Ponpes Al Zaytun dan Kontroversinya
Bandingkan Kasus Al Zaytun dengan Ahok, Salim Said Singgung 'Bekingan' Panji Gumilang: Bertele-tele
Kontroversi Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, terus bergulir.
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Via
Kala itu, menurut Ken, Panji Gumilang memiliki 250 ribu pengikut.
Ratusan ribu pengikut itu memenuhi Ponpes Al Zaytun setiap 1 Muharram.

Baca juga: Sudah 30 Tahun Berdiri, Ponpes Al Zaytun juga Mendapat Dana BOS dari Pemerintah untuk Panji Gumilang
Baca juga: Sosok Ini Sebut Ponpes Al Zaytun Miliki Banyak Utang di Bank di Tengah Fasilitas yang Mewah
Ken kemudian membahas soal ibadah tawaf yang dilakukan jemaah Al Zaytun memakai mobil.
"Keliling tawaf misalnya, kita bukan keliling Ka'bah tapi keliling pesantren seluas 1.200 Ha," ucap Ken.
"Kita bertakbir 'Inilah Islam, ini besar, mewah, megah, lengkap fasilitasnya'."
"Jadi meng-akbarkan Al Zaytun dengan segala lengkap fasilitasnya."
"Saya kira semua orang yang ke sana mengucapkan Subhanallah," tambahnya.
Ken menambahkan, jemaah Al Zaytun melakukan ibadah lempar jumroh ketika haji.
Namun, bukan kerikil yang mereka lemparkan.
Melainkan dengan melempar minimal 7 sak semen berisi uang.
"Ada juga istilah melempar jumroh, kalau di Mekkah kan pakai kerikil," ujarnya.
"Kalau di Al Zaytun 'Kita sedang bangun gedung, kalau pakai kerikil enggak kelar-kelar'."
"Jadi setiap orang yang datang ke sana di akhir sambutan Syekh Panji Gumilang ada ritual melempar jumroh."
"Misalnya dari Jakarta ada Rp 1 miliar, melempar jumrohnya enggak pakai kerikil, pakai sak semen dalam bentuk duit," tandas Ken. (TribunWow.com/Tami)
Baca artikel lain terkait Ponpes Al Zaytun