Ponpes Al Zaytun dan Ajarannya
Dibidik Sejak 2002, MUI Ungkit Sejumlah Alasan Kasus Ponpes Al Zaytun Baru Dapat Perhatian Publik
MUI menyalahkan tindakan Panji Gumilang soal terbongkarnya ajaran sesat yang ada di Ponpes Al Zaytun.
Penulis: dian shinta mukti
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menanggapi kasus yang berkaitan dengan Ponpes Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.
Seperti yang diketahui, Ponpes Al Zaytun sedang menjadi sorotan tajam publik lantaran dianggap memberikan doktrin ajaran 'sesat' kepada para pengikutnya.
Dilansir TribunWow.com terbaru Wasekjen MUI yaitu Muhammad Ziyad membeberkan sejumlah alasan mengapa kasus Al Zaytun bisa mendapatkan atensi yang tinggi dari publik.
Baca juga: Nasib 4.985 Santri di Ponpes Al Zaytun Abu-abu Gegara Panji Gumilang, Begini Keinginan Menko PMK
Menurut Ziyad, ajaran Al Zaytun ini terbongkar karena peran besar Panji Gumilang.
Ziyad menilai Ponpes Al Zaytun melakukan masifikasi publikasi terhadap ajarannya.
Ajaran tersebut di antaranya shaf salat yang dicampur laki-laki, perempuan, ada non muslim di barisan salat, dan masih banyak lagi.
Ziyad menuturkan ajaran tersebut sangat-sangat bertentangan dengan syariat agama Islam.
"Kemudian kenapa sekarang ini mencuat ini kan karena masifikasi publikasi yang dilakukan Al Zaytun sendiri yang dalam banyak hal kontroversi misalnya terkait dengan perenggangan salat di sana bercampur antara laki-laki dan perempuan bahkan mohon maaf ada non muslim yang kemudian duduk di shaf terdepan," ujar Ziyad dikutip dari kanal YouTube tvOneNews pada Senin, 3 Juli 2023.

"Kemudian sekarang tidak ada udzur syar'i kemudian melakukan shaf social distancing ini juga menyalahi dalam konteks tuntunan agama, kecuali pada masa Covid dan itu sudah dikeluarkan fatwa tentang Covid sekarang udah enggak ada Covid gitu loh," sambungnya.
Adapun, MUI memiliki komitmen akan meluruskan konteks-konteks dan pemahaman yang ada di Ponpes Al Zaytun dengan melakukan penyelidikan.
Sejauh ini MUI sedang berada di tahap mengindikasi.
Baca juga: Panji Gumilang Panen Duit Lewat Lempar Jumrah 1 Muharam, Rekening Pimpinan Al Zaytun Menggendut
Dan untuk keputusan final MUI akan berdiskusi dengan lembaga yang berwenang.
"Inilah yang pemahaman terhadap sumber rujukan dan sunahnya yang menyalahi dalam penafsiran ini yang kemudian MUI meluruskan dalam konteks-konteks ini," terang Ziyad.
"Baru mengindikasi dari beberapa ini karena ini masih dalam proses untuk sampai dalam pemgambilan keputusan di Dewan Pimpinan," saambungnya.
Video dapat dilihat mulai menit pertama:
Tabiat Puluhan Santri Al Zaytun Terbongkar
Pengakuan mengejutkan diungkap Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutaji, Penasihat Ahli Kapolri yang pernah menangani kasus Pondok Pesatren (Ponpes) Al Zaytun.
Dilansir TribunWow.com, Aryanto menyebut banyak siswa di Ponpes Al Zaytun berubah memiliki perangai yang buruk.
Bahkan, banyak di antaranya siswa yang berubah menjadi pencuri setelah 'mondok' di ponpes yang dipimpin Panji Gumilang tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ponpes Al Zaytun dan Panji Gumilang erat dikaitkan dengan Negara Islam Indonesia (NII).
Sejumlah mantan pengikut Panji Gumilang bahkan mengaku diizinkan mencuri demi menyetorkan uang kepada Panji Gumilang cs setiap bulannya.
Hal itu pula yang dibongkar oleh Aryanto dalam kanal YouTube tvOneNews, Minggu (2/7/2023).
"Temuan saya waktu dulu masih menjabat sangat minim yang berkaitan dengan rekening," ucap Aryanto.
"Yang saya tangani adalah banyaknya ibu-ibu yang komplain anaknya jadi pencuri, menjual barang-barang milik orangtuanya untuk biaya negara NII."
"Selain itu juga banyak pembantu baru yang masuk satu minggu mengambil laptop juragannya," imbuhnya.
Aryanto memastikan, sempat mendapat laporan dari orangtua santri Ponpes Al Zaytun.
Baca juga: Nasib 4.985 Santri di Ponpes Al Zaytun Abu-abu Gegara Panji Gumilang, Begini Keinginan Menko PMK
Menurut dia, sejumlah santri Ponpes Al Zaytun bahkan tega berbohong hingga menjual barang orangtua demi membayar iuran kepada Panji Gumilang.
"Ibu-ibu yang komplain pada kita, ada 68 orang waktu itu," paparnya.
"Bahwa anaknya mengambil barang-barang, jual kursi, semacam itu."
"Katanya untuk dikasihkan kepada imamnya."
Kendati demikian, Aryanto tak tahu pasti berapa jumlah uang iuran yang harus dibayarkan pengikut Panji Gumilang setiap bulannya.
"Saya tidak sampai segitu, jadi perilaku yang berubah itulah, jadi tega dengan orangtua sendiri, tega berbohong, tidak menghargai orangtuanya," tukasnya.
(TribunWow.com/Dian/Tami)