Konflik Rusia Vs Ukraina
Diduga Jengkel karena Konflik Ukraina, Putin Reshuffle Komandan Pasukan Militer Rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin merombak jajaran komandan pasukan militer Rusia diduga terkait konflik di Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Beredar sebuah video dan pernyataan dari pemerintah Rusia bahwa telah terjadi reshuffle dalam jajaran komandan pasukan militer Rusia.
Reshuffle ini dilakukan oleh Kementerian Pertahanan Rusia.
Dikutip TribunWow.com dari themoscowtimes.com, menurut analis militer, Rob Lee, reshuffle terjadi karena lambatnya kemajuan Rusia dalam konflik di Ukraina.
Baca juga: NATO Minta Ukraina Terus Lawan Rusia: Pertempuran Ini Hanya Bisa Dimenangkan di Medan Perang
Saat ini sosok yang ditunjuk menjadi pemimpin operasi militer Rusia di Ukraina diduga kuat adalah Kolonel Jenderal Gennady Zhidko.
Spekulasi ini muncul seusai Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengajak Zhidko ke bagian timur Ukraina.
Sementara itu Jenderal Alexander Dvornikov yang merupakan komandan sebelumnya kini sudah beberapa minggu tak terlihat di publik.
Rob Lee meyakini reshuffle dilakukan agar Rusia bisa menang besar dalam konflik di Ukraina.
Analis militer independen Pavel Luzin menyebut pemerintah Rusia sedang bereksperimen.
"Mencoba untuk tidak kalah dalam perang ini," kata Luzin.
Selain Dvornkikov, komandan lain yang diganti adalah Kolonel Jenderal Andrei Serdyukov yang diganti oleh Kolonel Jenderal Mikhail teplinsky sebagai komandan terjun payung elit Rusia.
Analis Luzin pesimis reshuffle komandan pasukan militer Rusia dapat efektif.
Ia menyebut masalah yang dialami Putin saat ini adalah Rusia tidak memiliki angkatan bersenjata yang efektif.
Baca juga: Sebut Serangan Rusia ke Mal Kremenchuk Bukan Salah Sasaran, Presiden Ukraina: Teroris yang Sembrono
2 Jenderal Rusia Mati dalam 1 Hari
Sebelumnya, Putin kehilangan dua komandan paling seniornya dalam satu hari.
Keduanya gugur dalam penyergapan jembatan yang dilakukan oleh pasukan Kiev.
Insiden ini menjadi kehilangan besar pertama Rusia setelah melakukan pertempuran di wilayah Donbas di Ukraina timur.
Baca juga: Minta Doa Masyarakat, Jokowi Pamit Kunjungi Rusia dan Ukraina: Ajak 2 Pemimpin untuk Dialog
Dilansir TribunWow.com dari Daily Mail, Senin (6/6/2022), Rusia mengkonfirmasi kematian Mayor Jenderal Roman Kutuzov pada hari Minggu.
Tetapi, pada hari Senin, sebuah laporan mengatakan Letnan Jenderal Roman Berdnikov tewas pada hari yang sama dalam serangan yang dilakukan oleh pasukan Kyiv.
Telah dikemukakan bahwa kecepatan yang tidak biasa atas laporan kematian Kutuzov yang dikonfirmasi oleh Moskow adalah upaya untuk menutupi hilangnya Berdnikov (47).
Baca juga: Bahas Rusia hingga Bebas Visa, Zelensky Ungkap Isi Diskusi dengan Jokowi di Ukraina
Sebagai informasi, kurang dari sebulan yang lalu, Berdnikov adalah komandan satuan tugas angkatan bersenjata Rusia di Suriah, dan dia dipindahkan untuk memimpin pasukan Putin dan Republik Rakyat Donetsk (DPR) di Donbas.
Jika kematiannya dikonfirmasi secara resmi, dia akan menjadi jenderal ke-12 yang terbunuh dalam perang.
Itu berarti dua komandan Rusia paling senior di Donetsk dihancurkan dalam satu serangan yang akan menjadi kemunduran bagi tentara Putin.
Klaim bahwa Berdnikov dan Kutuzov tewas berasal dari saluran Telegram Volya yang memiliki jurnalis perang independen yang bekerja di kedua sisi konflik.
"Pada pagi hari tanggal 5 Juni, Letnan Jenderal Roman Berdnikov, yang memimpin pasukan Rusia dan unit DPR dari Donetsk, pergi dengan markas dalam perjalanan kerja," kata media tersebut.
"Dalam perjalanan, mungkin di sebuah jembatan, kendaraan markas besar diserang oleh kelompok sabotase dan pengintaian Ukraina."
"Bagian dari konvoi itu hancur atau tidak dapat bergerak tetapi beberapa kendaraan, setelah menerima kerusakan serius dan menembak balik, dapat melarikan diri dari penyergapan dan pergi."
Dalam serangan itu, Jenderal Berdnikov dilaporkan termasuk dalam sejumlah korban tewas.
"Setelah itu, sumber kami melaporkan bahwa Roman Berdnikov tewas dalam pertempuran ini," lanjut laporan itu.
"Beberapa saat kemudian, dua sumber lagi mengkonfirmasi hal ini, menyebutkan bahwa perwira senior lainnya kemungkinan ikut tewas selama pertempuran."
Kemudian muncul laporan bahwa komandan kedua selain Berdnikov, Kutuzov, juga telah meninggal.
Volya merinci bahwa Kutuzov tewas di sebuah jembatan di wilayah Donetsk, dan bukan di lokasi di Wilayah Luhansk yang disebutkan dalam laporan awal Rusia.
