Ponpes Al Zaytun dan Ajarannya

Panji Gumilang Terseret Dugaan Pelecehan, Diduga Beri Doktrin hingga Minta Dilayani 5 Kali Seminggu

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Eks orang dalam NII sekaligus wali santri Ponpes Al Zaytun, Leny Siregar (kiri), dan pimpinan Ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang (kanan). Sebagai mantan orang dalam, Leny Siregar membenarkan banyak ajaran nyeleneh yang diajarkan Panji Gumilang.

TRIBUNWOW.COM - Kontroversi Ponpes Al Zaytun dan pimpinannya, Panji Gumilang, terus bergulir.

Terbaru, Panji Gumilang terseret isu pelecehan seksual terhadap pegawai di Ponpes Al Zaytun.

Dugaan pelecehan seksual itu turut diungkap mantan wali santri Ponpes Al Zaytun dan eks anggota NII KW9, Leny Siregar.

Dalam kanal YouTube METRO TV, Leny Siregar bahkan membongkar bukti dugaan pelecehan seksual di lingkungan Ponpes Al Zaytun.

Baca juga: Bareskrim Polri dan PPATK Selidiki 256 Rekening Pimpinan Ponpes Al Zaytun, Mahfud MD sampai Curiga

Baca juga: Eks Santri Benarkan Ada Parpol Langganan Suara di Al Zaytun, Sederet Nama Pejabat Ikut Disebut

Ia mengaku memiliki bukti berupa rekaman suara dan video.

"Kalau ditanya pendapat saya ya benar karena saya sudah mendengar langsung voice note yang saya yakini itu suaranya dia, pimpinan pesantren, PG, kepada korbannya," ucap Leny.

"Saya juga melihat satu video percakapan yang ada di sana terdapat kode untuk mengajak berhubungan."

"Kalau orang dewasa pasti mengerti, jadi itu menguatkan voice note sebelumnya," imbuhnya.

Setelah kontroversi Ponpes Al Zaytun mencuat, Leny turut berharap dugaan pelecehan seksual di lingkungan pesantren segera diungkap.

Menurut Leny, korban pelecehan tersebut adalah seorang pegawai di Ponpes Al Zaytun.

Pimpinan Ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang saat memberikan khutbah Idul Adha pada Kamis 29 Juni 2023. (YouTube Al-Zaytun Official)

"Korban pegawai yang ditempatkan jauh dari lingkugan pesantren, jadi di belakang, gudang beras," ujar Leny.

Ironisnya, kata Leny, Panji Gumilang diduga memberi doktrin agar korban menurut saat dilecehkan.

Dalam seminggu, bahkan korban bisa diminta melayani berkali-kali.

"Awalnya korban cerita ke saya bahwa dia dipaksa dan ada dokterin yang harus patuh apa pun yang diserukan pimpinan pesantren."

"Dia melayani 3 sampai 5 kali dalam satu minggu," tandasnya.

Halaman
123