tenggara), serta Harian Kompas pernah memberikan hadiah 'Lifetime Achievement Arward' atas jasa-jasanya sebagai sastrawan dan wartawan Indonesia.

Pria yang menikah dengan Agustine Antoineta Saba pada tahun 1960 dan mempunyai lima anak itu telah menghasilkan sekitar 100 buku sastra, terdiri dari kumpulan puisi, cerpen, dan novelis.

Gerson sastrawan sekaligus wartawan yang idealis.

Memiliki prinsip yang kuat untuk membela kebernaran dan liputan-liputannya pun menunjukkan keberpihakannya pada rakyat dan upaya-upaya membela negara.

Dalam menulis, Gerson sering mengambil setting petualangan.

Ia pernah mengatakan bahwa alam terbuka di Nusa Tenggara Timur sering menjadi latar belakang kisahnya, ia sering mengolah kembali latar belakang tersebut hingga menghasilkan naskah yang menarik.

Pada tanggal 25 Juni 2016, menjadi peluncuran kumpulan puisinya yang terakhir berjudul 'Dari Rote Ke Iowa' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Baca: Gerson Poyk Tutup Usia, Inilah Penghormatan Terakhir Goenawan Mohamad

Peluncuran kumpulan puisi tersebut sekaligus memperingati ulang tahunnya yang ke 85.

Kumpulan puisi tersebut adalah kumpulan puisi pilihannya sejak pertama menulis pada tahun 50'an.

Karya-karyanya yang terkenal antara lain seperti 'Hari-Hari Pertama' (1968), 'Sang Guru' (1971), 'Cumbuan Sabana' (1979), 'Giring-Giring' (1982), 'Matias Akankari' (1975), 'Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk' (1975) dan masih banyak lagi.

Ada satu fakta menarik mengenai Gerson Poyk ini ketika tim TribunWow.com menghubungi salah satu inisiator pembuatan petisi mengenai pemakaman Gerson Poyk di makam pahlawan.

Elcid Li dari Forum Academia NTT mengatakan bahwa sosok Gerson Poyk ini sejak muda hingga akhir hayatnya tidak memiliki rekening bank sama sekali.

Gerson lebih suka memberikan uang tunai secara langsung dibandingkan harus transfer melalui bank. (TribunWow.com/ Natalia Bulan Retno Palupi)

Sumber: TribunWow.com
Halaman 2/2
Tags:
Gerson PoykSastrawan LegendarisKupangNusa Tenggara Timur (NTT)
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved