TRIBUNWOW.COM - Kelompok peretas asal Rusia, RaHDIt, membeberkan dugaan mengenai kebobrokan militer Ukraina.
Dilansir TribunWow.com, seorang anggota kelompok tersebut mengatakan intelijen Ukraina bekerja sama dengan penjahat dan penyelundup untuk menjual kembali senjata Barat di pasar gelap.
Seperti dilaporkan RIA Novosti, Senin (11/7/2022), sebelumnya militer Bulgaria melaporkan bahwa militer Ukraina menjual dua mount artileri self-propelled (ACS) CAESAR Prancis kepada prajurit Rusia.
Baca juga: Penampakan Apartemen di Ukraina yang Kena Serangan Roket Rusia, 15 Tewas dan 30 Tertimpa Puing-puing
Menurut sang hacker, senjata itu masing-masing dijual seharga $ 120 ribu (sekitar Rp 1,8 miliar), sedangkan biaya satu howitzer adalah $ 7 juta (sekitar Rp 105 miliar).
Adapun secara total, Prancis memasok Ukraina dengan 18 mount artileri self-propelled CAESAR dengan kaliber 155 milimeter.
"Kami tahu pasti bahwa intelijen Ukraina juga bekerja dengan kelompok kriminal, dengan penyelundup," ujar sumber yang berbicara dengan syarat anonim tersebut.
Mengenai aliran dana dari penjualan senjata tersebut, peretas itu mengaku belum bisa mengetahui informasi lebih lanjut.
Namun ia curiga bahwa uang yang masuk sedang ditimbun oleh oknum yang diduga melakukan korupsi.
"Kami tidak bisa mengatakan kemana uang dari penjualan senjata ke Eropa pergi, mungkin mereka entah bagaimana menerima dana tambahan untuk diri mereka sendiri, tapi meskipun, sejujurnya, kami memiliki kecurigaan yang kuat bahwa uang ini hanyalah seseorang yang menabung untuk masa pensiun mereka," tutur sang peretas.
Pada saat yang sama, dia menekankan bahwa ia bahkan tidak berbicara tentang senjata kecil, tetapi sistem anti-tank.
"Kami memiliki informasi bahwa, termasuk peluncur granat, sistem anti-tank sudah dijual ke Barat, dan mereka diminati, karena dengan menggunakan peluncur granat Amerika, atau Inggris, atau Jerman terbaru, jauh lebih mudah untuk menangani pesaing yang bergerak dalam limusin lapis baja," ungkap peretas tersebut.
Ia kemudian membenarkan bahwa senjata yang dimaksud adalah Javelin Amerika dan NLAW Inggris.
Baca juga: Tuduh Bangsa Rusia Punya Sifat Penjajah sejak Lahir, Eks Presiden Polandia Yakin akan Ada Putin Lain
Bantuan Senjata ke Ukraina Dijual di Darknet
Sejak berkonflik melawan Rusia, Ukraina kerap mendapat bantuan senjata khususnya dari negara-negara barat, mulai dari Amerika Serikat (AS), Prancis, hingga Inggris.
Sebuah investigasi yang dilakukan oleh media asal Rusia RT, beberapa senjata kiriman negara barat untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet.