TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan buka suara terkait masalah perekonomian yang kini dihadapi oleh Indonesia pasca menyebarnya pandemi Virus Corona (Covid-19).
Gita mengatakan Indonesia terancam akan mengalami resesi ekonomi.
Asumsinya tersebut ia katakan berdasarkan fakta bahwa perekonmian Indonesia, dan dunia saling mempengaruhi satu sama lain.
• Ekonom Indef Ngaku Punya Solusi Sederhana Atasi Masalah Ekonomi karena PSBB: Cukup 2 Skema Saja
Dikutip dari acara APA KABAR INDONESIA PAGI, Rabu (15/4/2020), awalnya Gita menjelaskan bahwa Indonesia akan terancam mengalami resesi apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah drastis.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin tersebut lanjut membahas bagaimana perekonomian di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perekonomian global.
"Mengingat keterkaitan perekonomian kita dengan perekonomian dunia," katanya.
"Jadinya perekonomian dunia sekarang sudah sangat terintegrasi, atau terinterkoneksi," lanjut Gita.
Karena ekonomi Indonesia memiliki kaitan dengan perekonomian dunia, Gita mengatakan apabila situasi di luar memburuk, maka Indonesia juga akan terkena dampaknya.
"Jadi apapun yang terjadi di luar itu pasti akan ada pengaruh ke kita, dan sayangnya apa yang kita lihat di Tiongkok, ataupun Amerika Serikat, dan Eropa, ini sudah cukup sangat terpuruk," ujar Gita.
Gita lalu menggambarkan bagaimana jumlah pengangguran di Amerika Serikat dalam dua bulan terakhir ini telah naik dari 3,3 persen menjadi 14,7 persen akibat pandemi Covid-19.
"Ini sangat tidak pernah dilihat sebelumnya," kata Gita.
Ia membandingkan situasi lesunya perekonomian dunia saat ini dengan peristiwa The Great Depression yang pernah terjadi pada tahun 1930.
Gita bahkan menyebut situasi saat ini jauh lebih berbeda dibandingkan The Great Depression.
"Tapi bedanya waktu itu untuk tingkat pengangguran, untuk meningkat dari anggaplah empat sampai lima persen menuju 24 persen, itu memakan waktu tiga tahun," katanya.
"Jadi ini hanya dua bulan saja sudah naik dari 3,3 ke 14,7 persen."