Konflik Rusia Vs Ukraina
Belum juga Rebut Kembali Kherson dari Tangan Rusia, Apa Saja Kendala yang Dialami Ukraina?
Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov membeberkan upaya pembebasan di Kherson yang terhalang sejumlah faktor.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Serangan balasan Ukraina terhadap pasukan Rusia di wilayah Kherson selatan tak berjalan dengan mulus.
Dilansir TribunWow.com, Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov mengatakan Kherson memiliki cuaca basah dan medan yang lebih sulit.
Meski begitu, pihaknya terus melakukan upaya untuk mendesak Rusia yang makin terancam dan mulai melakukan evakuasi.
Baca juga: Konflik Makin Tak Terkendali, Rusia Serukan Warga Ukraina di Kherson Perangi Tentaranya Sendiri
Dilanporkan Al Jazeera, Rabu (26/10/2022), pasukan Kyiv menumpuk tekanan pada tentara Rusia di wilayah Kherson yang penting secara strategis.
Sejak awal invasi pada akhir Februari, sebagian wilayah tersebut telah diduduki oleh Moskow.
Adapun konsentrasi pasukan di wilayah tersebut mengancam Presiden Rusia Vladimir Putin dengan kemunduran besar lainnya di medan perang.
Namun, gerakan pasukan Ukraina tampak lebih lambat dibanding progres mereka saat merebut wilayah Kharkiv di timur laut.
Menurut Reznikov, hal ini dipengaruhi medan dan cuaca di Kherson yang banyak menguntungkan pasukan Ukraina.
"Pertama-tama, selatan Ukraina adalah wilayah pertanian, dan kami memiliki banyak saluran irigasi dan pasokan air, dan Rusia menggunakannya seperti parit, ini menguntungkan mereka," terang Reznikov dalam konferensi pers pada hari Rabu.
"Alasan kedua adalah kondisi cuaca. Ini adalah musim hujan, dan sangat sulit untuk menggunakan kendaraan pengangkut tempur beroda."

Baca juga: Komandan Rusia Akui Kewalahan Hadapi Ukraina, Kherson Terancam Lepas dari Genggaman Putin
Reznikov menambahkan bahwa kondisi tersebut mengurangi pilihan alat militer bagi angkatan bersenjata Ukraina.
"Kampanye serangan balik ke arah Kherson lebih sulit daripada ke arah Kharkiv," tandasnya.
Sebelumnya, seorang pejabat yang ditempatkan Rusia di Kherson mengatakan setidaknya 70.000 orang telah meninggalkan rumah mereka dalam waktu seminggu.
Para penduduk tersebut didesak untuk pergi oleh otoritas pro-Rusia di tengah serangan Ukraina.
"Saya yakin lebih dari 70.000 orang pergi dalam seminggu sejak penyeberangan diatur," kata Vladimir Saldo kepada saluran TV regional, merujuk pada upaya untuk memindahkan penduduk ke daerah yang dikuasai Rusia di tepi kiri Sungai Dniper.