"Ini yang menurut saya dalam waktu satu-dua bulan ini itu banyak masa-masa kritis yang memungkinkan penduduk melanggar pembatasan sosial," lanjutnya.
Ia kemudian menyinggung perayaan Idul Fitri yang akan segera tiba.
"Sebentar lagi hari raya Idul Fitri, sebagian penduduk akan mencuri mudik," ungkap Pandu.
"Ini kalau tidak ditekan, maka target-target itu yang saya khawatirkan tidak tercapai," lanjutnya.
Selain itu, Pandu merasa ada faktor yang kurang diperhitungkan dalam PSBB saat ini.
"Dan yang paling dilupakan dalam PSBB ini, kita tidak pernah melibatkan masyarakat," kata Pandu Riono.
"Seakan-akan masyarakat disuruh ini, disuruh itu. Seandainya pembatasan sosial itu digerakkan berbasis masyarakat, maka masyarakat akan mengambil alih," jelasnya.
• Wacana PSBB Selesai Juni, Pakar Epidemiologi Sebut Jangan Percaya: Perilakunya Masih Amburadul
Ia menilai masyarakat sebagai pelaksana perlu lebih banyak dilibatkan agar memiliki kesadaran terhadap pentingnya PSBB.
"Ini impact-nya akan lebih besar. Masyarakat sendiri yang menggerakkan pembatasan sosial, bukan disuruh, bukan dipaksa, atau bukan dihukum," papar ahli epidemiologi ini.
Pandu kemudian mengomentari sejumlah daerah di luar DKI Jakarta yang kini juga menjadi zona merah penyebaran Virus Corona.
Menurut dia, perlu ada langkah pencegahan terutama dalam penyebaran antardaerah.
"Strateginya adalah begitu mereka pulang, protokolnya mereka harus dikarantina dua minggu," kata Pandu Riono.
"Atau dites dengan PCR. Sehingga testingnya harus kuat, kalau mereka negatif baru boleh ke rumahnya," tambahnya memberi usul.
Menurut Pandu, perlu ada pemahaman tentang proses penularan dan aktivitas masyarakat.
"Sebenarnya kalau kita mengerti dinamika proses transmisi dan mengerti mobilitas penduduk yang kita tidak bisa cegah 100 persen, kita bisa mengatasi," paparnya.
"Persoalannya, kita mau tidak?" tegas Pandu Riono.
• Isu Izin Perusahaan Dicabut saat PSBB, Sandiaga Uno Kecam Pelaksanaan: Ide Bagus, Koordinasi Buruk
Lihat videonya mulai menit 2:30
(TribunWow.com/Rilo/Brig)