Terkini Nasional
Ketika Baitullah Sudah Memanggil: Tukang Gali Kubur, Bakso Bakar hingga Batu Bisa Naik Haji
Bukti nyata ketika baitullah sudah memanggil, tukang gali kubur, bakso bakar hingga batu bisa naik haji.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
TRIBUNWOW.COM - Bekerja dari pagi hingga sore hari jadi rutinitas tak terelakan tiga pejuang nafkah yang bekerja sebagai tukung gali kubur, bakso bakar dan tukang batu di Karesidenan Solo ini.
Dari terbit matahari, panasnya siang hari hingga hujan yang sewaktu-waktu mengguyur tak ubahnya menjadi keseharian yang sudah biasa dirasakan.
Semua dilakukan, demi menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga.
Di tengah kondisi serba pas-pasan, panggilan hati untuk ke baitullah buat ketiganya memantapkan diri untuk bisa berangkat haji.
Namun tak disangka, anggapan banyak orang yang skeptis dengan kemampuan penghasilan ketiganya, akhirnya bisa terbantahkan.
Banyak yang beranggapan, menunaikan rukun Islam kelima hanya untuk kalangan berada semata.
Besarnya biaya yang dikeluarkan jadi dasar stigma itu meluas di kalangan masyarakat.
Namun, tiga kisah inspiratif ini membuktikan, jika status pekerjaan tak halangi kemampuan mereka untuk bisa menunaikan haji.
Tukang Gali Kubur-Kuli Bangunan Bisa Naik Haji
Bukti nyata ketika panggilan baitullah sudah memanggil, maka kun fayakun semua bisa terjadi ada pada sosok inspiratif bernama Temon Kartosoemito.
Temon menceritakan perjuangannya dalam mencari nafkah sebagai tukang gali kubur.
Menurutnya, upah yang didapatkannya pun kadang tak langsung diberikan.
Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.
“Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).
Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.
Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.
Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.
“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.
Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.
Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.
“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.
Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.
“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.
Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.
Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.
Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.
“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”
“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.
Tukang Bakso Bakar Bisa Naik Haji
Kedua, ada tukang bakso bakar bernama Lukman Busra.
Tak banyak yang menyangka seorang tukang bakso bakar bisa menunaikan ibadah haji yang diketahui menelan biaya cukup besar.
Berkat tekad dan perjuangan Lukman, pesimistis banyak orang itu terbantahkan.
Semua bermula dari mimpi Lukman sejak kecil yang sangat menginginkan bisa pergi ke tanah suci.
Di mana, sejak kecil, Lukman kerap melafalkan doa haji yang membuat tekadnya semakin bulat untuk bisa merealisasikan keinginannya itu.
Sumber: TribunWow.com
| Sambut Harlah ke-92, GP Ansor Lakukan Aksi Gowes dengan Gelar Ziarah Akbar dan SEPEDA |
|
|---|
| Semangat Tukang Gali Kubur dan Batu demi Wujudkan Mimpi Naik Haji, BPKH Nyata Melayani Sepenuh Hati |
|
|---|
| Menengok Asa Baru Pasca Mega Proyek Jasa Marga Tol Solo-Yogyakarta-YIA di Desa Jembungan, Boyolali |
|
|---|
| KPR BTN Wujudkan Rumah Idaman Hidup Slow Living di Pedesaan: Kisah Para Pejuang Nafkah Keluarga |
|
|---|
| Kapan Libur Sekolah Awal Puasa Ramadhan 2026 yang Telah Ditetapkan Pemerintah? Bersamaan Imlek |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/Lukman-22.jpg)