"Seminggu saya bisa lima kali diswab kalau masuk istana. Emang benar (testing) seperti itu?" lanjutnya.
"Testing kan enggak gitu seharusnya. Testing epidemologi bukan testing mandiri," jelasnya.
Baca juga: Orang yang Sudah Kena Covid-19 Tak Bisa Divaksin Sinovac, Ini Daftar Kriterianya
Pria lulusan Fisika Nuklir ITB itu menegaskan bahwa testing yang benar harusnya sesuai dengan rantai penyebaran Covid-19 dengan menyasar orang-orang yang suspek.
"Yang dites itu orang yang suspek, bukan orang yang mau pergi, mau ketemu presiden," kata dia.
"Syarat WHO terpenuhi itu satu per seribu per minggu, tapi tidak ada gunanya testingnya secara epidemiologi," pungkasnya. (TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)