Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Gara-gara Konflik di Ukraina, Warga Sipil Rusia Jadi Korban Kebijakan Baru Uni Eropa

Warga sipil Ukraina yang ingin memasuki negara-negara Uni Eropa kini harus merogoh kocek lebih dalam dan melalui birokrasi yang rumit akibat perang.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AFP
Warga Rusia ditangkap polisi saat melakukan protes anti-perang terhadap invasi Rusia ke Ukraina, Moskow, 24 Februari 2022. 

TRIBUNWOW.COM - Warga sipil Rusia kini semakin merasakan dampak negatif dari perang yang dilakukan oleh Presiden Vladimir Putin di Ukraina.

Kebijakan baru Uni Eropa mengharuskan warga sipil Rusia mengeluarkan biaya lebih jika ingin masuk negara-negara Uni Eropa.

Dikutip TribunWow dari bbc, kebijakan baru ini disebut akan terus berlaku hingga konflik antara Rusia dan Ukraina berakhir.

Baca juga: Zelensky Girang, Pasukan Ukraina Berhasil Rebut Sebagian Kherson dan Buat Pasukan Rusia Kelaparan

Wakil presiden Komisi Uni Eropa, Margaritis Schinas menjelaskan bagaimana Rusia telah merusak kepercayaan Uni Eropa.

Margaritis mengungkit bahwa sebelum konflik terjadi, masyarakat Rusia telah menikmati keistimewaan mudahnya memeroleh visa Uni Eropa.

Kini perjanjian visa antara Rusia dan Uni Eropa telah dihentikan.

Pada Selasa (6/9/2022), Menteri Luar Negeri Uni Eropa mengusulkan kebijakan baru untuk semakin memperketat peraturan bagi warga Rusia yang ingin masuk ke Uni Eropa.

Dalam peraturan baru ini nantinya biaya masuk ke negara Uni Eropa khusus masyarakat Rusia dinaikkan dari Rp 500 ribu menjadi Rp 1,1 juta.

Baca juga: Sebut Istilah Perang Total, Pemerintahan Putin Ungkap Cara Ukraina hingga AS dkk Perangi Rusia

Masyarakat Rusia juga diwajibkan mengikuti birokrasi yang panjang dan rumit serta harus menyertakan beragam dokumen pendukung.

"Orang Rusia seharusnya tidak memiliki akses mudah ke Uni Eropa," ujar Komisioner Urusan Dalam Negeri Uni Eropa, Ylva Johansson.

"Dan bepergian ke Uni Eropa sebagai turis bukanlah hak asasi manusia," terangnya.

Sebagai informasi, lebih dari satu juta masyarakat Rusia pergi ke negara-negara Uni Eropa sejak konflik terjadi di Ukraina pada Februari 2022 lalu.

Menanggapi kebijakan Uni Eropa yang mempersulit warga Rusia, juru bicara pemerintahan Putin, Dmitry Peskov menyebut kebijakan Uni Eropa sebagai keputusan konyol dan tidak masuk akal.

Baca juga: Perdana Menteri Ukraina Kunjungi Berlin, Cari Lebih Banyak Senjata untuk Lawan Rusia

Sebelumnya diberitakan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berpendapat sanksi yang diberikan oleh beberapa negara kepada Rusia masih lemah.

Volodymyr Zelensky merasa rakyat Rusia harus diajak ikut bertanggung jawab atas kebijakan yang dibuat oleh Presiden Vladimir Putin.

Dikutip TribunWow dari rt, salah satu caranya adalah melarang warga Rusia berkunjung ke negara lain.

Tatyana (kanan) dan Natalya (kiri) adalah dua warga Rusia di daerah pedesaan di Pskov yang pro terhadap kebijakan Presiden Vladimir Putin melakukan operasi militer spesial di Ukraina.
Tatyana (kanan) dan Natalya (kiri) adalah dua warga Rusia di daerah pedesaan di Pskov yang pro terhadap kebijakan Presiden Vladimir Putin melakukan operasi militer spesial di Ukraina. (BBC.com)

Pendapat ini disampaikan oleh Volodymyr Zelensky saat ia menjalani wawancara dengan media asal Amerika Serikat (AS) Washington Post pada Senin (8/8/2022).

Zelensky meyakini hanya dengan cara tersebut Rusia akan menyadari bahwa mengambil wilayah lain adalah hal yang salah.

"Rakyat (Rusia) memilih pemerintahan ini (Putin) dan mereka tidak berjuang untuk itu, tidak protes, tidak melawan," kata Zelensky.

Zelensky mengatakan dengan melarang rakyat Rusia pergi ke luar maka ada kemungkinan mereka akan memengaruhi Putin.

Sementara itu, di sebuah kota kecil di Rusia bernama Russko-Vysotskoye, pria bernama Dmitry Skurikhin seorang diri memprotes konflik yang terjadi di Ukraina.

Skurikhin menyuarakan protes terhadap perang dengan cara menulis menggunakan cat di tembok sebuah pusat perbelanjaan.

Bangunan pusat perbelanjaan tersebut diketahui dimiliki oleh Skurikhin.

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, ada dua jenis tulisan dalam dinding tersebut.

Pada jenis tulisan pertama, terdapat dua buah kalimat berkuran besar bertuliskan 'Damai untuk Ukraina, Merdeka untuk Rusia.'

Di bawah dua tulisan tersebut, Skurikhin menuliskan beberapa kata kecil dengan warna merah menyala.

Kota-kota tersebut di antaranya adalah Mariupol, Bucha, Kherson, Chernihiv, dan banyak kota lainnya.

"Saya rasa ini adalah cara yang baik untuk menyampaikan informasi," ujar Skurikhin.

