Kemudian ia memanggil para ajudan menggunakan Handy Talkie (HT), rupanya peristiwa itu seharusnya terjadi setelah pembunuhan.
"Sebenarnya itu adegan terakhir setelah rekayasa, untuk menyerahkan duit," ungkap Erman.
"Kan dia mau ngasih duit, tapi Sambo enggak ngaku."
Rupanya, kejadian tersebut adalah momen ketika Ferdy Sambo memberi uang kepada Bharada E Rp 1 miliar, Bripka RR Rp 500 juta dan pada ART Kuat Maruf Rp 500 juta.
Baca juga: Kesaksian Serupa Bripka RR dan Bharada E, Sebut Kuat Maruf Panik dan Tegang hingga Ancam Brigadir J
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke- 13.40:
Ferdy Sambo Habisi Brigadir J di Rumah Dinas
Alasan Ferdy Sambo memilih rumah dinasnya sebagai TKP pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J sempat menjadi pertanyaan.
Dilansir TribunWow.com, namun rupanya, fakta tersebut digunakan oleh Ferdy Sambo untuk melindungi dirinya.
Hal ini diungkapkan oleh anggota DPR RI Ahmad Sahroni yang menuturkan ucapan sang mantan Kadiv Propam pada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Baca juga: Mulai Jujur, Bripka RR Akhirnya Akui Lihat Ferdy Sambo Menembak, Pengacara Ungkap Kronologi
Diketahui, Ferdy Sambo awalnya selalu menyangkal telah terlibat dalam kasus pembunuhan ajudannya.
Ia membuat rekayasa yang menunjukkan bahwa dirinya tak ada di TKP rumah dinas Duren Tiga, Jakarta Selatan ketika insiden terjadi.
Bahkan, Ferdy Sambo sempat menemui Kapolri dan membeberkan kebohongan tersebut.
"Kepercayaan yang diberi Kapolri pada Kadiv Propam seyogyanya normal," kata Sahroni dikutip KOMPASTV, Kamis (8/9/2022).
"Tapi pada case ini, dilakukan dengan upaya dia untuk membohongi pimpinannya, ini kan langkah yang bodoh sebenarnya, bintang dua loh. Kita sangat sayangkan."
Baca juga: Sebut KM dan RR Beri Pengakuan Tak Masuk Akal soal Ferdy Sambo, Lawyer Bharada E Ungkit Rekonstruksi
Dua kali bertemu Ferdy Sambo, Listyo Sigit selalu menanyakan hal yang sama.