Polisi Tembak Polisi
Diteror saat Tangani Kasus Ferdy Sambo, Pengacara Brigadir Hampir Ungsikan Keluarga ke Luar Negeri
Pengacara Martin Lukas Simanjuntak membeberkan teror yang dialami saat menangani kasus Brigadir J.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Pengacara keluarga Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, Martin Lukas Simanjuntak, sempat hendak mengungsikan keluarganya ke luar negeri.
Dilansir TribunWow.com, hal ini dilakukan jika Martin mendapat bahaya saat menangani kasus melawan (eks) Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.
Pasalnya, selama menangani kasus pembunuhan berencana Brigadir J, Martin mengaku sempat mendapatkan sejumlah teror.
Baca juga: Kasus Sambo Belum Usai, Pengacara Brigadir J Buat Laporan Baru ke Polisi, Akui Rugi Rp 200 Juta
"Jadi hari pertama atau hari kedua, ada beberapa mobil yang menurut tangkapan CCTV saya, pergerakannya mencurigakan," beber Martin dikutip kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, Selasa (21/1/2023).
"Lalu kadang-kadang ada orang telepon tapi enggak jelas ngomongnya, kayak mau mencoba mensabotase."
"Ada kawan saya, sudah lama enggak Whatsapp, tiba-tiba Whatsapp mengatakan 'Hati-hati anak masih kecil."

Baca juga: Tak Dibayar, Ini Alasan Ronny Talapessy Bersedia Jadi Pengacara Bharada E, Ternyata Sudah Kenal Lama
Peristiwa janggal yang menimpanya tersebut terjadi bersamaan setelah dirinya memutuskan untuk menangani kasus Brigadir J.
Meski begitu, Martin tetap berniat untuk menyelesaikan sampai akhir.
"Ini kan jadi suatu pertanyaan besar, kok semuanya tiba-tiba semenjak nangani kasus ini," tutur Martin.
"Tapi kalau saya gini, ketika saya sudah melakukan sesuatu, ya sudah saya selesaikan sampai akhir."
Rupanya, Martin sempat merasa ragu ketika akan mengambil kasus pembunuhan berencana tersebut.
Apalagi, mengingat lawannya ada seorang jenderal bintang dua yang berpengaruh.
Namun ia akhirnya memutuskan menerima kasus tersebut meski tak dibayar, karena tergerak oleh tangisan ibu Brigadir J, Rosti Simanjuntak.
Karenanya, Martin mengintruksikan istrinya agar mengungsi jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan padanya.
Ia meminta sang istri untuk kabur ke luar negeri demi membesarkan dua anak mereka yang masih berusia 5 dan 1 tahun.