Breaking News:

Terkini Nasional

Ketika Baitullah Sudah Memanggil: Tukang Gali Kubur, Bakso Bakar hingga Batu Bisa Naik Haji

Bukti nyata ketika baitullah sudah memanggil, tukang gali kubur, bakso bakar hingga batu bisa naik haji.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
HO TribunWow.com
Sosok tukang bakso bakar asal Dibal Boyolali, Lukman Busra ketika tengah menunaikan ibadah haji pada Juni 2024 lalu. 

TRIBUNWOW.COM - Bekerja dari pagi hingga sore hari jadi rutinitas tak terelakan tiga pejuang nafkah yang bekerja sebagai tukung gali kubur, bakso bakar dan tukang batu di Karesidenan Solo ini.

Dari terbit matahari, panasnya siang hari hingga hujan yang sewaktu-waktu mengguyur tak ubahnya menjadi keseharian yang sudah biasa dirasakan.

Semua dilakukan, demi menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga.

Di tengah kondisi serba pas-pasan, panggilan hati untuk ke baitullah buat ketiganya memantapkan diri untuk bisa berangkat haji.

Namun tak disangka, anggapan banyak orang yang skeptis dengan kemampuan penghasilan ketiganya, akhirnya bisa terbantahkan.

Banyak yang beranggapan, menunaikan rukun Islam kelima hanya untuk kalangan berada semata.

Besarnya biaya yang dikeluarkan jadi dasar stigma itu meluas di kalangan masyarakat.

Namun, tiga kisah inspiratif ini membuktikan, jika status pekerjaan tak halangi kemampuan mereka untuk bisa menunaikan haji.

Tukang Gali Kubur-Kuli Bangunan Bisa Naik Haji

POTRET TEMON - Momen Temon sedang bekerja menjadi kuli bangunan.
POTRET TEMON - Momen Temon sedang bekerja menjadi kuli bangunan. (HO/TribunWow/Adi Manggala Saputro)

Bukti nyata ketika panggilan baitullah sudah memanggil, maka kun fayakun semua bisa terjadi ada pada sosok inspiratif bernama Temon Kartosoemito.

Temon menceritakan perjuangannya dalam mencari nafkah sebagai tukang gali kubur.

Menurutnya, upah yang didapatkannya pun kadang tak langsung diberikan.

Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.

 “Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).

Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.

Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.

Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.

“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.

Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.

Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.

“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.

Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.

“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.

Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.

Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.

Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.

“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”

“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.

Tukang Bakso Bakar Bisa Naik Haji

 

Sosok Tukang Bakso Bakar asal Dibal, Boyolali, Jawa Tengah, saat tengah membakar bakso pesanan pembeli.
Sosok Tukang Bakso Bakar asal Dibal, Boyolali, Jawa Tengah, saat tengah membakar bakso pesanan pembeli, Rabu (30/11/2024).. (HO TribunWow.com)

Kedua, ada tukang bakso bakar bernama Lukman Busra.

Tak banyak yang menyangka seorang tukang bakso bakar bisa menunaikan ibadah haji yang diketahui menelan biaya cukup besar.

Berkat tekad dan perjuangan Lukman, pesimistis banyak orang itu terbantahkan.

Semua bermula dari mimpi Lukman sejak kecil yang sangat menginginkan bisa pergi ke tanah suci.

Di mana, sejak kecil, Lukman kerap melafalkan doa haji yang membuat tekadnya semakin bulat untuk bisa merealisasikan keinginannya itu.

Dikit demi sedikit, laba dari hasilnya berjualan bakso bakar ditabungkan.

Nominalnya memang tak seberapa, namun, berkat ketekunannya menabung itu lah Lukman bisa merealisasikan keinginan masa kecilnya pada Juni 2024 lalu.

"Untuk ibadah haji, alhamdulilah saya berkesempatan untuk beribadah ke tanah suci berkat bantuan dari Allah."

 "Jalannya sampai bisa ibadah haji itu ya dari cita-cita semasa kecil,  saat itu di TPA saya sudah diajari doa haji, jadi doanya itu 'Allahumma ballighna Makkata wal Madiinata wal 'Arafata wa Ruzqnal hajjal mabruuro wardha 'anna wahgfirlanaa warhamnaa Anta Maulaana fanshurnaa 'Alal qoumil Kaafiriina, nah doa itu saya panjatkan terus sampai sekarang ini."

"Dan akhirnya, alhamdulilah kini benar-benar terlaksana, meski hanya dengan berjualan bakso bakar, Allah menolong saya, setiap habis berjualan, saya upayakan bisa menyisihkan Rp 50-100 ribu," ungkapnya lagi kepada TribunWow.com, Senin (21/4/2026).

Lukman juga menceritakan awal mula dirinya mendaftarkan haji di tahun 2013 lalu.

"Setelah bakso bakar booming, namanya rezeki mungkin ini jalan saya untuk haji, saya langsung mendaftar untuk kursi haji, setelah mendaftar, tinggal menunggu, nah menunggu itu juga sembari mengumpulkan uang untuk haji, karena kan haji itu panggilan khusus dari Allah, kalau kita tidak berusaha ya tidak mungkin, dan juga haji itu kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit," lanjutnya.

Keberhasilannya menunaikan ibadah haji di usia yang terbilang muda membuat Lukman sampai saat ini masih merasa tak menyangka.

"Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak semua umat islam bisa melaksanakan ibadah haji."

"Di tahun 2024 ini jumlah jamaah haji terbilang jadi yang terbanyak sepanjang masa. Jadi, saat menunaikan ibadah haji, saya bertemu dengan banyak jamaah yang pastinya menguras fisiknya karena saling berdesakan," ucap Lukman.

Di sisi lain, Lukman merasa terkesan dengan fasilitas haji yang sudah disiapkan pemerintah Indonesia.

Baik dari segi fasilitas maupun sampai dengan pelayanan administrasinya.

"Untuk fasilitas baik, untuk pelaksanaan ibadah haji Indonesia itu sudah baik jadi ya tinggal dilaksanakan dengan baik dan pelayanannya juga sudah bagus," bebernya.

Lebih lanjut, Lukman menceritakan, perjuangan beratnya menunaikan rukun dan syarat haji di tanah suci.

Paling terasa yakni cuaca ekstrem yang mencapai 50 sampai dengan 53 derajat.

"Cerita yang paling luar biasa itu pas pelaksanaan haji namanya Armuzna, pas puncaknya haji, ketika itu saya bersama satu rombongan haji melaksanakan ibadah haji dengan jalan kaki, jadi tidak ikut dalam rombongan bis, pada waktu itu di Arafah itu suhunya mencapai 50 derajat sampai dengan 53 derajat dan waktu itu hanya di tenda biasa seperti haji backpacker tapi kita resmi."

"Kita ikut jalan kaki karena secara fisik ya masih mampu untuk berjalan kaki. Saat itu, keadaannya memang sangat berat dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun Alhamdulilah, atas pertolongan dari Allah, kami akhirnya kuat untuk berjalan dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina," ungkap Lukman.

Tak cuma itu, Lukman juga memiliki pengalaman mengesankan saat melakukan proses lempar jumrah dan ibadah di Masjidil Haram.

"Lempar jumrah itu juga sangat berkesan dan jadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan, karena saat itu ikut berjalan kaki serentak dengan semua umat Islam di dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Begitu juga ketika ibadah di Masjidil Haram, bertemu dengan banyak orang luar," lanjutnya.

Rupanya, ada satu alasan di balik keinginan Lukman untuk berjalan kaki dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina ketimbang turut serta naik bis.

Lukman dkk saat itu memutuskan untuk berjalan kaki agar bisa mengenang tapak tilas perjuangan para nabi.

Padahal, secara jarak tempuh, Lukman dan rekan-rekannya harus berjalan sejauh 30 km atau harus menempuh waktu 2 hari lamanya mulai dari tanggal 8 sampai dengan malam ke-9 Arafah.

"Alasannya jalan kaki karena kita ingin mengikuti tapak tilas nabi, itu bisa dilakukan cuma dengan berjalan kaki, kalau pakai bus sudah berbeda rutenya, jarak tempuhnya antara 30 km dan dikerjakan selama 2 hari, dari tanggal 8 sampai malam ke 9 Arafah, dan tanggal 9 Arafah itu sudah harus disana, jadi setelah itu terus berjalan ke Musdalifah lalu berjalan ke Mina lagi," ucapnya.

Lebih lanjut,  Lukman juga turut memberikan saran dan pesan kepada para pelaku UMKM sepertinya dan juga para generasi muda agar berani mengambil keputusan menjalani ibadah haji sesegera mungkin.

"Kesabaran terutama masalah ekonomi, saya kan berjualan tidak pasti, terkadang ramai terkadang sepi, kalau ramai kita menyisihkan uang agak banyak, kalau sepi ya sedikit kita menyisihkan dan kita syukuri. Serta jangan lupa berdoa, kalau untuk kebutuhan yang lain yang tidak mendesak kita tunda dulu."

"Untuk pesannya, semua umat islam terutama untuk generasi muda yang masih produktif, untuk melaksanakan haji, segera untuk mendaftar dan jangan menunggu kaya, intinya kalau ingin ibadah haji ya jangan menunggu kaya, karena kalau sudah tua ibadah haji itu berat sekali, karena sayang sekali jika kita ibadah haji lalu jika kurang maksimal bakal jadi kerugian bagi kita sendiri," pungkasnya.

Tukang Batu Bisa Naik Haji

Potret Hantoro, tukang batu yang tengah menyelesaikan pekerjaannya merapikan jalanan masjid di area Gentan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (25/10/2024).
Potret Hantoro, tukang batu yang tengah menyelesaikan pekerjaannya merapikan jalanan masjid di area Gentan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (25/10/2024). (HO TribunWow.com)

Ketiga, ada tukang batu asal Sukoharjo, Hantoro.

Perjuangan Hantoro untuk datang ke tanah suci Makkah dimulai pada tahun 2012.

Saat itu, ia mendatangi salah satu bank syariah di Kota Solo untuk membuka rekening haji.

Selepas menyelesaikan pembuatan rekening haji, Hantoro pun lantas menanyakan tentang program talangan haji kepada petugas bank.

"Saya buka rekening pada bulan Maret tahun 2012 , lalu saya bertanya kepada petugas haji, di salah satu bank syariah di Solo. Saya tanya terkait program talangan haji."

"Waktu itu saya hanya membawa uang Rp2 juta, lalu petugasnya berkata kalau ingin ikut program talangan haji saldo rekeningnya harus ada Rp5 juta."

"Kurangan itu lalu saya kejar dari Rp 2 juta sampai akhirnya terkumpul Rp5 juta, dan akhirnya bulan Mei 2012 bisa terkumpul sebanyak Rp5 juta dan bisa langsung ikut program talangan haji," ungkap pria berusia 47 tahun itu.

Lebih lanjut, Hantoro menceritakan bagaimana perjuangan peluhnya sampai akhirnya bisa pergi ke tanah suci bulan Juni 2024 lalu.

Dengan meneteskan air mata, Hantoro membeberkan kisahnya yang sampai harus terseok-seok selama 3 tahun demi merealisasikan cita-citanya pergi ke baitullah.

Dalam 3 tahun itu, Hantoro hanya bisa menyisihkan rata-rata uang pendapatan di angka Rp250 ribu.

Pendapatannya yang hanya sebesar Rp960 ribu satu bulan sudah terpotong Rp 625 ribu untuk setoran rutin ke program talangan haji.

"Wah itu kalau prosesnya, bisa dikatakan hidup saya harus terseok-seok seperti itu, ya semua juga tau kan, kalau tukang batu itu gajinya berapa, waktu itu kan gajinya kalau tidak salah kalau seminggu full masuk terus 6 hari dikali 4 yang satu bulan Rp960 ribu, itu kalau full."

