Konflik Rusia Vs Ukraina
Resign Kerja demi Bantu Ukraina, Warga Inggris Lihat Hal Mengerikan Terjadi pada Prajurit Perang
Tiga warga asal Inggris mengaku melihat langsung kengerian dalam konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
Konflik di Ukraina dapat mengubah itu, kata para ahli, dan menandai dimulainya undang-undang yang lebih kuat tentang hubungan antara konflik, kerusakan lingkungan, dan penderitaan manusia.
Baca juga: Tak akan Kembali, McDonalds Jual 850 Bisnis Restorannya di Rusia Buntut Invasi ke Ukraina
Baca juga: Ancaman Baru Rusia jika Swedia dan Finlandia Gabung NATO, Bakal Kerahkan Nuklir ke Perbatasan Eropa
Rusia dan Ukraina Gunakan Senjata Terlarang
Rusia dan Ukraina dituding sama-sama gunakan senjata terlarang dalam konflik yang makin memanas.
Bukti-bukti pelanggaran tersebut telah dikumpulkan oleh Lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) internasional.
Kedua pihak yang bertempur pun mendapat peringatan agar menghormati aturan perang demi kemanusiaan.
Dilansir TribunWow.com dari Sky News, Kamis (12/5/2022), sebuah laporan mengklaim pasukan Rusia telah berulang kali menggunakan munisi tandan alias peluru cluster dalam serangan yang menewaskan warga sipil dan merusak rumah, rumah sakit dan sekolah.
Bukan hanya Rusia, pasukan Ukraina tampaknya juga telah menggunakan munisi tandan setidaknya sekali.
Human Rights Watch mengatakan telah mendokumentasikan beberapa serangan cluster oleh pasukan Rusia di daerah berpenduduk di kota Chernihiv, Kharkiv, Mykolaiv, dan Vuhledar.
Pihaknya menegaskan kedua negara itu harus berhenti menggunakan senjata terlarang itu.
"Mereka harus berkomitmen untuk bergabung dengan perjanjian internasional yang melarang munisi tandan," bunyi pernyataan tersebut yang dibagikan pada hari Rabu (11/5/2022).
Laporan setebal 20 halaman berjudul 'Intense and Lasting Harm: Cluster Munition Attacks in Ukraina', merinci bagaimana angkatan bersenjata Rusia telah menggunakan setidaknya enam jenis munisi tandan dalam konflik di Ukraina.
Munisi tandan dapat ditembakkan dari tanah dengan sistem artileri seperti roket dan proyektil atau dijatuhkan dari pesawat.
Mereka biasanya menyebar di udara, menyebarkan beberapa submunisi atau 'bom' tanpa pandang bulu di atas area seukuran blok kota.
Banyak yang gagal meledak pada dampak awal, meninggalkan sisa-sisa berbahaya yang dapat membunuh dan melukai, seperti ranjau darat, selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun kecuali dibersihkan dan dihancurkan.
Bom tersebut telah dilarang digunakan oleh traktat internasional karena efeknya yang berkepanjangan.(TribunWow.com/Anung/Via)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/tentara-di-perbatasan-gaza.jpg)