Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Otoritas Ukraina Minta Warga Sipil Ramai-ramai Kumpulkan Bukti Kejahatan Perang Rusia Pakai Cara Ini

Otoritas Ukraina mengajak warganya untuk ikut serta berpartisipasi mengumpulkan bukti-bukti kejahatan perang tentara Rusia di Ukraina.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
The New York Times
Video tentara Rusia diduga melakukan pembantaian warga sipil di Bucha, Ukraina. Ilustrasi contoh kejahatan perang di Ukraina. 

TRIBUNWOW.COM - Sejauh ini telah ada beberapa tentara Rusia yang diadili di Ukraina atas kasus kejahatan perang.

Kasus yang diadili beragam, mulai dari pembunuhan warga sipil hingga serangan terhadap pemukiman penduduk.

Kini otoritas Ukraina menyerukan ajakan kepada warganya untuk ikut berpartisipasi mengumpulkan bukti kejahatan perang tentara Rusia di Ukraina.

Baca juga: Sempat Mengira akan Dibunuh, Pasukan Azov Ukraina Yakin Menyerah ke Rusia adalah Pilihan Tepat

Baca juga: Curigai Ada Tujuan Tertentu, Zelensky Ngaku Ukraina Ditekan agar Segera Damai dengan Rusia

Dikutip TribunWow.com dari aljazeera.com, satu dari beberapa caranya adalah dengan merekam kondisi di sekitar.

Penyiar di Ukraina memaparkan secara detail langkah demi langkah cara mengumpulkan bukti kejahatan perang.

Berikut contoh pemaparan yang disampaikan oleh penyiar di Ukraina:

1. Ambil foto panorama 360 derajat

2. Pegang kamera Anda secara stabil

3. Sorot hal-hal detail

4. Komentari tentang apa yang Anda rekam

Seorang pengacara bernama Anna Vishnyakova meminta kepada warga Ukraina untuk menyimpan file original rekaman video-video tersebut yang dapat menjadi bukti kasus dugaan kejahatan perang.

Pada saat yang sama, Anna meminta agar warga tidak menyebarkan video serangan tentara Rusia, korban warga Ukraina ke media sosial.

Ia khawatir Rusia justru akan memanfaatkan hal tersebut demi keuntungan mereka.

Anna meminta warga menyimpan file original video hingga nanti tiba saatnya momen pengadilan kejahatan perang.

Sebelumnya, pemerintah Ukraina menyebut ada delapan tentara Rusia yang bertanggung jawab atas 14 kasus kejahatan perang di Ukraina.

Dari total delapan tentara Rusia tersebut, tiga di antaranya adalah tentara bayaran dari grup Wagner.

Kedelapan orang ini dijuluki monster dari Motyzhyn.

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, beberapa kasus kejahatan perang tersebut di antaranya adalah pembunuhan satu keluarga di kota Motyzhyn yang terletak 30 mil dari Kyiv/Kiev.

Di kota tersebut, sang wali kota yakni Olga Sukhenko bersama suaminya Igor dan anaknya Alexander diculik pada Maret 2022 lalu ditemukan dalam kondisi tewas pada April 2022.

Berdasarkan keterangan dari Jaksa Agung Ukraina Iryna Venediktova, Olga dan keluarganya sempat disiksa secara sadis sebelum akhirnya ditembak mati.

Olga diketahui melihat langsung bagaimana anak dan suaminya disiksa lalu dibunuh.

"Pertama mereka menembak kaki kanan sang anak sebelum mata ibunya (Olga), kemudian mereka membunuhnya dengan tembakan ke kepala," ujar Venediktova.

"Satu keluarga tewas karena beberapa luka tembak," jelasnya.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, kedelapan kriminal itu juga sempat menangka dua sukarelawan yang hendak membawakan bantuan kemanusiaan untuk penduduk Motyzhyn.

Kedua sukarelawan itu disiksa seusai ditangkap, mereka diinterogasi kemudian ditembak.

Beruntung satu dari dua sukarelawan berhasil bertahan hidup.

Berikut adalah identitas dari kedelapan pelaku:

1. Letnan Senior Oleg Krikunov
2. Sersan Chingis Gonchikov
3. Sersan Alexandr Vanchikov
4. Sersan Magomedmirza Suleymanov
5. Letnan Senior Vitaliy Dmitriev
6. Sergey Sazanov
7. Sergey Sazonov
8. Aleksandr Stupnitskiy

Di sisi lain, Jaksa Agung Ukraina Irina Venediktova tidak mengesampingkan kemungkinan pertukaran tentara Rusia Vadim Shyshimarin.

Pemuda 21 tahun itu merupakan prajurit Rusia pertama yang dihukum karena kejahatan perang oleh pengadilan di Kiev.

Ia divonis bersalah setelah pengadilan menunjukkan bukti-bukti tak terelakkan dan mendengar pengakuan pelaku.

Pada hari Senin (23/5/2022), Shyshimarin dijatuhi hukuman seumur hidup karena terbukti membunuh seorang warga sipil Ukraina.

Korban bernama Alexander Shelipov (62) tewas ditembah saat berada di kawasan rumahnya, daerah timur laut Wilayah Sumy, Ukraina.

Mengenai putusan kliennya, pengacara Shyshimarin mengatakan mereka akan mengajukan banding atas keputusan pengadilan.

Di sisi lain, Venediktova mengakui ada kemungkinan Shyshimarin ditukar dengan pihak Ukraina yang ditawan Rusia.