Skurikhin menyampaikan, pada awal konflik terjadi, masyarakat di Rusia tidak tahu persis apa yang sedang terjadi.

"Mereka (masyarakat Rusia) berpikir operasi spesial dilakukan untuk menghilangkan pecandu obat-obatan terlarang dari pemerintahan Ukraina. Mereka tidak tahu Rusia menyerang kota-kota Ukraina," kata Skurikhin.

Di sebuah kota kecil di Rusia bernama Russko-Vysotskoye, pria bernama Dmitry Skurikhin seorang diri memprotes konflik yang terjadi di Ukraina.
Di sebuah kota kecil di Rusia bernama Russko-Vysotskoye, pria bernama Dmitry Skurikhin seorang diri memprotes konflik yang terjadi di Ukraina. (bbc.com)

Skurikhin menyadari risiko yang ia hadapi ketika melakukan ini.

Menurut pengakuan Skurikhin, ada orang tak dikenal menuliskan 'pengkhianat' di pintu rumahnya.

Begitu pula pihak kepolisian beberapa kali berkunjung ke kediaman Skurikhin.

Pada akhirnya Skurikhin dikenai denda karena mendiskreditkan pasukan militer Rusia.

"Saya tidak dapat duduk diam tidak melakukan apapun," ungkap Skurikhin.

Baca juga: Suaminya Dibunuh Tentara Rusia, Wanita di Ukraina Sempat Merasa Kasihan ke Pelaku

Nasib Pelaku Penyiram Cairan Merah ke Dubes Rusia

Di sisi lain, seorang wanita Ukraina yang menyiram duta besar Rusia untuk Polandia, Sergey Andreyev, dengan cairan merah telah meninggalkan Warsawa.

Ia mengaku dibanjiri ancaman pembunuhan setelah aksinya yang viral untuk memprotes perang di Ukraina.

Tak hanya itu, aktivis sekaligus jurnalis itu mengaku data pribadinya telah disebarkan di media-media Rusia.

Duta besar Rusia untuk Polandia, Sergey Andreyev diserang oleh demonstran di tengah acara perayaan hari kemenangan Rusia yang jatuh pada Senin (9/5/2022). (YouTube Daily Mail)
Duta besar Rusia untuk Polandia, Sergey Andreyev diserang oleh demonstran di tengah acara perayaan hari kemenangan Rusia yang jatuh pada Senin (9/5/2022). (YouTube Daily Mail) (YouTube Daily Mail)

Baca juga: Alami Sabotase, Fasilitas dan Pabrik Militer Rusia Meledak Diduga Aksi Protes Perang Ukraina

Wanita bernama Iryna Zemliana itu mengatakan bahwa dalam beberapa jam setelah melempar Andreyev dengan cairan seperti darah, dia mendapat berbagai ancaman di media sosial.

"Sepertinya Rusia siap membunuh untuk duta besar mereka yang sedikit ternoda borscht karena dia berdiri di dekat saya," kata Zemliana dikutip TribunWow.com dari Daily Mail, Rabu (18/5/2022).

"Saya mendapat ribuan pesan ancaman. Saya belum pernah melihat serangan besar-besaran dalam hidup saya."

Dia menambahkan bahwa dalam beberapa jam pertama setelah kejadian, semua data pribadinya termasuk nomor paspor, alamat di Ukraina, nomor telepon, email dan semua akun media sosial telah diposting ke saluran media sosial Rusia Telegram.

Sebuah pesan yang diposting di samping data mengatakan dia harus 'dihancurkan' dan sekarang wanita itu secara teratur menerima ancaman kematian, mutilasi, dan pemerkosaan.

Banyak dari pesan kebencian itu turut menyertakan gambar-gambar mengerikan.

"Secara harfiah semua teman saya dibanjiri pesan. Seseorang menelepon setiap tiga menit dari nomor yang tidak dikenal, email datang setiap menit, semua surat macet (saya jadi tidak punya pekerjaan), telepon tidak berguna," tutur Zemliana.

"Dan 25 ribu bot terdaftar di Instagram saya dalam beberapa jam."

Setelah melaporkan ancaman kepada polisi, dia mengatakan bahwa dia diberitahu situasinya sangat serius.

Melalui postingan di Facebook pribadinya, Zemliana berkata ia harus mencari suaka di luar ibu kota Polandia.

"Saya telah dipaksa untuk meninggalkan Warsawa di bawah perlindungan, karena bisa berbahaya bagi saya di sana," tulis Zemliana.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa saya harus melarikan diri dua kali."

Diketahui, Andreyev dihadang oleh pengunjuk rasa ketika ia mencoba untuk menandai Hari Kemenangan - penyerahan Nazi Jerman pada tahun 1945 - pada upacara Militer Soviet di ibu kota Polandia.

Dia dihalangi memasuki pemakaman oleh kerumunan yang mengibarkan bendera Ukraina di wajahnya dan meneriakkan 'fasis' sebelum orang-orang mulai melemparkan barang-barang ke arahnya.

Andreyev dan petugas keamanannya dipukul beberapa kali dengan proyektil sebelum Zemliana menyiramnya dengan darah palsu.

Menteri Luar Negeri Polandia Zbigniew Rau kemudian menyebut insiden itu menyedihkan, meskipun Menteri Dalam Negeri Mariusz Kaminski mengatakan kemarahan di balik protes itu dapat dimengerti.

Kaminski menambahkan bahwa duta besar telah diperingatkan untuk tidak menghadiri pemakaman sebelum serangan itu.

Andreyev kemudian mengatakan bahwa dia tidak terluka selama serangan itu.

Namun insiden itu menambah ketegangan yang telah terbangun antara Rusia dan negara-negara bekas Soviet lainnya sejak invasi ke Ukraina. (TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr ZelenskyUni EropaAmerika Serikat
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved