Menurutnya, saat ini para pengkritik pemerintah justru dinilai nyinyir.
"Kemudian yang ketiga apa, menenggelamkan perbedaan pendapat," ucap Dahnil.
"Jadi perbedaan pendapat itu kemudian nanti misalnya seorang Dahnil mengkritik dituduh nyinyir, bahasanya Bang Ony nyinyir."
Dahnil Anzar menambahkan, saat menyampaikan kritik terhadap pemerintah ia selalu dianggap tak menerima kekalahan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu.
Hal itu lah yang menurutnya buzzer saat ini lebih cenderung menyerang para oposisi.
"Kalau sekarang misalnya kalau saya kritik ini karena kalah kompetisi 02 yang lain belum move on, jadi enggak boleh kritik gitu," imbuh Dahnil Anzar.
"Jadi pokoknya dikubur perbedaan pendapat, 3 hal ini kecenderungan-kecenderungannya adalah menyerang para oposisi."
Dahnil Anzar lantas menyinggung tentang hasil penelitian Edward Asppinall, peneliti dari Australia.
"Itulah kenapa orang-orang seperti Edward Aspinall, peneliti dari Australia segala macam ada kecenderungan yang berbahaya terhadap demokrasi di Indonesia ke depan," tutur Dahnil Anzar.
• Teddy Gusnaidi Terus Tanyakan soal Buzzer Pemerintah pada Analis Media, Begini Respons Ali Ngabalin
• Dengar Jawaban Pegiat Media Sosial yang Dituduh jadi Buzzer Istana, Politisi Gerindra Tertawa
Hasil penelitian itu disebut Dahnil Anzar menunjukkan adanya ancaman sistem demokrasi Indonesia.
"Dalam waktu 5 tahun ke depan, ini PR (Pekerjaan rumah) kita sama-sama, oleh itu saya melihat apa solusi yang bisa dilakukan oleh kita semuanya dalam hal ini pemerintah, partai politik, DPR dan sebagainya," kata Dahnil Anzar.
Lebih lanjut ia menambahkan, buzzer muncul karena pemerintah minim prestasi.
"Saya melihat kecenderungan buzzer ini muncul, orang meggunakan buzzer muncul ketika kita minim prestasi," ungkapnya.
"Kalau prestasinya tinggi atau prestasinya baik maka sejatinya masyarakat secara automatically menjadi buzzer-nya pemerintah."
Dahnil Anzar menilai, pemerintah atau para politisi tak butuh Buzzer apabila mereka memiliki prestasi yang tinggi.