Breaking News:

Terkini Nasional

Ketika Baitullah Sudah Memanggil: Tukang Gali Kubur, Bakso Bakar hingga Batu Bisa Naik Haji

Bukti nyata ketika baitullah sudah memanggil, tukang gali kubur, bakso bakar hingga batu bisa naik haji.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
HO TribunWow.com
Sosok tukang bakso bakar asal Dibal Boyolali, Lukman Busra ketika tengah menunaikan ibadah haji pada Juni 2024 lalu. 

"Saya buka rekening pada bulan Maret tahun 2012 , lalu saya bertanya kepada petugas haji, di salah satu bank syariah di Solo. Saya tanya terkait program talangan haji."

"Waktu itu saya hanya membawa uang Rp2 juta, lalu petugasnya berkata kalau ingin ikut program talangan haji saldo rekeningnya harus ada Rp5 juta."

"Kurangan itu lalu saya kejar dari Rp 2 juta sampai akhirnya terkumpul Rp5 juta, dan akhirnya bulan Mei 2012 bisa terkumpul sebanyak Rp5 juta dan bisa langsung ikut program talangan haji," ungkap pria berusia 47 tahun itu.

Lebih lanjut, Hantoro menceritakan bagaimana perjuangan peluhnya sampai akhirnya bisa pergi ke tanah suci bulan Juni 2024 lalu.

Dengan meneteskan air mata, Hantoro membeberkan kisahnya yang sampai harus terseok-seok selama 3 tahun demi merealisasikan cita-citanya pergi ke baitullah.

Dalam 3 tahun itu, Hantoro hanya bisa menyisihkan rata-rata uang pendapatan di angka Rp250 ribu.

Pendapatannya yang hanya sebesar Rp960 ribu satu bulan sudah terpotong Rp 625 ribu untuk setoran rutin ke program talangan haji.

"Wah itu kalau prosesnya, bisa dikatakan hidup saya harus terseok-seok seperti itu, ya semua juga tau kan, kalau tukang batu itu gajinya berapa, waktu itu kan gajinya kalau tidak salah kalau seminggu full masuk terus 6 hari dikali 4 yang satu bulan Rp960 ribu, itu kalau full."

"Sedangkan pada kenyataannya, tukang batu kan sering istirahat jadi cuma 5 atau 4 hari kerja itu pun kepotong untuk ikut talangan haji Rp 625 ribu jadi bersihnya bisa tinggal Rp250-an ribu," ucap Hantoro sembari tak kuasa menahan air matanya.

Dengan uang kisaran Rp250 ribu itulah Hantoro coba penuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya selama 3 tahun.

Belum ditambah pengeluaran tak terduga semisal ada hajatan tetangga atau kebutuhan lainnya.

Meski begitu, Hantoro mengaku tak pernah merasa putus asa.

Ia meyakini, bantuan Allah untuknya pasti ada sehingga tekadnya untuk haji tak pernah padam meski harus hidup mepet dan terseok-seok.

"Uang Rp250 ribu itu untuk hidup sebulan istri dan anak, itu benar-benar terseok-seok dalam artian seperti itu, tapi ya saya yakin ini janjinya Allah itu tidak berbohong, kalau kita melihat Allah pasti Allah akan membantu saya seperti itu janji Allah dan itu saya jadikan pedoman saya, jadi ya saya bismillah saja."

"Kalau ada uang sisa ya saya menabung kalau tidak ada ya tidak bisa menabung, dan kalau ada tetangga punya hajat ya tidak bisa menabung, kan harus jagong dan sebagainya itu ya jadi mau tidak mau ya harus pandai mengolah uang yang nominalnya Rp250 ribu untuk kehidupan sehari-hari itu selama 3 tahun," ungkapnya.

Dengan sisa hasil pendapatannya, Hantoro pun sampai tak mampu untuk membelikan baju baru anaknya pada momen lebaran selama dua tahun.

Hanya untuk membelikan mie ayam keluarganya saja, Hantoro sampai tak bisa untuk merealisasikannya.

"Saya ikut program talangan haji 3 tahun,saat itu ditanya petugas hajinya mau yang 3, 2  atau 1 tahun, nah saya memilih yang 3 tahun itu, benar-benar perjuangannya untuk naik haji itu tidak semudah itu, masalahnya saya harus sampai selama 2 tahun itu anak saya sampai tidak saya belikan baju lebaran, ya masalahnya mau ngga mau ya harus begitu, sampai beli mie ayam saja sampai Ya Allah, anakku ingin mie ayam saja saya ya hanya bisa nanti-nanti, tapi ya kembali lagi itu adalah perjuangan supaya bisa haji," ungkapnya seraya menghela nafas saat mengingat perjuangannya dahulu.

Di sisi lain, Hantoro menjelaskan manfaat dari program talangan haji yang ia ikuti.

"Untuk mudahnya saya artikan, talangan haji itu untuk menyegel angka tahun jadi kalau saya Mei tahun 2012 itu saya kan langsung dapat tahun 2024, jadi hanya sekedar ambil tahun keberangkatannya saja belum dengan pelunasannya," jelas Hantoro.

Mengingat, di tahun 2024, Ongkos Naik Haji (ONH) atau biaya haji mencapai angka Rp 58 juta.

"Masih terus dan itu kan belum ONH, ONH kemarin 2024 kalau tidak salah Rp58 juta, jadi sisa antara Rp25 juta sampai 58 juta itu kita mengangsur sendiri, jadi talangan Rp25 juta itu cuma supaya kita menyegel tahun haji saja," ungkapnya.

Untuk mensiasati kekurangan itu, Hantoro memutuskan untuk menabung uang sisanya di rumah.

Sebagian lainnya ia tabungkan di bank.

Namun, program nabung yang ia canangkan itu acap kali tak bisa dilakukan karena adanya kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi.

"Seperti yang saya sampaikan tadi kalau ada uang sisa ya saya tabung, kadang saya tabung dirumah, saya masukkan ke bank, kadang kalau ketabrak kebutuhan ya saya mau tidak mau ya saya tidak menabung," bebernya.

Selain itu, Hantoro juga turut berpesan kepada jemaah yang memiliki latar belakang ekonomi sepertinya untuk tak putus asa jika memiliki keinginan untuk bisa naik haji.

Hantoro mengungkapkan, haji itu bukan hanya bisa dilakukan oleh orang kaya semata.

Menurutnya, semua bisa haji asalkan memiliki niat dan usaha dalam mewujudkannya.

"Ketika pengajian diterangkan bahwa pahala haji kan besar-besar semua, kan itu semua orang bisa melaksanakan asalkan punya niat dan punya usaha, jadi dalam pikiran saya ya haji tidak hanya untuk orang kaya. Nah itu saya tanam didalam hati saya, orang kaya itu belum tentu mau naik haji belum tentu dia itu bersungguh-sungguh berusaha untuk naik haji, makanya saya ya sudah bismillah saja, ini urusannya gusti Allah nah ternyata ya ada jalan dan dipanggil," pungkasnya.

Bukti Nyata BPKH RI Ada untuk Para Jemaah Haji

POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026).
POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026). (Laman Resmi BPKH RI)

Bukti kinerja nyata bukan sekadar janji BPKH RI disampaikan oleh putri dari Temon Kartosoemito, Triyem.

Triyem mengungkapkan, proses haji dirinya dan sang ayah sempat mengalami beberapa kendala administrasi.

Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait turut berikan pelayanan baik sehingga kerap dimudahkan atau dibantu terkait proses administrasi.

Adanya beberapa kendala administrasi tak terlepas dari pergantian atau alih kursi slot kuota haji dari almarhumah ibunda ke Triyem.

“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.

Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.

“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.

Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.

“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa  pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.

Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.

Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.

“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.

Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.

Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.

“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”

“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.

Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.

“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” bebernya.

Komitmen BPKH RI Bantu Jemaah Haji Melalui Program Living Cost

Demi komitmen beri ketenangan lebih bagi jemaah haji, BPKH RI salurkan penyaluran living cost sebagai implementasi dari nilai manfaat dana haji.

Penyaluran living cost (biaya hidup-red) untuk jemaah haji merupakan bentuk dukungan nyata agar jemaah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya selama berada di Tanah Suci.

Adanya dukungan ini diharapkan bisa menghadirkan ketenangan sehingga jemaah bisa menjalankan prosesi ibadah haji dengan lebih khusyuk.

Momentum pelepasan jemaah haji kloter empat di Embarkasi Surabaya menjadi satu di antara penanda perjalanan ibadah haji tahun 1447 H/2026.

Momen itu juga jadi ajang kesiapan layanan termasuk dukungan pembiayaan bagi jemaah jadi bagian penting untuk memastikan kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Anggota Badan Pelaksana BPKH, Hary Alexander turut menjelaskan terkait penyaluran nilai manfaat dana haji yang tak cuma berfokus pada aspek pengelolaan saja.

Melainkan juga pada kebermanfaatan yang langsung bisa dirasakan oleh jemaah.

“BPKH memastikan nilai manfaat dari pengelolaan dana haji dapat kembali kepada jemaah, salah satunya melalui pemberian biaya hidup yang mendukung kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci,” ujarnya dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH RI, Rabu (29/4/2026).

Adanya penyaluran living coast ini merupakan bentuk dari sinergitas antara BPKH dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Kolabrasi ini diharapkan bisa menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari aspek pembiayaan hingga pelaksanaan ibadah.

Sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana haji, BPKH terus berupaya menjaga amanah pengelolaan dana secara profesional, transparan dan berbasis pada prinsip syariah.

Optimalisasi nilai manfaat ini bentuk komitmen BPKH untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi jemaah dalam setiap tahap dalam perjalanan ibadah haji.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

 

 

Sumber: TribunWow.com
Halaman 4/4
Tags:
Ibadah HajiHajiBadan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH)
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved