Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam acara Dua Arah di Kompas TV, Senin (8/6/2020).
Awalnya, Sutiaji menyebutkan dirinya menggunakan acuan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) tentang standar new normal.
Seperti diketahui, new normal disebut sebagai cara hidup baru setelah mengenal Virus Corona.
"Saya membaca ini dari WHO," kata Sutiaji melalui sambungan video call.
"Orang menuju ke new normal itu paling tidak harus ada transisi. Ada enam bukti," jelasnya.
Sebagai contoh, Sutiaji menyinggung transmission rate di wilayahnya masih belum memenuhi standar tahap new normal.
"Di kita ini nilainya belum sampai kepada 1. Jadi nilainya masih 1,27," kata Sutiaji.
Berdasarkan situasi tersebut, Sutiaji menyebut wilayahnya belum dapat dikatakan sudah dapat beranjak ke new normal.
"Ketika kita belum bisa menekan, kita masih belum masuk dalam posisi new normal," jelasnya.
Ia menambahkan sebetulnya cara hidup new normal sudah diterapkan sejak sebelum PSBB, karena pada saat itu sudah ada protokol kesehatan yang harus dilakukan.
• Surabaya dan Sidoarjo Sumbang Terbesar Kasus Corona di Jatim, Emil Dardak: Kematian Tertinggi
"Mohon maaf, sesungguhnya new normal itu bukan setelah PSBB saja," kata Sutiaji.
"Maret-April dengan adanya Covid ini sudah masuk new normal," lanjutnya.
Sutiaji lalu menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pemaparan Dany Amrul Ichdan.
"Saya kurang sependapat dengan Mas Dany tadi. Bahwa sesungguhnya yang new normal itu kehidupan baru yang memang tidak sama dengan kehidupan 2019," ungkap Sutiaji.
"Jadi sebelum PSBB pun sebetulnya kita sudah new normal," tegasnya.