Konflik Rusia Vs Ukraina
Tak Gentar Ditodong Senjata, Ibu Ukraina Nekat Terobos Pasukan Rusia demi Bawa Pulang Jasad Anak
Seorang wanita paruh baya bernama Lyudmyla Kupriychuk menempuh perjalanan berbahaya demi membawa pulang anaknya kembali ke kampung halaman di Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Tidak ada yang terlalu memperhatikan pasangan paruh baya yang tiba di desa Tomaryne, dekat Kherson, yang dikuasai Rusia.
Dilansir TribunWow.com, keadaan masih kacau ketika pasangan itu tiba di sana pada Maret 2022, lantaran Rusia dan sekutunya belum membentuk pemerintahan mereka.
Mereka adalah seorang ibu bernama Lyudmyla Kupriychuk, dan mantan suaminya, Anatoliy yang merupakan warga sipil asal Vinnytsia, Ukraina.
Baca juga: Putrinya Dirudapaksa dan Dimutilasi Tentara Rusia, Ibu Ukraina: Dia Sangat Ingin Hidup
Keduanya nekat melakukan perjalanan berbahaya semala 12 jam di tengah perang, demi menemukan putranya, Maksym yang baru berusia 20 tahun.
Adapun Maksym yang tergabung dalam pasukan pertahanan negara Ukraina, dikabarkan meninggal pada hari kedua invasi Rusia pada 25 Februari 2022.
Dalam penuturannya, Kupriychuk mengaku sempat dihentikan oleh pihak Rusia saat bertemu dengan pos pemeriksaan berawak pertama.
"Saya keluar dari mobil dan berjalan menuju seorang pria yang menodongkan pistol ke arah saya," kenang Kupriychuk dikutip bbc.com, Sabtu (4/2/2023).
"Tapi saya tidak takut, yang saya rasakan hanyalah rasa muak terhadap orang-orang ini."

Baca juga: Putin Beri Sinyal Tak Takut Gunakan Senjata Nuklir di Ukraina? Jubir Presiden Rusia Menjawab
Dia menunjukkan kepada mereka foto tubuh putranya dan berhasil membujuk para prajurit untuk membiarkan mereka lewat.
Sebagai seorang prajurit profesional yang berbasis di Lviv di Ukraina barat, Maksym tidak memberi tahu ibunya bahwa pasukannya telah dikirim ke selatan untuk menghentikan serangan Rusia.
Kupriychuk pun terkejut ketika kekasih anaknya menelepon dan mengumumkan kematian Maksym.
Seorang rekan Maksym memiliki foto lapangan tempat dia dibunuh dan mengatakan jenazahnya masih ada.
Menurut sang rekan, Maksym telah ditembaki, tetapi tidak ada informasi lain tentang keadaan kematiannya.
Kupriychuk pun langsung menelepon unit militer Maksym, dan mereka menyuruhnya menunggu informasi.
"Setiap malam saya mengamuk mengetahui bahwa putra saya terbaring di sana dalam cuaca yang sangat dingin dan tidak ada yang menutupinya," ucap Kupriychuk.
Beberapa hari kemudian saat fajar menyingsing, orang tua Maksym berangkat untuk menemukannya dan membawa pulang jenazahnya.
Mereka tidak punya rencana, hanya foto, nama desa, dan kontak penduduk setempat yang secara sukarela membimbing mereka.
Setelah berhasil sampai di lokasi, Anatoliy, berjalan ke beberapa kendaraan lapis baja yang terbakar habis.
Mayat-mayat bergelimpangan di tanah.
"Dia merobek seragamnya untuk melihat apakah ada tato di lengannya," kata Kupriychuk.
"Dan itu ada di sana. Berbunyi 'Jangan pernah menyerah'. Hanya itu yang bisa kami kenali dari putra kami," kata wanita berusia 40 tahun itu, dengan suara bergetar.
"Mayat-mayat itu tergeletak di tempat terbuka selama berhari-hari, di antah berantah. Mereka tidak hanya terbakar, hewan liar juga menggerogotinya."
