Virus Corona

Kasus Corona Jatim Capai 4.922, Pakar Epidemiologi Sebut Bukan Kondisi Nyata: Jauh Lebih Banyak

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi - Mobil Ambulans milik RSUD dr Haulussy Ambon memilih parkir di ruang parkir RSUP dr J Leimena setelah membawa pasien Covid-19 ke rumah sakit tersebut, Rabu (27/5/2020). Mobil ambulans ini sendiri sempat tersesat dan diamuk warga di kawasan Rumah Tiga, Kecamatan Teluk AMbon

TRIBUNWOW.COM - Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) Atik Choirul Hidayah mengungkapkan kondisi terkini perkembangan kasus Virus Corona (Covid-19) di Jawa Timur.

Seperti diketahui, jumlah kasus positif di Jawa Timur mencapai 4.922 pasien per Senin (1/6/2020) malam.

Atik menilai tingginya angka tersebut menunjukkan kemungkinan masih banyak kasus yang belum terungkap.

Pakar Epidemiologi FKM Unair Atik Choirul Hidajah membahas pertumbuhan kasus di Surabaya, Jawa Timur, dalam Apa Kabar Indonesia Pagi, Selasa (2/6/2020). (Capture YouTube Apa Kabar Indonesia TvOne)

Muncul Klaster Baru Jatim, Khofifah Ungkap Tak Jaga Jarak saat Salat Tarawih: Berjemaah di Masjid

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan saat dihubungi dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne, Selasa (2/6/2020).

Atik menyebutkan angka yang terpampang di grafik saat ini belum merepresentasikan kenyataan.

"Angka 4.900 ini bisa jadi sudah puncak, tetapi ini bukan menggambarkan kondisi yang riil," kata Atik Choirul Hidayah.

"Artinya yang ada di masyarakat ini masih jauh lebih banyak," lanjut dia.

Atik menduga sebenarnya ada angka lebih besar lagi di lapangan.

Menurut Atik, hal tersebut dapat diketahui dari melacak penyebaran kasus dan melakukan tes massal.

"Kalau dilakukan tracing dan testing yang lebih masif, mungkin jumlah ini akan lebih besar lagi," papar Atik.

Ia lalu menerangkan parameter yang dapat menentukan pertumbuhan kasus sudah berada di puncak kurva.

"Banyak indikator yang dapat digunakan untuk melihat bagaimana perjalanan dari suatu pandemi itu," kata Atik.

"Kalau tadi, salah satunya adalah dari jumlah kasus yang ditemukan," jelas dia.

Meskipun jumlah kasus menentukan parameter, Atik menambahkan perlu dilihat juga dari jumlah tes yang sudah dilakukan.

Kasus Baru Virus Corona Jatim Melonjak, Emil Dardak: 76 Persen Pasien Tak Merasa Terjangkit Covid-19

"Jumlah kasus yang ditemukan ini harus kita lihat juga dari berapa banyaknya orang yang dites," ungkap Atik.

"Jadi positivity rate-nya akan menentukan. Itu salah satu indikator," lanjut dia.

Atik menambahkan ada indikator kurva epidemik yang belum digarap pemerintah dalam penanganan Covid-19.

"Indikator yang lain dari penemuan tadi, ini yang belum banyak bisa digambarkan dengan baik itu adalah kurva epidemik," sambungnya.

Ia mengungkapkan alasan pentingnya melihat kurva epidemik.

"Karena waktu munculnya gejala pertama kali itu sering tidak diperoleh. Ini dapat terjadi karena tracing yang dilakukan terhadap kasus-kasus tidak berjalan secara optimal," jelas Atik.

Berdasarkan kondisi tersebut, Atik menilai saat ini belum siap untuk masuk ke fase new normal.

New normal disebut sebagai cara hidup baru setelah adanya pandemi Virus Corona.

Jatim Terancam Jadi Episentrum Baru, Prof Nidom: Bisa karena Pengujian Lebih Banyak dari Daerah Lain

Lihat videonya mulai menit 5:00

Muncul Klaster Baru Jatim

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan adanya klaster baru penyebaran Virus Corona (Covid-19) di wilayahnya.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam acara Kabar Siang di TvOne, Senin (1/6/2020).

Seperti diketahui, Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah kedua terbanyak yang memiliki kasus positif Covid-19 dengan jumlah total 4.922 pasien per Senin (1/6/2020) malam.

• Gaduh Rebutan Mobil PCR antara Risma dan Pemprov Jatim, PDIP Minta Khofifah Lebih Bijak

Khofifah mengungkapkan ada kemungkinan klaster baru dengan ditemukannya 31 kasus positif di Situbondo.

"Kita waktu itu menemukan titik di mana mereka melakukan salat tarawih dan tidak physical distancing dan rapid test," kata Khofifah Indar Parawansa.

Ia mengaku kaget saat mengetahui fakta munculnya klaster baru di wilayah tersebut.

"Ini kita dapatkan lagi yang kemarin dari Situbondo ini agak kaget. Meskipun saya sudah konfirmasi bahwa ini kemungkinan akan ada klaster baru," ungkap Khofifah.

"Kemarin keluar hasil PCR-nya, ada tambahan 31 kasus baru di Situbondo," jelasnya.

Berdasarkan hasil tracing, terungkap pasien adalah anggota jemaah salat tarawih di sebuah masjid.

Saat itu para jemaah tersebut tidak menerapkan jaga jarak sebagai bagian dari protokol kesehatan.

"Itu juga karena klaster di mana hasil tracing-nya mereka tidak dalam posisi physical distancing pada saat mereka ibadah salat tarawih," papar Khofifah.

Grafik pertumbuhan kasus baru Covid-19 di Jawa Timur sampai Minggu (31/5/2020). (Capture YouTube TvOne)

• Kasus Baru Virus Corona Jatim Melonjak, Emil Dardak: 76 Persen Pasien Tak Merasa Terjangkit Covid-19

"Yang terkonfirmasi awal mereka bekerja di rumah, lalu kemudian mereka mengikuti salat tarawih berjemaah di masjid," lanjutnya.

Dari jumlah hasil positif tersebut, ditetapkan daerah di Situbondo ini menjadi klaster baru.

"Setelah kemudian di-tracing lagi, beberapa jemaah di rapid test dan swab, akhirnya ketemulah yang positif tambahan baru di Situbondo 31," jelas Khofifah.

Melihat pertambahan jumlah yang signifikan itu, Khofifah menyebutkan langsung melakukan telaah.

Menurut Khofifah, perlu segera disiapkan rumah sakit untuk menampung para pasien.

Selain itu, ia menilai perlu disiapkan skema apabila rumah sakit di Situbondo dan Jember tidak mampu menampung pasien Covid-19.

"Hasil tracing kita lihat kembali untuk melakukan proses intervensi yang kira-kira paling efektif," katanya.

"Misalnya kita bisa melihat ketersediaan rumah sakit di Situbondo. Berarti kalau mereka positif, harus segera dibawa ke layanan terdekat," lanjut Khofifah.

"Kalau Jember tidak memungkinkan, harus dibawa ke Surabaya," tambahnya. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)