"Atau kalau politisi punya track record baik maka secara automatically akan menjadi buzzer-nya pada politisi itu, yang muncul ada kerelawanan, kesukarelawanan untuk meng-endorse politisi itu atau pemerintah itu," ucap dia.
"Jadi sebenarnya enggak usah khawatir kalau punya prestasi enggak butuh buzzer karena otomatis masyarakat dan publik akan ramai-ramai jadi buzzer."
Ia menambahkan, buzzer berbeda dengan influencer.
Menurutnya, buzzer menyampaikan informasi di media sosial sesuai dengan apa yang diinginkan orang yang membayar.
"Tadi kan Mas Fahmi dan beberapa teman-teman menyebutkan ada buzzer, kemudian influencer," ujar Dahnil.
"Buzzer kecenderungannya ya dapat feeding dari pihak lain kemudian mereka menyebarkan. "
Dahnil Anzar mengungkapkan, apa yang disampaikan buzzer di media sosial tidak sesuai dengan pemikiran sendiri.
"Apa yang dia (buzzer) sebarkan tidak ontentik dari dari pemikiran dia, gagasan dia, sedangkan influencer gagasannya idenya (sendiri)."
Simak video selengkapnya berikut ini menit 3.05:
(TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)