Konflik Rusia Vs Ukraina
Habisi 20 Jenderal Rusia, Eks Tentara SAS Inggris Direkrut Lewat WA untuk Terlibat Perang Ukraina
Tim elite mantan tentara khusus Inggris, The Special Air Show (SAS), dilaporkan telah membunuh 20 jenderal Rusia di Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Atri Wahyu Mukti
Selain jenderal, setidaknya 49 kolonel telah tewas sejauh ini dalam perang Ukraina dalam kemunduran besar-besaran ke Putin.
Pasukan Rusia kini diketahui telah mengintensifkan serangan untuk merebut Severodonetsk, sebuah kota utama di wilayah Donbas timur Ukraina.
Ratusan warga sipil yang ketakutan berlindung di sebuah pabrik kimia Azot, di tengah serangan mematikan Kremlin.
Jika orang-orang Putin menguasai kota, maka Moskow akan mendapat kendali atas seluruh wilayah Luhansk yang disinyalir dapat mengubah gelombang konflik.
Baca juga: Ukraina Tangkap Agen Propaganda Rusia di Kiev, Terungkap Cara Intelijen Putin Sebarkan Hoaks
Baca juga: Kadyrov Dukung Hukuman Mati untuk 3 Tentara Asing di Ukraina, Beri Pesan untuk Para Prajurit Bayaran
Intelejen AS Akui Beri Arahan Ukraina
Intelijen Amerika Serikat ternyata memainkan peran penting dalam konflik Ukraina dan Rusia.
Selama perang terjadi, mata-mata AS telah memberi informasi rahasia dan mengarahkan serangan Ukraina.
Aksi tersebut mendukung keberhasilan Ukraina yang telah memukul mundur Rusia dari Kiev dan menewaskan sedikitnya 8 jenderal perang Moskow.
Pengakuan AS tersebut membuktikan tudingan Rusia yang telah mengendus adanya kerjasama khusus tersebut.
Dilansir TribunWow.com dari The Daily Mail, Rabu (28/4/2022), Para pejabat mengungkapkan kepada NBC News pada hari Selasa bahwa intelijen Amerika banyak membantu Ukraina mengantisipasi serangan Rusia.
Sejauh ini, mata-mata AS telah membantu pemerintah Ukrania dengan berulang kali menandai waktu dan lokasi serangan yang direncanakan pasukan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Sejak awal, kami sangat condong ke depan dalam berbagi strategi dan aksi intelijen dengan Ukraina," kata seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya.
"Hal ini berdampak baik pada tingkat taktis dan strategis. Ada contoh di mana anda bisa menceritakan kisah yang cukup jelas bahwa ini membuat perbedaan besar."
Seorang mantan pejabat intelijen senior juga mengatakan kepada NBC News tentang aliansi de facto.
"Ada banyak informasi intelijen real-time yang dibagikan dalam hal hal-hal yang dapat digunakan untuk secara khusus menargetkan pasukan Rusia," terangnya.