Konflik Rusia Vs Ukraina
Panglima Tentara Inggris Sebut Mustahil Rusia Bisa Kuasai Seluruh Ukraina: Kehabisan Orang
Panglima tentara Inggris menjelaskan mengapa Rusia saat ini secara strategis sebenarnya sudah kalah dari Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Pimpinan pasukan militer Inggris Admiral Sir Tony Radakin menyatakan saat ini Rusia secara strategis sudah kalah dari Ukraina.
Radakin menjelaskan, saat ini Rusia telah kehilangan 25 persen kekuatan militernya.
Ia menegaskan mustahil bagi Rusia untuk menguasai seluruh Rusia.
Baca juga: Tak akan Minta Zelensky Korbankan Wilayah, AS Buka Suara soal Solusi Akhiri Konflik Ukraina Vs Rusia
Baca juga: Kamera Satelit Pergoki Kapal Berbendera Rusia Bawa Gandum Milik Ukraina ke Negara Ini
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, Radakin mengatakan Rusia telah membuat kesalahan fatal.
"Rusia tidak akan pernah menguasai Ukraina," kata dia.
Radakin mengatakan, Rusia per harinya hanya mampu melakukan ekspansi sebanya dua hingga lima kilometer.
"Ini akan menjadi pertempuran yang panjang dan kita mendukung Ukraina, Ukraina telah memperlihatkan keberaniannya," katanya.
Menurut Radakin, Rusia saat ini semakin melemah karena terus menerus kehilangan personil dan kehabisan senjata.
"Gagasan bahwa ini adalah kesuksesan bagi Rusia adalah omong kosong. Rusia gagal," ujar Radakin.
Sebelumnya, sebuah tudingan dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace.
Wallace menuding Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan taktik perang yang mirip dengan strategi milik pimpinan Nazi Jerman Adolf Hitler.
Beberapa di antaranya adalah eksekusi massal hingga deportasi.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Wallace menyampaikan, pesan yang saat ini didengar oleh dunia dari Rusia memiliki kesamaan dengan pesan dari Nazi Jerman tahun 1930-1940.
Dalam sebuah konferensi di Islandia, Wallace mengatakan Putin menggunakan pasukan militernya layaknya mesin penggiling daging.
Wallace menuding Putin tidak segan menghilangkan orang yang identitasnya bertentangan dengan keyakinan pemerintah Rusia.