Konflik Rusia Vs Ukraina
Penyiar Rusia Dicekal Buntut Seruan untuk Tenggelamkan Anak-anak dan Rudapaksa Nenek-nenek Ukraina
Pembawa acara Rusia dikecam lantaran seruan kontroversial untuk merudapaksa warga sipil dan tenggelamkan anak-anak Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Seorang pembawa acara di lembaga penyiaran pemerintah Rusia, RT, diskors akibat ucapannya terkait perang di Ukraina.
Dilansir TribunWow.com, pria bernama Anton Krasovsky tersebut menyerukan ucapan untuk menenggelamkan atau membakar anak-anak Ukraina.
Selain itu, ia juga dinilai menormalisasi kejahatan tentara Rusia yang melakukan rudapaksa pada warga Ukraina.
Baca juga: Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina
Acara bincang-bincang yang disiarkan secara nasional itu memicu kemarahan dari pihak Ukraina.
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menuduh saluran yang dikendalikan Kremlin itu sebagai hasutan genosida agresif dan menganjurkan pemboikotan RT secara global.
"Pemerintah yang masih belum melarang RT harus menonton kutipan ini. Ini adalah apa yang Anda bela jika Anda mengizinkan RT beroperasi di negara Anda. Penghasutan genosida yang agresif (kami akan mengadili orang ini), yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan berbicara. Larang RT di seluruh dunia!," seru Kuleba melalui akun Twitter @DmytroKuleba, Minggu (23/10/2022).
Dalam acara yang dipandunya, Krasovsky menghadirkan penulis fiksi ilmiah Rusia Sergei Lukyanenko untuk membahas mengenai propaganda perang.
Lukyanenko kemudian menyoroti isu Viagra yang dilaporkan dibekalkan ke tentara Rusia dengan perintah untuk melakukan aksi rudapaksa sebagai strategi perang.
"Ya, diberikan ke tentara kita (Rusia-red) untuk merudapaksa nenek-nenek Ukraina," ucap Krasovksy sinis, dikutip dari video yang dibagikan akun Twitter @JuliaDavisNews, Minggu (23/10/2022).
"Ya Tuhan, nenek-nenek itu malah akan merelakan tabungan hari tua mereka demi bisa dirudapaksa para tentara."

Baca juga: Tentara Rusia Dituding Rudapaksa 25 Gadis di Ruang Bawah Tanah Bucha, 9 di Antaranya Hamil
Ia kemudian mengatakan anak-anak Ukraina harus dilemparkan langsung ke sungai dengan arus yang kuat atau dibakar di gubuk karena menyebut Rusia sebagai penjajah.
Komentarnya merupakan tanggapan atas laporan Lukyanenko, tentang pertemuannya dengan anak-anak anti-Rusia selama kunjungannya ke Ukraina pada 1980-an.
"Mereka seharusnya ditenggelamkan di sungai Tysyna, di mana itik-itik berenang," kata Krasovksy.
"Tenggelamkan saja anak-anak itu, tenggelamkan mereka di Tysyna."
Adapun segmen yang berisi komentar Krasovsky tersebut telah dihapus dari akun media sosial RT.
Pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan mengatakan pihaknya menghentikan kolaborasi dengan Krasovsky untuk saat ini.
"Mungkin Anton akan menjelaskan apa yang menyebabkan kegilaan sementara terkait pernyataan kontroversial itu," tulis Simonyan di layanan pesan Telegram.
Krasovsky kemudian mengeluarkan permintaan maaf, dan mengatakan bahwa ia terhanyut suasana.
"Saya meminta maaf kepada semua orang yang ketakutan, saya meminta maaf kepada Margarita, kepada semua orang yang menganggap (komentar itu) liar, tidak terpikirkan, dan tidak dapat diatasi," tulis Krasovsky di jejaring sosial VKontakte Rusia, Senin (24/10/2022).
Baca juga: Wakil PBB: Rudapaksa dan Kekerasan Seksual Dipakai Rusia sebagai Bagian Strategi Militer di Ukraina
Anton Krasovsky Rayakan Serangan Misil ke Ukraina
Total ada 84 misil milik pasukan militer Rusia yang diluncurkan menyerang sejumlah wilayah Ukraina pada Senin (10/10/2022).
Serangan ini sontak menuai kecaman dari banyak negara hingga organisasi internasional.
Dikutip TribunWow dari bbc, namun di sisi lain, warga dan simpatisan Rusia yang pro akan perang justru merayakan serangan serentak tersebut.
Baca juga: Ditanya kenapa Anaknya Tidak Ikut Perangi Rusia, Diplomat Ukraina Ngamuk Maki-maki Politisi Jerman
Pimpinan Chechen Ramzan Kadyrov mengumumkan dirinya 100 persen senang seusai Rusia melakukan serangan misil serentak ke Ukraina.
Boss media Rusia RT.com menjelaskan bahwa serangan Rusia adalah pembalasan atas serangan misil yang menghancurkan jembatan penghubung antara Krimea dan Rusia.
Seorang jurnalis senior di RT bernama Anton Krasovsky mengunggah video dirinya menggunakan topi bersimbol Z lalu berjoget dan tersenyum.
Kemudian eks Presiden Rusia, Dmitry Medvedev memperingatkan bahwa serangan misil serentak itu barulah episode awal.
Analis kebijakan luar negeri Rusia, Andrei Kortunov melihat Rusia ingin mematahkan semangat tentara dan rakyat Ukraina dengan cara mengirimkan serangan berat yang mengincar infrastruktur vital.
Sejauh ini tercatat ada 19 orang tewas dan 105 luka-luka dalam serangan yang terjadi di Kyiv/Kiev, Kharkiv, Dnipro, Lviv, Sumy, Zaporizhzhia, dan beberapa daerah lainnya.
Dikutip TribunWow dari skynews, khusus Kyiv, diketahui Rusia terakhir kali meyerang Ibu Kota Ukraina terjadi pada Juni 2022 lalu.
Total ada 45 bangunan warga sipil yang menjadi korban serangan Rusia tersebut.
Serangan tersebut menghancurkan 3 sekolah, 1 Taman Kanak-kanak (TK), 5 fasilitas kesehatan, hingga 2 bangunan administrasi.
Baca juga: Khawatir Dunia Kiamat Gara-gara Perang Dunia III, Trump Minta Ukraina dan Rusia Segera Damai

Pada Selasa (11/10/2022), sirine serangan udara berbunyi serentak di seluruh wilayah di Ukraina.
Diketahui di Kyiv, serangan terjadi di jantung pusat kota yang sibuk selama jam sibuk di pagi hari.
Tubuh seorang pria dengan celana jins tergeletak di sebuah jalan di persimpangan utama, dikelilingi oleh mobil-mobil yang menyala-nyala.
Di sebuah taman, seorang tentara memotong pakaian seorang wanita yang berbaring di rumput untuk mencoba mengobati luka-lukanya.
Dua wanita lain berdarah di dekatnya.
Sebuah lubang besar menganga di sebelah taman bermain anak-anak di taman pusat Kyiv.
Sisa-sisa rudal yang tampak terkubur, berasap di lumpur.

Baca juga: Sosok Komandan Perang Baru Rusia, Ditunjuk Putin Pimpin Perang Ukraina meski Pernah Dipenjara 2 Kali
Lebih banyak tembakan rudal berlanjut di ibu kota pada pagi hari ketika pejalan kaki berkerumun untuk berlindung di pintu masuk stasiun metro dan di dalam garasi parkir.
Laporan awal dari pejabat di Kyiv menyebutkan jumlah korban setidaknya 11 orang tewas dan 64 orang lainnya terluka, tetapi ada kekhawatiran jumlahnya akan meningkat.
"Mereka berusaha menghancurkan kita dan menghapus kita dari muka bumi," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di aplikasi perpesanan Telegram dikutip Al Jazeera, Senin (10/10/2022).(TribunWow.com/Via/Anung)