"Masuk akal jika mereka berdua naik konvoi yang sama dan keduanya disergap," kata laporan itu.
"Sebagian dari konvoi berhasil melarikan diri. Kami berasumsi bahwa Berdnikov berada di salah satu mobil yang selamat, tetapi meninggal selama penembakan."
Pasukan yang lolos segera melaporkan mengenai serangan tersebut.
Para tentara Rusia pun mendatangi lokasi dan menemukan jasad Kutuzov.
"Mereka yang lolos dari api tidak dapat mengetahui nasib korban yang masih berada di jembatan. Mereka melaporkan serangan dan kematian Berdnikov ke markas besar dan bagian dari konvoi itu tetap terputus dan berada di bawah tembakan," tulis media Volya.
"Dengan cepat menjadi jelas bahwa Mayor Jenderal Kutuzov termasuk di antara mereka yang tersisa di jembatan itu. Dan segera setelah militer Rusia tiba di medan perang, tubuhnya juga ditemukan."
Namun, laporan itu memprediksi bahwa pihak Ukraina belum mengetahui tentang tewasnya Berdnikov.
Adapun kematian dua jenderal Rusia dalam sehari ini merupakan yang pertama terjadi sejak dimulainya invasi.
"Angkatan Bersenjata Rusia belum pernah kehilangan dua jenderal dalam sehari di Ukraina," klaim Volya.
"Jelas bahwa 'penyabot' Ukraina tidak akan diam dan akan menceritakan tentang serangan yang berhasil."
"Mereka tidak tahu bahwa mereka juga berhasil membunuh Berdnikov, karena mereka hanya melihat mayat Mayor Jenderal Kutuzov."
Baca juga: Putin Berang Ancam Serang Target Baru di Ukraina jika AS Kirim Pasokan Rudal Jarak Jauh
Baca juga: Pengakuan Tentara Rusia yang Menolak ke Medan Perang di Ukraina: Tak Ingin Membunuh dan Dibunuh
Ukraina Temukan 80 Jasad Tentara Rusia
Seorang tentara Ukraina bernama Vadym memiliki tugas yang berbeda dibandingkan tentara pada umumnya.
Memimpin tim khusus yang terdiri dari dua orang sukarelawan, tim yang dipimpin Vadym bertugas mencari mayat tentara Rusia.
Selama melakukan misinya, tim Vadym berhasil menemukan 80 mayat tentara Rusia dan 20 jenazah warga sipil.
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, tim Vadym diketahui hanya memindahkan jasad para tentara Rusia.
Hal ini dikarenakan jasad para warga sipil akan ditangani oleh pihak kepolisian untuk keperluan penyelidikan terkait adanya dugaan kejahatan perang.
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh tim Vadym melalui pengumpulan jenazah tentara Rusia.
Beberapa tujuan tersebut di antaranya adalah demi menjaga kebersihan atau higenitas lingkungan, kemudian untuk menukar jasad tersebut dengan prajurit Ukraina baik yang hidup ataupun tewas.
Selain itu pengumpulan jenazah tentara Rusia juga memperkuat bukti bahwa wilayah yang bersangkutan sempat menjadi target invasi dan bukti pasukan Ukraina melakukan perlawanan.
Dalam mengerjakan tugasnya, Vadym dan dua anggotanya bekerja berbekal informasi dari warga sipil.
Para warga sipil biasanya melaporkan adanya bau busuk hingga perilaku mencurigakan tentara Rusia.
Tim Vadym juga pernah mendapat laporan adanya sebuah kuburan massal dari pengakuan seorang warga.
Hambatan yang dialami oleh Vadym dan timnya adalah keberadaan tentara Rusia hingga ranjau darat.
Tak jarang laporan yang diterima oleh tim Vadym tidak akurat.
Tim Vadym pernah hanya menemukan bangkai peralatan militer para tentara Rusia.
Saat menemukan jasad tentara Rusia, tim Vadym diketahui tidak tergesa-gesa melakukan pemindahan.
Hal ini dikarenakan risiko serangan hingga keamanan daerah tersebut.
Sebelumnya beredar sebuah video menampilkan pemerintah Ukraina menyimpan jasad para tentara Rusia.
Video ini dirilis pada Jumat (20/5/2022) setelah adanya laporan menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah kehilangan 30 ribu tentaranya dalam konflik di Ukraina.
Video tersebut dirilis oleh Kepala Kereta Api Ukraina, Alexander Kamyshin.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, selain menampilkan detik-detik penyimpanan jasad tentara Rusia, ditampilkan juga cara pemerintah Ukraina mengawetkan jasad para tentara Rusia tersebut.
Kamyshin turut menuliskan caption bertuliskan "We treat dead #russians better than they treat live #ukrainians. Just another thing that makes us different."
Kalimat tersebut memiliki arti "Kami memperlakukan jasad orang Rusia lebih baik dibandingkan mereka memperlakukan warga Ukraina yang hidup. Hanya hal lain yang membuat kita berbeda."
Pemerintah Ukraina menjelaskan, berdasarkan hukum humaniter, jasad para tentara Rusia itu akan dikembalikan ke keluarga korban.
Tertulis juga pesan dalam video itu bahwa pemerintah Rusia menutupi angka kematian pasukan mereka dari masyarakat mereka sendiri untuk menghindari kepanikan dan kericuhan.
Pada akhir video dituliskan bahwa kargo 200 siap dikirim ke Rusia.
Kalimat 'Kargo 200' diketahui merupakan kode militer era Uni Soviet yang berarti korban perang. (TribunWow.com/Anung/Via)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/p2i-moskow-rusia-pada-tahun-2020.jpg)