Konflik Rusia Vs Ukraina
Dipenuhi Darah Kering, Kamar Mandi Stasiun Jadi Ruang Penyiksaan, Berikut Pengakuan Warga Ukraina
Warga Ukraina menuturkan penyiksaan kejam yang dilakukan prajurit Rusia saat menduduki kota Trostyanets, Sumy.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Bukti kejahatan perang Rusia yang meluas dapat ditemukan di seluruh Ukraina.
Seperti kuburan massal di Bucha, kesaksian memilukan dari kota-kota seperti Irpin dan Borodyanka, dan tembok berlumuran darah di bawah stasiun kereta yang dulu ramai adalah pengingat kekejaman Kremlin.
Begitu pun yang terjadi di Sumy Oblast, khususnya di kota timur laut Trostyanets.

Baca juga: Tentara Rusia Dituding Rudapaksa 25 Gadis di Ruang Bawah Tanah Bucha, 9 di Antaranya Hamil
Baca juga: Bayi Laki-laki 1 Tahun Tewas Dirudapaksa Tentara Rusia, 2 Orang Kakek Ikut Jadi Sasaran
Dilansir TribunWow.com dari KyivPost, Selasa (14/6/2022), pada awal Maret, sebanyak 20.000 orang yang tinggal di sini menjadi saksi kengerian yang terjadi.
Lantaran daerah tersebut dinilai sebagai titik strategis antara Sumy dan Kharkiv, pasukan Rusia pun melakukan penyerangan sebagai upaya untuk menduduki wilayah.
Mereka berbaris di jalan-jalan, mengendarai tank ke lingkungan yang damai, mengebom toko-toko dan sekolah, memperkosa dan membunuh warga sipil, dan menyeret orang-orang Ukraina yang tidak bersalah dari rumah mereka.
Mereka yang tidak segera dieksekusi dibawa sebagai tahanan ke stasiun kereta terdekat.
Seorang anggota staf stasiun menunjukkan sebuah ruang tunggu di lantai dasar yang sekarang sudah bersih dan kosong.
Pada saat Rusia menguasai wilayah itu, ruangan besar berlantai marmer ini digunakan sebagai tempat tinggal.
"Ketika tentara Ukraina merebut kembali Trostyanets dan kami bisa kembali ke dalam, kami menemukan ruangan ini penuh dengan kantong tidur kotor, sampah, dan bahkan kotoran manusia,” kata staf stasiun tersebut.
"Petugas Rusia tidur di lantai atas di tempat yang lebih nyaman. Tapi di bawah sini, para prajurit hidup seperti binatang."
Petugas itu kemudian memperlihatkan blok kamar mandi stasiun yang telah berubah menjadi ruang penyiksaan.
Tampak dari bekas-bekas hantaman dan darah mengering yang banyak tercetak di dindingnya.
Di bawah sini, di loket tiket kecil yang lembap, banyak pria lokal disiksa dengan mengerikan.
Dengan mata tertutup, dengan tangan dan kaki terikat, mereka dilempar ke dinding yang hingga kini masih berlumuran darah.