Terkini Nasional

Aria Bima Jelaskan soal RUU HIP kepada Ketua PA 212: Belum Pernah Baca Pidato Bung Karno 1 Juli?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima memberikan tanggapan terkait aksi protes yang disampaikan oleh Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

TRIBUNWOW.COM - Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima memberikan tanggapan terkait aksi protes dan tudingan yang disampaikan oleh Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Dilansir TribunWow.com, Slamet Maarif sebelumnya membenarkan terkait aksi demo hingga pembakaran bendera Partai PDIP di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2020).

Alasannya karena masyarakat jelas menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang dinilai telah bertentangan dengan ideologi bangsa yang sebenarnya.

Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif dalam acara Kabar Petang tvOne, Kamis (26/6/2020). Dirinya meminta Partai PDI Perjuangan (PDIP) tidak berlebihan menanggapi pembakaran bendera partainya. (Youtube/Talk Show tvOne)

• Ketua PA 212 Minta PDIP Tak Berlebihan soal Pembakaran Bendera Partai: Ada Persoalan Lebih Penting

Dikatakan Slamet Maarif, dua hal yang paling disorot adalah perubahan bunyi sila pertama dan penyusutan menjadi Trisila dan Ekasila.

Aria Bima lantas mengaku tidak membenarkan tudingan yang disampaikan oleh Slamet Maarif.

Menurutnya, dalam poin-poin dalam RUU HIP tidak seperti yang dibayangkan oleh Slamet Maarif maupun masyarakat Indonesia.

Dirinya menganggap bahwa Slamet Maarif belum pernah membaca pidato presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pada 1 Juli, bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila.

Aria Bima lantas membacakan potongan pidato dari Ir. Soekarno.

"Kalau Pak Slamet ada tuduhan tadi ada unsur-unsur yang itu dianggap tidak sesuai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, karena ada ketuhanan yang berkebudayaan," ujar Aria Bima.

"Tak bacakkan, 'Gek-gek' (jangan-jangan, -red) Pak Slamet belum pernah baca pidato Bung Karno 1 Juli?" ucapnya.

"Saya bacakan, prinsip kelima menyusun Indonesia merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa."

"Prinsip ketuhanan bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan, tuhannya sendiri."

"Hendaknya negara Indonesia negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan, dengan cara yang leluasa, segenap rakyat hendaknya bertuhan secara berkebudayaan yakni dengan tiada egoisme agama dan hendaknya negara Indonesia suatu negara bertuhan marilah kita amalkan jalankan agama baik Islam, baik Kristen dengan cara beradab," kata Aria Bima membacakan pidato dari Ir. Soekarno.

• Bendera PDI Perjuangan Dibakar Massa, Megawati Soekarnoputri Minta Seluruh Kader Rapatkan Barisan

Aria Bima mengakui bahwa dirinya juga paham dengan yang apa dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sementara itu menurutnya, terkait perubahan Ketuhanan yang Berkebudayaan bukan berarti menghilangkan Tuhan yang satu tadi.

Halaman
123