Kupriychuk sontak menangis di lapangan berlumpur setelah menemukan jasad Maksym.
Sementara, mantan suaminya sedang membungkus tubuh putra mereka dengan selimut.
"Saya histeris," beber Kupriychuk.
"Saya berkata: 'Apakah kita akan mengantarnya pulang di bagasi mobil?'"
"Mantan suamiku membentakku, 'Tenang, kita hanya perlu keluar dari sini'."
Saat kembali ke Vinnytsia, Kupriychuk langsung membawa jenazah Maksym ke kamar mayat.
"Yang mereka biarkan saya lihat hanyalah tangan putra saya," katanya.
"Mereka tidak membiarkan saya melihat tubuhnya karena kepalanya hilang."
Baca juga: UNHCR Turun Tangan Atasi Isu Rusia Deportasi dan Adopsi Paksa Pengungsi Anak dari Ukraina
Ibu Ukraina Ratapi Nasib Kerabat
Ekskalasi serangan Rusia meningkat setelah relatif tenang selama dua minggu.
Selain daerah Donbas di timur, wilayah Ukraina Selatan di dekat Zaporizhzhia juga turut menjadi sasaran.
Sejumlah warga pun memilih mengungsi meski tak sedikit yang tetap tinggal di rumahnya.

Baca juga: Gelap hingga Pakai Ember untuk Toilet, Ini Penampakan Basemen Tempat Tinggal 4 Nenek di Ukraina
Diketahui, sejak mundur dari ibu kota Ukraina, Kiev, pasukan Rusia mengaku akan mengonsentrasikan pasukan di wilayah Donbas.
Namun rupanya wilayah selatan juga menjadi sasaran, di mana suara-suara tembakan rudal terus-menerus terdengar.
Dilansir TribunWow.com dari laporan lapangan di kanal YouTube The New York Times, Selasa (19/4/2022), diperlihatkan kondisi perang yang tengah berlangsung.
Di desa Kamianske, pinggiran kota Zaporizhzhia, sepasang suami istri tua tampak berjalan membawa barang-barang mereka.
Sang suami menuntun sepedanya yang digunakan untuk mencantolkan tas jinjing yang tampak penuh.
Sementara, istrinya berjalan di samping dengan menyeret troli kecil di belakangnya.
Wanita yang diketahui bernama Halya Steblyuk itu menangis ketika diminta menceritakan tentang kondisi perang.
Ia tak kuasa bercerita ketika menuturkan nasib saudara dan iparnya yang meninggal karena dibunuh.
Seraya terisak, Steblyuk mengaku hanya bisa mengubur keduanya tanpa upacara pemakaman yang layak.
"Saudara perempuanku dan suaminya dibunuh, aku tidak bisa bicara," kata Steblyuk sesenggukan.
"Kami mengubur mereka seperti mengubur seekor anjing. Semua ini tak manusiawi."
Ia sempat menunjukkan rumahnya yang telah hancur diduga akibat serangan rudal.
Tampak genting dan beberapa bagian tembok hancur memperlihatkan isi rumah.
"Saya tinggal di sebelah situ, tapi semua sudah hancur," tunjuk Steblyuk.
"Saya akan pergi ke seberang, ke (rumah-red) saudara saya."
"Anak-anak kami sudah pindah. Tidak ada siapa pun di sekitar kami. Aku hanya berharap mereka bahagia."
Steblyuk mengaku sempat mengira dirinya akan meninggal ketika rudal meledak tak jauh dari lokasi persembunyiannya.
Ia pun mengaku sudah mengirim ucapan perpisahan pada semua orang yang dikenalnya.
"Kami duduk di ruang bawah tanah, dan misil meledak di dekat kami," ucap Steblyuk.
"Aku mengirim pesan mengatakan selamat tinggal untuk semua orang."
"Ini terlalu berat. Perang ini sangat berat. Maafkan saya," tangisnya sembari beranjak pergi.(TribunWow.com/Via)