Konflik di Afghanistan

Taliban Kembali Umumkan Pejabat Baru Afghanistan, Tetap Tak Ada Perempuan

Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pejuang Taliban berdiri di atas kendaraan polisi yang rusak di sepanjang pinggir jalan di Kandahar, Afganistan, pada 13 Agustus 2021. Taliban kembali umumkan susunan kabinet terbaru dengan tanpa melibatkan perempuan, minta PBB dan dunia internasional akui pemerintahan Afghanistan pada Selasa (21/9/2021).

Membatasi pendidikan anak perempuan di sekolah menengah sama saja dengan menghalangi mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Para siswi dan orang tua mengatakan kekhawatiran mereka .

 “Saya sangat khawatir tentang masa depan saya,” kata seorang siswi Afghanistan, dikutip dari BBC pada Sabtu (18/9/2021).

“Semuanya terlihat sangat suram. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?,” tambahnya.

Sementara, ayah dari siswi itu mengungkapkan keinginannya agar putrinya bisa mendapat pendidikan.

“Ibuku buta huruf, ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya bodoh. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku,” katanya.

Baca juga: Taliban Tak Izinkan Wanita Afghanistan Bekerja dengan Pria, Ini Alasannya

Sebelumnya, di beberapa sekolah Afghanistan yang sudah berhasil beroperasi, siswa perempuan sekolah dasar juga ikut hadir dalam kegiatan belajar mengajar, dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (17/9/2021).

Selain itu, Taliban juga telah mengumumkan perempuan diperbolehkan mengikuti kelas di jenjang perguruan tinggi universitas dengan aturan berpakaian baru dan terpisah dari laki-laki.

Hanya sekolah menengah pertama dan menengah atas yang saat ini masih ditutup untuk perempuan.

Diketahui, Taliban juga telah menutup kementerian urusan wanita dan menggantinya dengan lembaga yang pernah menerapkan aturan agama secara ketat, Kementerian Doa, Bimbingan dan Promosi Pencegahan Perilaku Buruk pada Jumat (17/9/2021).

Melalui lembaga itu akan dikerahkan apa yang disebut polisi moralitas untuk menegakkan hukum Syariah menurut Taliban.

Lembaga itu sudah ada sebelum Taliban pertama kali berkuasa di Afghanistan, tetapi berkembang selama pemerintahan mereka antara tahun 1996 hingga 2001 dan terkenal akan kekejamannya terhadap perempuan.

Mereka akan memukuli wanita yang dianggap berpakaian tidak sopan dan memberikan hukuman berat, termasuk pemukulan, cambuk dan eksekusi di depan umum.

Pendirian lembaga moral itu menjadi tanda Taliban membatasi hak-hak perempuan saat mereka memegang pemerintahan, setelah menguasai Afghanistan. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Afghanistan lain