Konflik Rusia Vs Ukraina
Membabi Buta Tembaki Warga Ukraina, Tentara Rusia Disebut Bawa Truk Khusus untuk Angkut Mayat
Anggota kepolisian di Ukraina menyebut tentara Rusia secara membabi buta menembaki warga sipil tanpa pandang bulu di Borodyanka.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Seluruh kasus tersebut adalah pembunuhan warga sipil yang dilakukan oleh tentara Rusia.
Venediktova juga sempat mengidentifikasi 10 tentara Rusia yang diduga terlibat dalam pembantaian warga sipil di Bucha.
Sebelumnya, sebuah tudingan disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace kepada Rusia.
Wallace menuduh pasukan militer Rusia menggunakan alat kremasi berjalan untuk menutupi kejahatan perang Rusia selama melakukan invasi di Ukraina.
Ia menyebut sejak Februari lalu pihak Rusia menolak untuk menyampaikan kebenaran seputar konflik di Ukraina.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, tudingan tersebut disampaikan oleh Wallace dalam pidato di London pada Senin (9/5/2022).
"Mempertimbangkan fakta adanya alat kremasi berjalan berkeliaran di sekitar medan perang bukan hanya untuk menutupi kejahatan perang Rusia, juga untuk jasad tentara mereka," kata Wallace.
Sebelumnya, informasi serupa sempat disampaikan mantan direktur jenderal Royal United Services Institute (RUSI), Michael Clarke.
Dilansir TribunWow.com dari Sky News, Rabu (9/3/2022), disebutkan dalam deretan konvoi tentara Rusia, terdapat kendaraan yang membawa krematorium bergerak.
Alat tersebut difungsikan untuk menghilangkan jejak para tentara Rusia yang gugur di Ukraina.
"Rusia membawa krematorium bersama mereka, krematorium bergerak. Jenazah akan dikremasi di tempat mereka jatuh," kata Clarke.
"Para tentara yang meninggal tidak akan dikembalikan ke rumah, tetapi ibu mereka akan bertanya-tanya di mana keberadaan mereka."
Pihak Ukraina mengatakan Rusia telah kehilangan 11.000 tentara, tetapi menurut yang dapat diverifikasi menyebutkan angka itu baru mendekati 10.000 orang.
Clarke mengatakan perang ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan konflik di Afghanistan.
Saat mengirim pasukan untuk mengatasi konflik, Rusia kehilangan 15.000 tentara dalam waktu sekitar sembilan tahun.
"Hilangnya 15.000 pasukan di tahun 80-an mulai berdampak besar pada opini publik di Uni Soviet, jadi apa efek yang akna terjadi dari kehilangan 10.000 pasukan dalam 10 hari," tutur Clarke.
"Meskipun publik Rusia tidak akan banyak mendengar tentang ini, ibu-ibu tidak tahu apa yang terjadi pada putra mereka."
"Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada anak-anak ini karena tidak ada yang dibawa kembali."
Rusia yang disebut salah mengkalkulasi strategi, terus kehilangan pasukannya.
Clarke pun memprediksi pihak Rusia akan kehabisan pasukan hingga segera mengirim tentara tambahan.
"Saat ini, mereka akan kehabisan pasukan yang tersedia, karena mereka menyediakan sekitar 190.000 pasukan untuk operasi ini," terang Clarke.
"Dan mereka semua sekarang ada di sana. Akan ada beberapa ribu yang ditahan, tapi tidak banyak."
"Jadi mereka lebih dari 90% berkomitmen untuk operasi ini."
Rusia diperkirakan akan mengirim lebih banyak pasukan dari timur jauh yang sepertinya akan tiba dalam empat atau lima hari.
"Masalah yang dihadapi Rusia adalah mencoba menduduki negara yang tidak menginginkannya di sana," kata Clarke.
Selain itu, Rusia akan kekurangan pasukan yang harus berjaga di wilayah yang akan diduduki.
Seperti yang terlihat ketika saat ini Rusia berhasil merebut kota Kherson, namun tak bisa memegang kontrol.
"Mereka memiliki tiga sumbu serangan utama: melalui Kiev, di selatan di Mariupol, untuk terhubung dengan utara, dan di barat menuju Odesa," ujar Clarke.
"Semua lini serangan itu sekarang kehabisan tenaga, karena mereka harus meninggalkan begitu banyak pasukan, dan mereka tidak benar-benar memegang kendali."
"Satu-satunya kota yang mereka miliki adalah Kherson di selatan, dan mereka juga tidak benar-benar mengendalikannya." (TribunWow.com/Anung/Via)