"Jadi positivity rate-nya akan menentukan. Itu salah satu indikator," lanjut dia.
Atik menambahkan ada indikator kurva epidemik yang belum digarap pemerintah dalam penanganan Covid-19.
"Indikator yang lain dari penemuan tadi, ini yang belum banyak bisa digambarkan dengan baik itu adalah kurva epidemik," sambungnya.
Ia mengungkapkan alasan pentingnya melihat kurva epidemik.
"Karena waktu munculnya gejala pertama kali itu sering tidak diperoleh. Ini dapat terjadi karena tracing yang dilakukan terhadap kasus-kasus tidak berjalan secara optimal," jelas Atik.
Berdasarkan kondisi tersebut, Atik menilai saat ini belum siap untuk masuk ke fase new normal.
New normal disebut sebagai cara hidup baru setelah adanya pandemi Virus Corona.
• Jatim Terancam Jadi Episentrum Baru, Prof Nidom: Bisa karena Pengujian Lebih Banyak dari Daerah Lain
Lihat videonya mulai menit 5:00
Muncul Klaster Baru Jatim
Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan adanya klaster baru penyebaran Virus Corona (Covid-19) di wilayahnya.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam acara Kabar Siang di TvOne, Senin (1/6/2020).
Seperti diketahui, Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah kedua terbanyak yang memiliki kasus positif Covid-19 dengan jumlah total 4.922 pasien per Senin (1/6/2020) malam.
• Gaduh Rebutan Mobil PCR antara Risma dan Pemprov Jatim, PDIP Minta Khofifah Lebih Bijak
Khofifah mengungkapkan ada kemungkinan klaster baru dengan ditemukannya 31 kasus positif di Situbondo.