TRIBUNWOW.COM – Taliban kembali umumkan perluasan kabinet sementara untuk memimpin Afghanistan, tetapi tetap tidak menyertakan perempuan pada Selasa (21/9/2021).
Dilansir dari Al Jazeera, komunitas internasional sebelumnya telah menegaskan akan menilai Taliban dari tindakan yang dilakukannya setelah mengambil alih ibu kota Afghanistan, Kabul, pada 15 Agustus lalu.
Mereka akan melihat perlakuan Taliban terhadap perempuan dan kelompok minoritas sebelum memberikan pengakuan atas pemerintahan di Afghanistan.
Baca juga: Membersihkan Toilet Jadi Satu-satunya Pekerjaan yang Boleh Dilakukan Wanita Afghanistan oleh Taliban
Baca juga: Taliban Tutup Kementerian Urusan Wanita Afghanistan, Pilih Aktifkan Kembali Polisi Moralitas
Dalam pemerintahan Taliban sebelumnya di Afghanistan pada akhir 1990-an, Taliban telah melarang perempuan mendapat pendidikan mau pun bekerja.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid membela penambahan terbaru pejabat di kabinetnya.
Mujahid mengatakan perubahan kebinet itu menyangkut anggota etnis minoritas, Hazara, meskipun belum melibatkan wanita.
Kelompok wanita diungkapkan akan mungkin ditambahkan nantinya.
Mujahid menuntut pengakuan dunia internasional atas pemerintahan Taliban di Afghanistan.
Dia mengatakan tidak ada lagi alasan untuk menahan pengakuan itu.
“Adalah tanggung jawab Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakui pemerintah kami (dan) bagi negara-negara lain, termasuk negara-negara Eropa, Asia dan Islam, untuk memiliki hubungan diplomatik dengan kami,” katanya dalam konferensi pers pada Selasa (21/9/2021).
Penunjukan pejabat baru itu, termasuk tokoh-tokoh dari Panjshir dan Baghlan.
Mujahid juga memberikan tanggapan atas pembatasan anak perempuan untuk menerima pendidikan di sekolah menengah.
Dia mengatakan keputusan itu hanya sementara dan akan segera diumumkan kapan anak perempuan bisa kembali ke sekolah.
Baca juga: Taliban Hanya Sebut Anak Laki-laki dalam Pembukaan Kembali Sekolah, Nasib Perempuan Dipertanyakan
Namun, Mujahid tidak memberikan keterangan lebih lanjut selain pernyataan Taliban sedang membuat perencanaan untuk memungkinkan anak perempuan mendapat pendidikan di jenjang sekolah menengah sebagaimana laki-laki.
Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pada 15 Agustus lalu, sekolah-sekolah sudah ditutup.
Membatasi pendidikan anak perempuan di sekolah menengah sama saja dengan menghalangi mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
Para siswi dan orang tua mengatakan kekhawatiran mereka .
“Saya sangat khawatir tentang masa depan saya,” kata seorang siswi Afghanistan, dikutip dari BBC pada Sabtu (18/9/2021).
“Semuanya terlihat sangat suram. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?,” tambahnya.
Sementara, ayah dari siswi itu mengungkapkan keinginannya agar putrinya bisa mendapat pendidikan.
“Ibuku buta huruf, ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya bodoh. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku,” katanya.
Baca juga: Taliban Tak Izinkan Wanita Afghanistan Bekerja dengan Pria, Ini Alasannya
Sebelumnya, di beberapa sekolah Afghanistan yang sudah berhasil beroperasi, siswa perempuan sekolah dasar juga ikut hadir dalam kegiatan belajar mengajar, dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (17/9/2021).
Selain itu, Taliban juga telah mengumumkan perempuan diperbolehkan mengikuti kelas di jenjang perguruan tinggi universitas dengan aturan berpakaian baru dan terpisah dari laki-laki.
Hanya sekolah menengah pertama dan menengah atas yang saat ini masih ditutup untuk perempuan.
Diketahui, Taliban juga telah menutup kementerian urusan wanita dan menggantinya dengan lembaga yang pernah menerapkan aturan agama secara ketat, Kementerian Doa, Bimbingan dan Promosi Pencegahan Perilaku Buruk pada Jumat (17/9/2021).
Melalui lembaga itu akan dikerahkan apa yang disebut polisi moralitas untuk menegakkan hukum Syariah menurut Taliban.
Lembaga itu sudah ada sebelum Taliban pertama kali berkuasa di Afghanistan, tetapi berkembang selama pemerintahan mereka antara tahun 1996 hingga 2001 dan terkenal akan kekejamannya terhadap perempuan.
Mereka akan memukuli wanita yang dianggap berpakaian tidak sopan dan memberikan hukuman berat, termasuk pemukulan, cambuk dan eksekusi di depan umum.
Pendirian lembaga moral itu menjadi tanda Taliban membatasi hak-hak perempuan saat mereka memegang pemerintahan, setelah menguasai Afghanistan. (TribunWow.com/Alma Dyani P)
Berita terkait Afghanistan lain