"Sedangkan pada kenyataannya, tukang batu kan sering istirahat jadi cuma 5 atau 4 hari kerja itu pun kepotong untuk ikut talangan haji Rp 625 ribu jadi bersihnya bisa tinggal Rp250-an ribu," ucap Hantoro sembari tak kuasa menahan air matanya.

Dengan uang kisaran Rp250 ribu itulah Hantoro coba penuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya selama 3 tahun.

Belum ditambah pengeluaran tak terduga semisal ada hajatan tetangga atau kebutuhan lainnya.

Meski begitu, Hantoro mengaku tak pernah merasa putus asa.

Ia meyakini, bantuan Allah untuknya pasti ada sehingga tekadnya untuk haji tak pernah padam meski harus hidup mepet dan terseok-seok.

"Uang Rp250 ribu itu untuk hidup sebulan istri dan anak, itu benar-benar terseok-seok dalam artian seperti itu, tapi ya saya yakin ini janjinya Allah itu tidak berbohong, kalau kita melihat Allah pasti Allah akan membantu saya seperti itu janji Allah dan itu saya jadikan pedoman saya, jadi ya saya bismillah saja."

"Kalau ada uang sisa ya saya menabung kalau tidak ada ya tidak bisa menabung, dan kalau ada tetangga punya hajat ya tidak bisa menabung, kan harus jagong dan sebagainya itu ya jadi mau tidak mau ya harus pandai mengolah uang yang nominalnya Rp250 ribu untuk kehidupan sehari-hari itu selama 3 tahun," ungkapnya.

Dengan sisa hasil pendapatannya, Hantoro pun sampai tak mampu untuk membelikan baju baru anaknya pada momen lebaran selama dua tahun.

Hanya untuk membelikan mie ayam keluarganya saja, Hantoro sampai tak bisa untuk merealisasikannya.

"Saya ikut program talangan haji 3 tahun,saat itu ditanya petugas hajinya mau yang 3, 2  atau 1 tahun, nah saya memilih yang 3 tahun itu, benar-benar perjuangannya untuk naik haji itu tidak semudah itu, masalahnya saya harus sampai selama 2 tahun itu anak saya sampai tidak saya belikan baju lebaran, ya masalahnya mau ngga mau ya harus begitu, sampai beli mie ayam saja sampai Ya Allah, anakku ingin mie ayam saja saya ya hanya bisa nanti-nanti, tapi ya kembali lagi itu adalah perjuangan supaya bisa haji," ungkapnya seraya menghela nafas saat mengingat perjuangannya dahulu.

Di sisi lain, Hantoro menjelaskan manfaat dari program talangan haji yang ia ikuti.

"Untuk mudahnya saya artikan, talangan haji itu untuk menyegel angka tahun jadi kalau saya Mei tahun 2012 itu saya kan langsung dapat tahun 2024, jadi hanya sekedar ambil tahun keberangkatannya saja belum dengan pelunasannya," jelas Hantoro.

Mengingat, di tahun 2024, Ongkos Naik Haji (ONH) atau biaya haji mencapai angka Rp 58 juta.

"Masih terus dan itu kan belum ONH, ONH kemarin 2024 kalau tidak salah Rp58 juta, jadi sisa antara Rp25 juta sampai 58 juta itu kita mengangsur sendiri, jadi talangan Rp25 juta itu cuma supaya kita menyegel tahun haji saja," ungkapnya.

Untuk mensiasati kekurangan itu, Hantoro memutuskan untuk menabung uang sisanya di rumah.

Sebagian lainnya ia tabungkan di bank.

Namun, program nabung yang ia canangkan itu acap kali tak bisa dilakukan karena adanya kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi.

"Seperti yang saya sampaikan tadi kalau ada uang sisa ya saya tabung, kadang saya tabung dirumah, saya masukkan ke bank, kadang kalau ketabrak kebutuhan ya saya mau tidak mau ya saya tidak menabung," bebernya.

Selain itu, Hantoro juga turut berpesan kepada jemaah yang memiliki latar belakang ekonomi sepertinya untuk tak putus asa jika memiliki keinginan untuk bisa naik haji.

Hantoro mengungkapkan, haji itu bukan hanya bisa dilakukan oleh orang kaya semata.

Menurutnya, semua bisa haji asalkan memiliki niat dan usaha dalam mewujudkannya.

"Ketika pengajian diterangkan bahwa pahala haji kan besar-besar semua, kan itu semua orang bisa melaksanakan asalkan punya niat dan punya usaha, jadi dalam pikiran saya ya haji tidak hanya untuk orang kaya. Nah itu saya tanam didalam hati saya, orang kaya itu belum tentu mau naik haji belum tentu dia itu bersungguh-sungguh berusaha untuk naik haji, makanya saya ya sudah bismillah saja, ini urusannya gusti Allah nah ternyata ya ada jalan dan dipanggil," pungkasnya.

Bukti Nyata BPKH RI Ada untuk Para Jemaah Haji

POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026).
POTRET PELAYANAN PETUGAS BPKH RI - Momen petugas BPKH RI di Embarkasi Surabaya melayani dengan sepenuh hati jemaah haji, Rabu (22/4/2026). (Laman Resmi BPKH RI)

Bukti kinerja nyata bukan sekadar janji BPKH RI disampaikan oleh putri dari Temon Kartosoemito, Triyem.

Triyem mengungkapkan, proses haji dirinya dan sang ayah sempat mengalami beberapa kendala administrasi.

Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait turut berikan pelayanan baik sehingga kerap dimudahkan atau dibantu terkait proses administrasi.

Adanya beberapa kendala administrasi tak terlepas dari pergantian atau alih kursi slot kuota haji dari almarhumah ibunda ke Triyem.

“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.

Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.

“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.

Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.

“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa  pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.

Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.

Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.

“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.

Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.

Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.

“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”

“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.

Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.

“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” bebernya.

Komitmen BPKH RI Bantu Jemaah Haji Melalui Program Living Cost

Demi komitmen beri ketenangan lebih bagi jemaah haji, BPKH RI salurkan penyaluran living cost sebagai implementasi dari nilai manfaat dana haji.

Penyaluran living cost (biaya hidup-red) untuk jemaah haji merupakan bentuk dukungan nyata agar jemaah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya selama berada di Tanah Suci.

Adanya dukungan ini diharapkan bisa menghadirkan ketenangan sehingga jemaah bisa menjalankan prosesi ibadah haji dengan lebih khusyuk.

Momentum pelepasan jemaah haji kloter empat di Embarkasi Surabaya menjadi satu di antara penanda perjalanan ibadah haji tahun 1447 H/2026.

Momen itu juga jadi ajang kesiapan layanan termasuk dukungan pembiayaan bagi jemaah jadi bagian penting untuk memastikan kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Anggota Badan Pelaksana BPKH, Hary Alexander turut menjelaskan terkait penyaluran nilai manfaat dana haji yang tak cuma berfokus pada aspek pengelolaan saja.

Melainkan juga pada kebermanfaatan yang langsung bisa dirasakan oleh jemaah.

“BPKH memastikan nilai manfaat dari pengelolaan dana haji dapat kembali kepada jemaah, salah satunya melalui pemberian biaya hidup yang mendukung kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci,” ujarnya dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH RI, Rabu (29/4/2026).

Adanya penyaluran living coast ini merupakan bentuk dari sinergitas antara BPKH dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Kolabrasi ini diharapkan bisa menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari aspek pembiayaan hingga pelaksanaan ibadah.

Sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana haji, BPKH terus berupaya menjaga amanah pengelolaan dana secara profesional, transparan dan berbasis pada prinsip syariah.

Optimalisasi nilai manfaat ini bentuk komitmen BPKH untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi jemaah dalam setiap tahap dalam perjalanan ibadah haji.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

 

 

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Ibadah HajiHajiBadan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH)
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved