Menurut Erman, kliennya sempat heran lantaran Ferdy Sambo memilih lokasi pembunuhan di rumah dinasnya sendiri.
Padahal, selaku Kadiv Propam, pembunuhan itu bisa saja direkayasa sedemikian rupa untuk menghilangkan jejak keterlibatannya.
"Kalau pun Pak Sambo minta saya menembak dan saya bilang enggak mau, kemudian dia (membunuh-red), enggak kebayang saya kok di Duren Tiga," ucap Erman menirukan ucapan Bripka RR.
"Kalau membunuh kan harusnya (di lokasi lain-red), masa di tempat dinas."
Adapun saat rekonstruksi, Ferdy Sambo sempat memeluk Putri di lantai tiga rumah pribadinya, diduga merencanakan eksekusi Brigadir J.
Kemudian ia memanggil para ajudan menggunakan Handy Talkie (HT), rupanya peristiwa itu seharusnya terjadi setelah pembunuhan.
"Sebenarnya itu adegan terakhir setelah rekayasa, untuk menyerahkan duit," ungkap Erman.
"Kan dia mau ngasih duit, tapi Sambo enggak ngaku."
Rupanya, kejadian tersebut adalah momen ketika Ferdy Sambo memberi uang kepada Bharada E Rp 1 miliar, Bripka RR Rp 500 juta dan pada ART Kuat Maruf Rp 500 juta.(TribunWow.com/Via)