Dia juga belum begitu yakin ketika sebelumnya seorang pria mengaku sebagai adik laki-lakinya menemuinya di bandara.
Saudaranya, seorang petugas polisi, berhasil melewati jalur keamanan dan mencoba memeluknya.
Kemudian, tiba di Berleo di bawah jutaan bintang, seluruh desa membuntutinya dari truk ke rumahnya.
Di sana seorang wanita yang terbungkus linen pudar membuka pintu.
Kauka memeluknya dengan lesu dan mereka duduk di bawah bola lampu neon.
Tapi kemudian Kauka teringat sesuatu dan meraih tangan wanita yang lebih tua itu.
Sebuah riak menyilang wajahnya: ada bekas luka.
Ibunya telah mematahkan tangannya saat Kauka masih kecil, salah satu rincian tentang keluarganya yang terbakar dalam pikirannya saat dia menggunakan kapal satu arah ke Indonesia.
"Ini ibuku," katanya.
Wanita yang lebih tua pun memeluknya.
Ia pun menyadari bahwa semua orang di sekitarnya adalah saudara laki-lakinya,saudara iparnya, keponakannya, dan keluarga lainnya.
Momen itu seperti layaknya sebuah reuni keluarga di negara kecil.
Mereka sekarang tinggal di Jawa atau Sulawesi, kepulauan besar di Indonesia, bekerja sebagai petani, buruh, kapten kapal, ibu rumah tangga.
Beberapa telah diberi nama baru dan agama baru lainnya.
Seperti diketahui, di bawah kediktatoran militer Soeharto, Indonesia menduduki Timor-Leste dari tahun 1975 sampai 1999.
Dalam kejadian itu, terjadi penyiksaan sistematis, pemerkosaan, pembunuhan, dan penculikan terhadap anak-anak.
Hal ini menyebabkan para warga berpisah satu sama lainnya.
Tak terkecuali yang menimpa Kauka tersebut.
Hal ini merupakan dampak dari kejadian pendudukan militer. (*)