Virus Corona

Kasus Corona Jatim Capai 4.922, Pakar Epidemiologi Sebut Bukan Kondisi Nyata: Jauh Lebih Banyak

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi - Mobil Ambulans milik RSUD dr Haulussy Ambon memilih parkir di ruang parkir RSUP dr J Leimena setelah membawa pasien Covid-19 ke rumah sakit tersebut, Rabu (27/5/2020). Mobil ambulans ini sendiri sempat tersesat dan diamuk warga di kawasan Rumah Tiga, Kecamatan Teluk AMbon

"Kita waktu itu menemukan titik di mana mereka melakukan salat tarawih dan tidak physical distancing dan rapid test," kata Khofifah Indar Parawansa.

Ia mengaku kaget saat mengetahui fakta munculnya klaster baru di wilayah tersebut.

"Ini kita dapatkan lagi yang kemarin dari Situbondo ini agak kaget. Meskipun saya sudah konfirmasi bahwa ini kemungkinan akan ada klaster baru," ungkap Khofifah.

"Kemarin keluar hasil PCR-nya, ada tambahan 31 kasus baru di Situbondo," jelasnya.

Berdasarkan hasil tracing, terungkap pasien adalah anggota jemaah salat tarawih di sebuah masjid.

Saat itu para jemaah tersebut tidak menerapkan jaga jarak sebagai bagian dari protokol kesehatan.

"Itu juga karena klaster di mana hasil tracing-nya mereka tidak dalam posisi physical distancing pada saat mereka ibadah salat tarawih," papar Khofifah.

Grafik pertumbuhan kasus baru Covid-19 di Jawa Timur sampai Minggu (31/5/2020). (Capture YouTube TvOne)

• Kasus Baru Virus Corona Jatim Melonjak, Emil Dardak: 76 Persen Pasien Tak Merasa Terjangkit Covid-19

"Yang terkonfirmasi awal mereka bekerja di rumah, lalu kemudian mereka mengikuti salat tarawih berjemaah di masjid," lanjutnya.

Dari jumlah hasil positif tersebut, ditetapkan daerah di Situbondo ini menjadi klaster baru.

"Setelah kemudian di-tracing lagi, beberapa jemaah di rapid test dan swab, akhirnya ketemulah yang positif tambahan baru di Situbondo 31," jelas Khofifah.

Melihat pertambahan jumlah yang signifikan itu, Khofifah menyebutkan langsung melakukan telaah.

Menurut Khofifah, perlu segera disiapkan rumah sakit untuk menampung para pasien.

Selain itu, ia menilai perlu disiapkan skema apabila rumah sakit di Situbondo dan Jember tidak mampu menampung pasien Covid-19.

"Hasil tracing kita lihat kembali untuk melakukan proses intervensi yang kira-kira paling efektif," katanya.

"Misalnya kita bisa melihat ketersediaan rumah sakit di Situbondo. Berarti kalau mereka positif, harus segera dibawa ke layanan terdekat," lanjut Khofifah.

"Kalau Jember tidak memungkinkan, harus dibawa ke Surabaya," tambahnya. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)