Konflik Rusia Vs Ukraina

Sebar Propaganda Rusia, Media China Diduga Sengaja Salah Terjemahkan dan Manipulasi Berita Ukraina

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berpose selama pertemuan mereka di Beijing, pada 4 Februari 2022. Terbaru, media China dituding menyebar propaganda pro-Rusia.

TRIBUNWOW.COM - Sejumlah outlet media China yang dituding sengaja salah menerjemahkan atau memanipulasi berita internasional tentang perang di Ukraina.

Berita yang diterbitkan itu cenderung menyalahkan Ukraina atas invasi yang jelas-jelas dilakukan Rusia.

Para aktivis pun terang-terangan membongkar praktik propaganda tersebut.

Tank Rusia T-72 terlihat di daerah yang dikuasai pemberontak di dekat bandara Donetsk, Ukraina. (AFP via BBC.com)

Baca juga: Korupsi dan Impor Suku Cadang Tiruan China Diduga Jadi Faktor Penyebab Kekalahan Rusia di Ukraina

Baca juga: China Sebut AS Bantu Ukraina agar Terus Perangi Rusia: Tujuan AS Bukan Mencapai Perdamaian

Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Selasa (10/5/2022), sukarelawan anonim seperti akun Twitter Great Translation Movement menyoroti kesalahan terjemahan yang secara keliru menyalahkan pasukan Ukraina atas pemboman dan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Rusia terhadap warga sipil.

Pada 21 April, sebuah artikel yang diterbitkan oleh Guardian mengungkapkan bagaimana warga sipil, yang tewas selama pendudukan Rusia di kota Bucha, Ukraina, dibunuh oleh panah logam kecil yang disebut flechette, dari peluru sejenis yang ditembakkan oleh artileri Rusia.

Namun, South Review, media resmi pemerintah dan anak perusahaan Partai Komunis China, yang dimiliki oleh kelompok surat kabar Guangzhou Daily, salah menerjemahkan artikel tersebut, mengklaim bahwa peluru flechette ditembakkan oleh pasukan Ukraina.

"The UK Guardian menerbitkan temuan postmortem pertama dari insiden Bucha: mereka disebabkan oleh Ukraina yang menembaki Bucha," bunyi artikel dari South Review itu.

Di Weibo, akun yang berfokus pada militer dengan lebih dari 4,7 juta pengikut menambahkan, "Meskipun Guardian biasanya menerbitkan komentar anti-Rusia, kali ini laporan dokter forensik ternyata justru sebaliknya."

Namun saat diperiksa kembali oleh Guardian pada 6 Mei, penulis telah memodifikasi entri Weibo ini.

Artikel yang tampaknya salah diterjemahkan menyebabkan banyak kontroversi bahkan di media sosial China yang dipantau secara ketat.

Banyak pengguna Weibo yang berbahasa Inggris menunjukkan kesalahan tersebut.

Pada 27 April, China Fact Check, di bawah situs web berita Paper yang berbasis di Shanghai, mengklarifikasi dan mengatakan bahwa itu adalah salah terjemahan.

Pada kesempatan lain, meskipun pejabat China mengajarkan sikap netral terhadap konflik di Ukraina, akun media sosial pro-Rusia telah memanipulasi berita yang datang dari front Ukraina.

Misalnya, pada 8 April, di Kramatorsk, di Ukraina timur, dua rudal balistik Rusia meledak di atas stasiun kereta api, menjatuhkan munisi tandan, menewaskan 59 orang dan melukai ratusan penumpang.

Pada hari yang sama, akun Weibo militer populer dengan lebih dari 34 juta pengikut secara salah mengklaim serangan itu dilakukan oleh pasukan Ukraina.

Halaman
1234