Terkini Nasional

Hubungan PDIP-Demokrat Renggang, Qodari: SBY dan Megawati Tidak Murni Politik, Ada Main Perasaan

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memiliki dendam pada Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudyoyono (SBY) beserta anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

TRIBUNWOW.COM - Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari menanggapi 'curhat' mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Apa Kabar Indonesia di TvOne, Kamis (15/10/2020).

Diketahui sebelumnya muncul tuduhan ada dalang di balik kerusuhan demo tolak omnibus law UU Cipta Kerja.

Di channel YouTube Kompas TV pada Rabu (19/8/2020), Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari membenarkan bahwa KAMI memang banyak berisi tokoh yang selama ini berseberangan dengan pemerintah. (Channel YouTube Kompas TV)

Baca juga: Mahfud MD Tak Heran Publik Nilai SBY Unggul dibanding Jokowi: Selalu Disalahkan Pemerintah yang Baru

SBY sebagai pihak yang merasa dituduh mendalangi demo, menyampaikan klarifikasi dan bantahan.

Apalagi diketahui baru-baru ini Partai Demokrat menolak UU Cipta Kerja, bahkan melakukan walkout saat rapat.

Menurut Qodari, peristiwa tuduh-menuduh ini semakin merenggangkan hubungan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat SBY.

"Memang hubungan antara Partai Demokrat dengan PDIP, antara Pak SBY dengan Bu Mega ini tidak sepenuhnya murni politik," komentar Qodari.

"Politik, tapi di situ juga ada main perasaan, jadi A bisa jadi B, dan seterusnya sampai jadi Z," lanjutnya.

Ia menilai sebaiknya mantan presiden memang tidak perlu lagi terlibat dalam hal politik praktis atau isu-isu nasional terkini.

Menurut Qodari, jika seorang mantan presiden terlalu campur tangan dalam hal itu maka akan mempersulit keadaan.

"Kalau boleh usul, Pak SBY atau Pak Jokowi setelah selesai jadi presiden, memang ada baiknya tidak terlalu terlibat lagi dalam tema-tema yang sifatnya aktual, tidak terlibat dalam politik harian, katakanlah begitu," kata Qodari.

Baca juga: SBY Curhat Sering Difitnah sebagai Dalang Demo: Sedih Loh Pak Saya, Sakit Hati Saya Pak Jokowi

"Sehingga tidak memperumit situasi dan kondisi," tambah pengamat politik tersebut.

Di sisi lain, seorang mantan presiden mungkin dapat muncul pada acara-acara kebangsaan yang tidak melibatkan isu politik.

Qodari memberi contoh, tidak perlu SBY menanggapi cuitan di media sosial yang bernada menuduh dirinya.

"Sebisa mungkin kalau berbicara itu kepada yang sifatnya makro, filosofis, dan barangkali muncul pada saat yang sifatnya menyatukan," papar Qodari.

Halaman
123