Lebih lanjut, dengan melihat data-data di lapangan tersebut, Khofifah mengakui bahwa Surabaya Raya ataupun Jawa Timur masih belum aman.
Oleh karenanya harus dilakukan penanganan yang lebih masif dan protokol kesehatan yang lebih ketat.
"Maka ini belum aman," tegas Khofifah.
"Jadi pesan ini belum aman itu sudah kami sampaikan sejak tanggal 7 malam dan kemarin sebelum pengambilan keputusan kami pun juga menyampaikan kembali," pungkasnya.
• Tak Sepakat dengan Istilah New Normal dari Pusat, Walkot Malang Sutiaji: Saya Ikuti Pedoman WHO
Simak videonya mulai menit ke-1.40:
Pakar Sebut Daerah dan Pusat Tak Sinkron
Pakar Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah menyebut ada ketidaksinkronan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terkait penerapan new normal Corona.
Dilansir TribunWow.com, Trubus mencontohkan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Malang Raya dan DKI Jakarta.
Seperti yang diketahui, Malang Raya dan DKI Jakarta lebih memilih memakai PSBB transisi ketimbang istilah New Normal.
Dalam acara Dua Arah KompasTV, Senin (8/6/2020), Trubus mengatakan apa yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Malang justru membingungkan publik.
• Tak Sepakat dengan Istilah New Normal dari Pusat, Walkot Malang Sutiaji: Saya Ikuti Pedoman WHO
Menurutnya, tidak ada perbedaan antara masa transisi dengan New Normal.
Keduanya merupakan sebuah proses menuju kenormalan baru di tengah Virus Corona.
"Iya ketidaksinkronan itu jelas terlihat nyata di mana kemudian yang dimaksud transisi itu kan sudah di dalamnya New Normal," ujar Trubus.
"Dan artinya apa, sesungguhnya tidak ada yang perlu dibuat seoalah-olah ada tersendiri, transisi kan seolah-olah tersendiri," jelasnya.
Trubus mengatakan dengan pemerintah daerah yang masih menyebutnya dengan masa transisi, maka ada yang mengartikannya masih dalam PSBB.