Namun pertukaran tawanan perang adalah masalah politisi dan diplomat, jadi dia hanya bisa membicarakan kasus ini dari perspektif peradilan pidana.

"Skenario kami bisa sangat berbeda. Anda dapat menukar seseorang setelah keputusan pengadilan. Ya, secara teknis memungkinkan,” klaim Venediktova dikutip TribunWow.com dari RT, Rabu (25/5/2022).

Venediktova menambahkan bahwa pihak berwenang Ukraina bertindak sesuai dengan semua persyaratan hukum humaniter.

Selain itu, karena seluruh dunia menyaksikan tuntutan hukum semacam itu, Ukraina dinilai harus menetapkan standar tinggi.

Istri korban, Ekaterina Shelipova, mengatakan di pengadilan bahwa dia ingin melihat Shyshimarin mendapatkan hukuman seumur hidup.

"Tetapi jika dia digantikan oleh para pembela Azovstal kami, saya tidak akan keberatan," tambahnya, mengacu pada pasukan Ukraina yang menyerah pekan lalu setelah blokade selama berminggu-minggu di pabrik baja Azovstal, Mariupol.

Pada hari Senin, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Moskow prihatin dengan persidangan tentara tersebut.

Terutama mengingat Rusia saat ini tidak memiliki kemampuan untuk melindungi kepentingannya di Ukraina.

"Tetapi ini tidak berarti bahwa kami tidak akan mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan upaya (untuk membantu prajurit) melalui cara lain," tutur Peskov.

Sebelumnya, Peskov menjelaskan bahwa pertukaran tahanan dilakukan terus-menerus dalam satu atau lain bentuk.

Adapun sejak peluncuran serangan militer Rusia di Ukraina, Moskow dan Kiev telah saling menuduh melakukan berbagai kejahatan perang.

Baca juga: Tentara Rusia Pertama yang Diadili atas Kejahatan Perang Akui Bersalah: Saya Diperintahkan Menembak

Baca juga: Tak Hanya Kejahatan Perang, Rusia akan Diadili akibat Perusakan Lingkungan selama Invasi Ukraina

Diam dengan Ekspresi Datar

Diketahui, vonis hukuman penjara seumur hidup pada Shyshimarin dijatuhkan oleh pengadilan di Ukraina pada Senin (23/5/2022).

Dikutip TribunWow.com dari Sky News, Shyshimarin mengaku telah menembak mati pria bernama Oleksandr Shelipov (62) dari dalam mobilnya.

Pada saat sidang pembacaan vonis, Shyshimarin hadir mengenakan pakaian yang sama seperti pada sidang-sidang sebelumnya yakni jaket berwarna biru dan abu-abu.

Ditempatkan di dalam boks kaca, Shyshimarin tampak hanya diam ketika vonis dibacakan.

Ia tidak menunjukkan emosi apapun baik itu sedih, marah atau kecewa.

Dalam foto yang beredar, hanya tampak ekspresi datar dan kosong dari wajah Shyshimarin.

Vadim Shyshimarin diketahui menjadi orang pertama yang diadili atas kasus kejahatan perang di Ukraina sejak pecahnya konflik pada 24 Februari 2022 lalu.

Saat dihadirkan dalam persidangan pada Kamis (19/5/2022), Shisimarin mengaku dirinya sebenarnya tak ingin membunuh warga sipil tersebut.

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, kala itu Shyshimarin bersama tentara Rusia lainnya tengah terpisah dari kelompok mereka.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencuri mobil agar bisa kembali bergabung dengan grup mereka.

"Saat kami tengah berkendara, kami melihat seorang pria. Dia berbicara ke telepon," ujar Shyshimarin.

Kala itu Shyshimarin ditekan oleh tentara Rusia lainnya agar menembak warga sipil tersebut.

Shyshimarin mengaku kala itu ia tidak ingin menembak mati korban.

Seorang tentara rusia lain bernama Ivan Maltysev (21) yang juga berstatus sebagai saksi mata mengatakan kepada pengadilan bahwa para tentara Rusia menyadari keberadaan korban yakni Oleksandr Shelipov ketika mereka tengah mengendari mobil curian mereka.

Maltysev mengiyakan bahwa Shyshimarin diperintahkan untuk menembak mati warga sipil tersebut.

"Berteriak kepada Vadim untuk melakukan perintah, atau kita akan diadukan (oleh korban)," ujar Maltysev.

Maltysev menyampaikan, Shyshimarin menembakkan tiga hingga empat peluru ke arah korban.

Pada persidangan Kamis (19/5/2022), Shyshimarin juga sempat dipertemukan dengan Kateryna yang merupakan suami Oleksandr Shelipov.

Diketahui Shysimarin dan Kateryna sempat berbincang sebelum akhirnya Shysimarin memohon minta diampuni.

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, berikut adalah percakapan yang terjadi antara Shysimarin dan Kateryna.

"Jelaskan kepada saya apa yang kamu rasakan ketika kamu membunuh suami saya? Apakah kamu menyesali kejahatan ini?" kata Kateryna.

"Saya mengaku bersalah. Saya memahami Anda tidak akan bisa memaafkan saya. Saya memohon pengampunan," ujar Shysimarin.

Tak menanggapi permohonan Shysimarin, Kateryna kembali menanyakan hal lain.

"Mohon jelaskan, mengapa Anda datang ke sini? Untuk melindungi kita? Dari siapa? Dari suami saya yang Anda bunuh?" sindir Kateryna. (TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr Zelensky
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved