Terkini Nasional

Jokowi Gencar Beri Penghargaan ke Oposisi Termasuk KAMI, Refly Harun: Ditekan atau Jadi Teman

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kolase Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun (kiri) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kanan).

TRIBUNWOW.COM - Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Refly Harun menanggapi penghargaan yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dilansir TribunWow.com, hal itu disampaikannya dalam tayangan Sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Rabu (11/11/2020).

Diketahui sebelum ini Jokowi memberikan penghargaan Bintang Mahaputera terhadap sejumlah tokoh, bahkan yang kerap dikenal beroposisi dengan pemerintah.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., menghadiri Upacara Penganugerahan Tanda Jasa dan Kehormatan Republik Indonesia Tahun 2020 kepada 71 orang tokoh, bertempat di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (11/11/2020). (TRIBUNNEWS.COM/PUSPEN TNI)

Baca juga: Telpon Gatot Nurmantyo, Refly Harun Ungkap 3 Alasan Tak Hadiri Penghargaan: Tugas Negara dari Jokowi

Termasuk yang menuai sorotan adalah Fahri Hamzah, Fadli Zon, dan Ketua Presidium KAMI Gatot Nurmantyo.

Menanggapi hal itu, Refly menilai ada kaitannya dengan situasi politik masa kini.

"Saya kira memang situasi dan kondisi terakhir-terakhir ini yang menurut saya kurang menguntungkan," komentar Refly Harun.

Ia menilai ada dua strategi yang dapat diterapkan pihak koalisi terhadap oposisi pemerintahan.

Dua strategi tersebut adalah membungkam lawan atau menjadikannya teman.

"Intinya begini, ada dua saja pendekatannya. Kalau Anda berhadapan dengan orang kritis, oposisi, dua saja," ungkap Refly.

"Ditekan dia agar tidak mampu bersuara lagi. Tapi kalau tidak bisa maka gunakan politik Sun Tzu, dijadikan teman, diberikan penghargaan," lanjut pakar hukum tata negara itu.

Menurut Refly, dua strategi ini wajar dilakukan dalam dunia politik.

Baca juga: Angkat Bicara soal Petinggi KAMI Dipolisikan, Refly Harun: Kira-kira Mereka Penjahat Bukan?

Tidak hanya itu, ia menjelaskan langkah politik ini banyak digunakan di berbagai pemerintahan.

"Saya kira dua hal ini lazim dalam politik," papar Refly.

"Saya kira itu tidak hanya digunakan Pak Jokowi, tapi digunakan semua pemerintahan," lanjut dia.

Refly menambahkan, ada hal yang disebut politik belakang.

Halaman
123